febria tri hidayati
Impian tidak akan menggerakan seseorang untuk maju, alasan kuat dibalik impian itulah yg menggerakannya..
febria tri hidayati
sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya..
febria tri hidayati
Saya hanyalah seorang manusia, tetapi saya adalah seseorang. Saya tidak dapat melakukan segalanya, tetapi saya dapat melakukan sesuatu. Saya tidak akan menolak melakukan sesuatu yang dapat saya lakukan. (Helen Keller).
Minggu, 24 Mei 2015
PRIORITAS KEBUTUHUAN BELAJAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Dalam penentuan prioritas, aspek
penilaian dan kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan
unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian
dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah. Namun,
penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan
langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan
secara jelas. Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas dalah
menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat
berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda
pula. Terlalu sering kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak
pada satu dimensi.
Langkah utama dan pertama dalam
mengelola program pembelajaran atau pemberdayaan masyarakat adalah menemukenali
atau menjajagi dan mengetahui kebutuhn belajar kelompok sasaran dan sejauh mana
kebutuhan tersebut dipenuhi. Seterusnya mengungkap sumber belajar potensial
yang dimungkinkan dapat mendukung keberlangsungan program yang dibuat. Langkah
ini merupakan langkah yang bersifat mutlak dan esensial. Langkah ini merupakan
langkah yang paling kritis dan akan menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Mengingat pentingnya langkah ini, maka dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar
perlu perhatian dan persiapan yang serius sehingga program pembelajaran yang
dirancang memberi manfaat yang fungsional bagi kelompok sasaran. Kata
“kebutuhan” menunjukkan adanya sesuatu yang kurang. Sedangkan kata “program
pembelajaran” menunjukkan bahwa “kekurangan” tersebut dapat dipenuhi melalui
perancangan kegiatan pembelajaran tertentu.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Dari
latar belakang diatas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
saja kategori di dalam kebutuhan belajar ?
2. Bagaimana
proses penetapan prioritas kebutuhan belajar ?
1.3.TUJUAN
Dari
rumusan masalah diatas kita dapat mengetahui tujuannya sebagai berikut :
1. Mahasiswa
dapat mengetahui kategori-kategori didalam kebutuhan belajar.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui proses-proses penetapan prioritas kebutuhan belajar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Kategori didalam Kebutuhan Belajar
Secara garis besar dapat dikatakan
bahwa kebutuhan belajar adalah selisih antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang diharapkan atau diminta dengan pengetahuan,sikap dan
keterampilan yang telah dimiliki oleh seseorang atau selisih diantara prestasi
yang diminta dengan prestasi yang telah dicapai. Kebutuhan belajar pada
dasarnya terbagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat atau jenjang sebagai
berikut :
a.
Kebutuhan
belajar tingkat Organisai/Lembaga/masyarakat
Secara
umum, kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat didasarkan pada adanya
tujuan lembaga/organisasi/masyarakat yang bersangkutan. Pertanyaan yang muncul
sehubungan dengan kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat yaitu mencoba
untuk membandingkan “capaian lembaga/organiasi/masyarakat” dengan tujuan yang
diharapkan, kelemahan apa yang ditemukan sehingga tujuan lembaga/organisasi/masyarakat
tidak tecapai.
b.
Kebutuhan
pada tingkat individu
Kebutuhan ini menentukan “siapa”
membutuhkan pemenuhan lebutuhan belajar “apa”,
yaitu mencoba untuk menemukan adanya
kesenjangan antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan pada setiap individu yang dimiliki sekarang
dengan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang dituntut agar
dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi
2.2.Proses Penetapan Prioritas
Kebutuhan Belajar
a)
Menghitung
dan mentabulasi jawaban responden
Kartu
SKBM, questionaire, wawancara, hasil proses kelompok, indikator sosial, atau
proyeksi masa depan yang sudah terkumpul, di chek dan dilihat apakah masih ada
yang keliru mengisi atau menjawab pertanyaan yang ada, setelah itu lalu
dilakukan penghitungan.
b)
Menentukan
prioritas
Setelah
data kebutuhan dan sumber belajar dilakukan penghitungan dan ditabulasi dalam
tabel-tabel,langkah berikutnya adalah menentukan urutan dan prioritas kebutuhan
sumber blajar. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas kebutuhan dan
sumber belajar. Dalam memprioritaskan kebutuhan belajar untuk segera dipenuhi
hendaknya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut :
*Ditinjau
dari peminat/warga belajar;
*Ditinjau
dari segi manfaat kebutuhan belajar tersebut, baik bagi kepentingan
individu/keluarga, maupun untuk kepentingan pembangunan masyarakat daerah.
*Ditinjau
dari segi kelengkapan adanya sumber belajar(manusiawi), dana, sarana,
alat/bahan, tempat belajar dan lain-lain sumber yang menunjang terjadinya
proses kegiatan pembelajaran.
c)
Menjodohkan
kebutuhan dan sumber belajar
Langkah
pertama dalam menjodohkan ini adalah memilih kebutuhan belajar dengan
mempertimbangkan kriteria seperti dikemukakan pada langkah penetapan prioritas
diatas, lalu mencarikan sumber belajarnya. Semua kebutuhan dikelompokkan lalu dijodohkan
dengan sumber belajar yang cocok, dan selanjutnya menetapkan komponen pendukung
yang terkat dengan keberlangsungan program pembelajaran, seperti warga belajar,
tempat kegiatan pembelajaran, sarana belajar, dana belajarnya dan waktu proses
kegiatan belajarnya.
Apabila
kegiatan perjodohan sudah dilakukan maka tindakan selanjutnya adalaah merancang
program pembelajaran dan membentuk kelompok belajar. Dalam tahap perjodohan
inipun dapat diketahui pelajaran-pelajaran tambahan apa yang diingini oleh waga
belajar dan masyarakat.
d)
Menyimpulkan
Hal-hal
yang perlu dilakukan dalam menyimpulkan ini adalah menarik kesimpulan hasil
identifiksi kebutuhan dan sumber belajar didaerah itu. Pada proses penyimpulan
ini dipaparkan secara deskriptif dan selengkap mungkin hasil seluruh kegiatan
dan kejadian atau yang mungkin akan terjadi apabila kelompok belajar itu
didirikan. Sehingga dengan melihat dan memahami kesimpulan yang telah
dipaparkan, orang dapat mengetahui dan meramalkan kegiatan yang akan datang
untuk daerah itu. Selain itu diharapkan para pengambil kebijakan atau pimpinan
yang berwenang mendirikan kelompok belajar di daerah itu dapat secara tepat dan
cermat menyusun program pembelajaran sesuai kebutuhan belajar dan didukung
adanya potensi sumberdaya lokal yang memadai.
e)
Membentuk
kelompok belajar
Pembentukan
kelompok belajar harus sesuai dengan program yang telah disusun berdasarkan
keebutuhan belajar dan kesempatan sumber
belajar yang tersedia. Selain itu agar kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal
dapat berjalan dengan lancar harus berpegang pada 10 patokan pendidikan
nonformal,sehingga dalam kegiatannya tidak banyak mengalami hambatan yang
berarti. Kesepuluh patokan pendidikan nonformal tersebut adalah :
o
Warga
belajar , bagaimana minat warga belajar serta keadaannya.
Minat warga belajar besar atau kecil, keadaannya seperti kondisi sosial
ekonominya kuat atau tidaknya sehingga mempengaruhi berjalannya kelompok
belajar. Karena apabila kelompok belajar sudah berjalan kemudian berhenti
disebabkan warga belajar lebih mementingkan mencari nafkah atau alasan lain,
keberlangsungan proses pembelajaran yang terjadi pada kelompok belajar akan
tersendat-sendat.
o
Kelompok
belajar, berapa banyaknya anggota yang turut dalam kelompok
belajar itu. Mencukupi atau tidak. Kelompok belajar yang disyaratkan adalah
minimal 10 orang tiap kelompok.
o
Sumber
belajar(manusiawi), hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
sumber belajar adalah: bagaimana latar belakangnya? Pendidikannya,
latihan-latihan yang pernah diterima/diikuti, penataran yang pernah
diterima-berapa lama-dan lain-lain, dapatkah sumber belajar memotivasi warga
belajar? Bagaimana waktu yang bisa tersedia untuk kegiatan belajar? Dan
sebaganya.
o
Program
belajar, apa yang ingin dicapai dengan kegiatan belajar itu,
berapa lama dapat dicapai, kapan harus dimulai dan kapan aan berakhir,
bagaimmana persiapan proses pembelajarannya serta apa tolok ukurnya?
o
Sarana
belajar, dalam kelompok belajar itu sarana-sarana apa saja
yang diadakan? Ada sarana pokok, ada sarana penunjang, sarana bagi sumber
belajar dan sarana administrasi apa saja yang diperlukan.
o
Pamong
belajar, keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan
oleh kualitas atau kemampuan pamong belajar. Peran pamong belajar sebagai
pendidik pendidikan nonformal lebih banyak menciptakan suasana, memberi makna
pada pengalaman belajar, memancing ungkapan pengalaman, memberi umpan balik,
dan membantu membuat generalisasi.
o
Panti
belajar, tempat-tempat yang dimunginkan untuk panti belajar
perlu diteliti lebih dahulu keadaannya agar tidak mengecewakan kalau sudah
terlanjur berjalan.
o
Ragi
belajar, apa saja yang diperkirakan dapat mendorong
keberhasilan kegiatan belajar tersebut. Metode apa saja yang dapat digunakan
dalam kegiatan sehingga dapat meningkatkan semangat belajar warga belajar.
Menentukan siapa-siapa yang mempunyai kesempatan untuk mengunjungi kelompok
belajar sehingga bisa membangkitkan semangat belajar para warga belajar.
o
Dana
belajar, sudah adakah dana yang bisa dipakai untuk kegiatan
kelompok belajar yang akan diadakan? Kalau sudah ada,dari mana sumbernya,
bagaimana cara pemakaiannya, dan sebagainya.
o
Hasil
belajar, bagaimana akhir kegiatan kelompok belajar itu,
bagaimana hasil yang dicapai, perlukah diadakan test atau ujian, tanda
penghargaan dan sebagainya. Semuanya itu demi pemeliharaan semangat warga
belajar agar tidak hanya bersemangat pada waktu mengikuti kelompok belajar
saja. Dengan adanya tanda penghargaan bagi orang dewasa merupakan kebanggaan,
karena meskipun sudah berumur tetapi masih bisa belajar dengan baik.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Sutarto,Joko,
2008, Identifikasi Kebutuhan dan Sumber Belajar Pendidikan Nonformal,
Semarang: UNNES Press
KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELEGENCY)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah sebuah proses
memberikan lingkungan agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan
untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan tersebut dapat
berupa kemampuan kognitif yakni mengasah pengetahuan, kemampuan afektif
mengasah kepekaan perasaan, dan kemampuan psikomotorik yakni keterampilan
melakukan sesuatu.
Akan tetapi kenyataan yang terjadi
kini, kemampuan seseorang di luar sekolah sangat kompleks. Kemampuan-kemampuan
tersebut disamping kemampuan yang ada pada dirinya secara internal juga
kemampuan yang ada di luar dirinya secara eksternal. Sebagai contoh kemampuan
seorang individu untuk melakukan kerjasama dengan orang lain berpartisipasi
dalam satu kelompok kini menjadi bagian penting bila individu ingin sukses
meraih apa yang ia inginkan. Ini artinya bahwa kemampuan-kemampuan yang
dibatasi selama ini sudah saatnya dirubah dan dikembangkan sesuai dengan
tuntutan dunia luar sekolah.
Dalam dunia pendidikan anak usia
dini, seorang pendidik dituntut mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta
didik. Maka dalam pembelajaran di kelas seorang pendidik menerapkan berbagai
model pembelajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran. Namun, pencapaian
tujuan pembelajaran tentunya pendidik tidak mengabaikan perbedaan potensi yang
dimiliki setiap anak. Dalam teori multiple intelligences sangat bagus
dan sesuai untuk diaplikasikan dalam pembelajaran anak usia dini. Hal ini
disebabkan pada masa usia dini merupakan masa yang sangat cemerlang untu
mengetahui berbagai perkembangan anak. Pembelajaran pada anak usia dini hendaknya didesain
menggunakan multiple intelligences sebagai stateginya. Strategi disini
sebagai langkah – langkah dalam menyampaikan materi yang disesuaikan dengan
kecenderung kecerdasaan anak. Dengan cara ini anak akan lebih mudah dan aktif
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam konsep multiple
intelligences percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh, sebab setiap anak
pasti memiliki minimal satu kecerdasan yang bisa diasah. Oleh karena itu, dalam
mengimplementasikan multiple intelligences pada kegiatan pembelajaran
anak usia dini, tentunya pendidik memandang bahwa setiap anak mempunyai gaya
belajar yang berbeda. Setiap guru harus mempunyai pandangan dan berpedoman pada
prinsip bahwa tidak ada anak yang bodoh. Semua anak dapat belajar dan
meningkatkan prestasi belajarnya, manakala anak telah menemukan gaya belajar
terbaiknya sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) menurut Howard Gardner? ?
2. Apa
Saja Jenis-Jenis Multiple Intelligences ?
3. Bagaimana
Implikasi Teori Multiple Intelligences Pada Pendidikan Anak Usia Dini
?
1.3.TUJUAN
1. Untuk
mengetahui konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) menurut Howard
Gardner.
2. Untuk
mengetahui jenis-jenis Multiple Intelligences .
3. Untuk
mengetahui bagaimana implikasi teori Multiple Intelligences pada
Pendidikan Anak Usia Dini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Kecerdasan Majemuk
(Multiple Intelligences) Menurut Howard Gardner
Howard Garner berpendapat bahwa
tidak ada manusia yang tidak cerdas. Garner juga menentang anggapan “cerdas”
dari sisi IQ (intellectual quotion), yang menurutnya hanya mengacu pada tiga
jenis inteligensi, yakni logiko-matematik, linguitik, dan spasial. Howard
Garner, kemudian memunculkan istilah multiple intelligences. Istilah ini
kemudian dikembangkan menjadi teori melalui penelitian yang rumit, melibatkan
banyak ahli. Inteligensi, menurut paradigma multiple
intelligences dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang mempunyai tiga
komponen utama, yaitu :
1.
Kemampuan untuk menyelesaikan masalah
yang terjadi dalam kehidupan nyata sehari-hari.
2.
Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan
baru yang dihadapi untuk diselesaikan.
3.
Kemampuan untuk menciptakan
sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya
seseorang.
Semua kemampuan tersebut dimiliki oleh semua manusia,
meskipun manusia memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkannya.
Teori multiple
intelligences adalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu
adalah penting. Teori multiple intelligences bukan hanya mengakui
perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan
penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang
normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga. Titik tekan
teori multiple intelligences adalah pada kemampuan untuk
menyelesaikan masalah dan untuk menciptakan suatu produk atau karya.
Menurut
Howard Garner, multiple intelligences memiliki karakteristik konsep
yang berbeda dengan karakteristik konsep inteligensi terdahulu. Karakteristik
yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Semua
inteligensi itu berbeda-beda, tetapi semuanya sederajat
2. Semua
inteligensi dimiliki manusia dalam kadar yang tidak persis sama
3. Terdapat
banyak indikator inteligensi dalam tiap-tiap inteligensi
4. Semua
inteligensi yang berbeda-beda tersebut akan saling bekerja sama untuk
mewujudkan aktivitas yang diperbuat manusia
5. Semua
jenis inteligensi tersebut ditemukan di seluruh atau semua lintas kebudayaan di
seluruh dunia dan kelompok usia
6. Tahap-tahap
alami dari setiap inteligensi dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar
7. Saat
seseorang dewasa, inteligensi diekspresikan melalui rentang pengejaran profesi
dan hobi
8. Ada
kemungkinan seorang anak berbeda pada kondisi “beresiko” sehingga apabila
mereka tidak memperoleh bantuan khusus, mereka akan mengalami kegagalan dalam
tugas-tugas tertentu yang melibatkan inteligensi tersebut
Multiple Intelligences adalah
berbagai ketrampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai
persoalan dalam pembelajaran. Temuan inteligensi menurut
paradigma multiple intelligences, telah mengalami perkembangan sejak
pertama kali ditemukan. Howard Gardner pada awalnya menemukan tujuh kecerdasan.
Setelah itu, berdasarkan kriteria tujuh kecerdasan, Gardner menemukan
kecerdasan yang ke-8. Delapan jenis multiple intelligences tersebut,
yaitu:
1. Kecerdasan
verbal-linguistik
2. Kecerdasan
logis-matematis
3. Kecerdasan
visual-spasial
4. Kecerdasan
berirama-musik
5. Kecerdasan
jasmaniah-kinestetik
6. Kecerdasan
interpersonal
7. Kecerdasan
intrapersonal
8. Kecerdasan
naturalistik
Selanjutnya, Walter Mckenzie dalam
bukunya Multiple Intelligences and Instructional Technology, dalam buku
ini telah terdapat satu lagi kecerdasan eksistensial sebagai salah satu bagian
dari multiple intelligences. Mike Fleetham juga dalam bukunya Multiple
Intelligences in Practice: enchancing self-esteem and learning in the
classroom merumuskan berbagai instrument, aktivitas pembelajaran, dan
profesi yang mungkin dapat dicapai bagi mereka yang memiliki kecerdasan
eksistensial yang tinggi. Pada akhirnya Howard Garner memunculkan adanya
kecerdasan yang ke-9, yaitu kecerdasan eksistensial-spiritual.
Multiple
intelligences anak didefinisikan melalui observasi terhadap perilaku,
tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan anak terhadap sesuatu, kemampuan
yang menonjol, reaksi spontan, sikap dan kesenangan.
Namun
demikian, sampai saat ini upaya mengembangkan pengukuran yang dipublikasikan
berdasarkan teori multiple intelligences Garner tersebut masih sangat
terbatas. Adapun kelompok Havard’s Project Zero, termasuk Gardner sebagai
anggotanya, telah mengembangkan beberapa bentuk assessmen yang dilandasi oleh 4
landasan utama, yaitu:
a. Assessmen
memiliki keterkaitan dengan masing-masing jenis inteligensi yang akan diukur.
b. Assessmen
hendaknya memberi peluang untuk memperoleh berbagai bentuk gambaran manifestasi
inteligensi agar lebih dapat dimengerti oleh banyak orang.
c. Assessmen
hendaknya mampu mendeteksi proses perkembangan masing-masing inteligensi.
d. Assessmen
perlu disertai dengan refleksi dan assessmen pribadi (self-assessment) untuk
dapat memberikan kesempatan belajar bagi individu yang bersangkutan.
Project Spectrum yang merupakan
kolaborasi Harvard’s Project Zero danFeldman’s Group at Tufts
University saat ini telah mengembangkan program assessmen untuk anak-anak
terutama dengan metode ‘checlist’. Melalui metode ini seorang guru dapat
mengenali sejumlah kemampuan spesifik para murid dan memperoleh gambaran
tentang keunggulan mereka dibandingkan dengan murid lainnya. Sebagai contoh,
observasi terhadap gerakan (kecerdasan kinestetik) terbagi lagi misalnya atas
kinestetik untuk olahraga dan kinestetik untuk kreatif. Kinestetik untuk
olahraga mencakup kekuatan, kelenturan, kecepatan, keseimbangan, dan lain-lain.
Sedangkan kinestetik kreatif mencakup kepekaan terhadap irama, kemampuan
berekspresi gerak, dan kemampuan mengembangkan kreativitas gerak.
Multiple Intelligences yang
mencakup sembilan kecerdasan itu pada dasarnya berisi tentang kecerdasan otak
(IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis
kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat
lahir hingga awal memasuki sekolah dan disesuaikan dengan tahap-tahap
perkembangannya.
2.2. Jenis-Jenis Multiple
Intelligences
a. Kecerdasan
Verbal-Linguistik
Kecerdasan verbal-linguistik adalah
kemampuan untuk menggunakan bahasa-bahasa termasuk bahasa ibu dan bahasa asing
untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain
(Baum, Viens, dan Slatin, 2005). Kecerdasan linguistik disebut juga kecerdasan
verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan
tertulis, serta kemampuan untuk menguasai bahasa asing.
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan linguistik tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri- Ciri Anak
Usia Dini yang Mempunyai Kecerdasan Linguistik Tinggi
|
No
|
Usia Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir- 1 tahun
|
a. Merespon jika
namanya dipanggil
b. Berceloteh atau
mengucapkan sepatah dua patah kata
|
|
2
|
1-2 tahun
|
a. Mengenal suara
orang-orang terdekatnya
b. Mampu menyebutkan
nama benda
c. Mengerti
perintah sederhana
|
|
3
|
2-3 tahun
|
a. Mampu mengenal
suara benda, binatang, atau orang lain
b. Mampu menyatakan
dalam kalimat pendek
c. Mampu
mengajukan pertanyaan sederhana
d. Tertarik gambar
warna pada buku
|
|
4
|
3-4 tahun
|
a. Mampu
mengenali dan hamper bisa menirukan berbagai suara
b. Tertarik untuk
dibacakan buku cerita
c. Mampu
mengenali nama benda dan fungsinya
|
|
5
|
4-5 tahun
|
a. Mampu mengenal
masing-masing bunyi huruf
b. Senang belajar
membaca
c. Mampu diajak
berdialog sederhana
|
|
6
|
5-6 tahun
|
a. Mampu
berbicara dengan lancer
b. Mampu bertanya lebih
banyak dan menjawab lebih kompleks
c. Mampu mengenal
bilangan dan berhitung sederhana
|
b. Kecerdasan
Logis-Matematis
Kecerdasan matematika
adalah kemampuan untuk mengeksplorasi pola-pola, kategori-kategori dan hubungan
dengan memanipulasi objek atau simbol untuk melakukan percobaan dengan cara
yang terkontrol dan teratur (Kazer, 2001). Kecerdasan matematika disebut juga
kecerdasan logis dan penalaran, karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah
dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari system kausal atau dapat memanipulasi
bilangan, kuantutas dan operasi.
Secara
sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan matematis-logis mempunyai cirri-ciri
sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak
yang Mampunyai Kecerdasan Matematis-Logis Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Mengenal
benda
b. Mengenal
warna
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Mengenal
bentu
b. Mengenal
rasa: manis, pahit, dan asam
c. Mengenal
bilangan 1 dan 2
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Mampu
mengelompokkan benda yang berbentuk sama
b. Mampu
membedakan bentuk lingkaran dan bujur sangkar
c. Mampu
membedakan rasa dan warna
d. Mengenal
bilangan hingga hitungan 5
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Mampu
membedakan bentuk dan ukuran (besar-kecil, panjang-pendek, sedikit-banyak,
dan lain-lain)
b. Mampu
mengurutkan angka satu sampai dengan sepuluh
c. Mampu
membeda-bedakan warna lebih banyak (merah-hijau, hitam-putih, dan lain-lain)
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Menunjukkan
rasa ingin tahu mengenal cara kerja sesuatu
b. Suka
membongkar mainannya sendiri untuk sekadar dilihat apa yang ada di dalamnya
dan kemudian dirangkai lagi
c. Suka
mengurut-urutkan (membuat urutan) sesuatu, dari yang paling kecil, agak
besar, hingga yang paling besar, atau sebaliknya
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
mengurutkan bilangan 1 hingga (minimal) 50
b. Senang
dengan permainan otak-atik bilangan
c. Menyukai
permaianan dalam computer
d. Dengan
mudah meletakkan benda sesuai dengan kelompoknya
|
c. Kecerdasan
Visual-Spasial
Kecerdasan
visual-spasial merupakan kecerdasan yang dikaitkan dengan bakat seni, khususnya
seni lukis dan seni arsitektur. Kecerdasan visual-spasial atau kecerdasan
gambar atau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai kemampuan
mempresepsikan dunia. Komponen inti dari kecerdasan visual-spasial
adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan
harmoni, pola dan hubungan antarunsur tersebut. Komponen inti dari kecerdasan
visual-spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian
pengamatan. Sebenarnya, kecerdasan ini erat kaitannya dengan kecerdasan
linguistik dan kecerdasan matematis-logis.
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan visual tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak
yang Mempunyai Kecerdasan Visual Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Senang
melihat gambar warna-warni
b. Sering
asyik bermain sendiri
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Menikmati
barang mainanya sendiri
b. Melihat
setiap barang mainan atau sembarang objek dalam waktu yang agak lama,
seolah-olah ia sangat memperhatikan apa yang dilihatnya
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Mampu
menggambar, membuat sketsa, dan melukis
b. Mampu
membuat barang mainan yang disenangi dengan peralatan yang ada
c. Mampu
memahami permainan teka-teki
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Mampu
membuat komposisi warna lukisannya sendiri
b. Mampu
melihat gambar atau lukisan dengan keajaman tertentu
c. Mampu
berimajinasi kreatif
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Mampu
memahami peta, gambar, skema, dan lain sebagainya
b. Mampu
berfantasi dan berimajinasi lebih kreatif
c. Mampu
membayangkan atau menggambarkan benda-benda yang pernah dilihatnya
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
menghitung dengan cara mengawang atau mencongkak
b. Mampu
membuat benda seperti yang tergambar dalam pikirannya
c. Mampu
mengarang cerita pendek
|
d. Kecerdasan
Berirama-Musik
Kecerdasan musik dalah kapasitas
berpikir dalam musik untuk mampu mendengarkan pola-pola dan mengenal, serta
mungkin memanipulasinya. Kecerdasan musikal didefinisikan sebagai kemampuan
menangani bentuk musik yang meliputi (Snyder, 1997):
1. Kemampuan
mempersepsi bentuk musikal seperti menangkap atau menikmati musik dan
bunyi-bunyi berpola nada.
2. Kemampuan
membedakan bentuk musik, seperti membedakan dan membandingkan ciri bunyi musik,
suara dan alat musik.
3. Kemampuan
mengubah bentuk musik, seperti mencipta dan memmversikan musik.
4. Kemampuan
mengekspresikan bentuk musik seperti bernyanyi, bersenandung dan bersiul-siul.
Hal ini berarti, kecerdasan musikal
meliputi kemampuan mempersepsikan dan memahami, mencipta dan menyanyikan
bentuk-bentuk musikal.
Secara
sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan musikal yang baik mempunyai
cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak yang Mempunyai
Kecerdasan Musikal Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Mendengarkan
musik
b. Mampu
bertepuk tangan
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Mampu
mendengarkan musik dan mengikuti irama
b. Mampu
bertepuk tangan mengikuti irama
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Senang
mendengarkan musik dan mengikuti irama
b. Mampu
bertepuk tangan secara bervariasi
c. Mampu
memukul-mukul benda membentuk irama
d. Senang
bernyanyi atau menari
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Senang
menari-narikan tangan jika mendengarkan musik
b. Mampu
menyanyikan cuplikan-cuplikan lagu sesuai irama
c. Mampu
bertepuk tangan membentuk irama
d. Suka
memukul-mukul benda sesuai dengan irama
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Mengenal
dan mampu menyebut nama-nama lagu popular
b. Sering
meliuk-liukkan tubuh sesuai dengan irama
c. Mampu
menepuk-nepukkan tangannya membentuk irama
d. Mampu
memainkan alat musik tertentu
e. Melukis
dengan alat bervarisasi
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
bernyanyi secara koor (kelompok)
b. Mampu
mengikuti gerak tari sebuah lagu sederhana
c. Menyanyikan
lagu diiringi musik
d. Mampu
memainkan alat musik
e. Mampu
melukis dengan alat dan bahan bervariasi
|
e. Kecerdasan
Jasmaniah-Kinestetik
Kecerdasan jasmaniah-kinestetik
adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide,
perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi
sesuatu. Kecerdasan inti dari kecerdasan kinestetik adalah kemampuan-kemampuan
fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, kemampuan menerima atau
merangsang dan hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kemampuan ini juga merupakan
kemampuan motorik halus, kepekaan sentuhan, daya tahan dan refleks (Richey,
2007).
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan kinestetik yang baik mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang
Mempunyai kecerdasan Kinestetik Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Menggerak-gerakkan
tangan
b. Mengangkat
kepala
c. Bisa
tengkurap dan membalik tanpa bantuan
d. Mampu
duduk sendiri
e. Mampu
merangkak dan berjalan pendek
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Mampu
berdiri tegap dan berjalan pendek
b. Berlari-lari
kecil
c. Naik-turun
tangga dengan berpegangan
d. Memanjat
meja atau kursi
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Mampu
berjalan dengan stabil
b. Lancer
berlari-lari
c. Mampu
menendang bola ke arah depan
d. Mampu
melompat-lompat kecil
e. Senang
bermain air
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Berjalan
dan berlari dengan penuh keseimbangan badan
b. Naik
turun tangga tanpa berpegangan
c. Memanjat
bidang miring
d. Mampu
berdiri dengan satu kaki beberapa detik
e. Bergerak
mengikuti irama music
f. Melipat
kertas dengan rapi
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Berjalan
dengan berbagai variasi (maju, mundur, dan menyamping)
b. Mampu
memanjat pohon atau tangga pendek dan bergelantungan pada ayunan
c. Mampu
menendang bola dari jarak 3 meter
d. Mampu
melompati gang atau parit atau benda lain
e. Mampu
mengayuh sepeda roda empat
f. Mampu
menggunting kertas
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
menjaga keseimbangan badan ketika berjalan di atas titian (papan kecil
meyerupai jembatan tanpa berpegangan)
b. Mampu
senam dengan gerakan
c. Mampu
melompat dengan satu atau dua kaki secara bervariasi
d. Memakai
baju (kaos) dan sepatu sederhana (tanpa tali) sendiri tanpa dibantu
e. Mampu
mengendarai sepeda roda tiga
f. Mampu
melakukan gerak acrobat
g. Mampu
menggunting kertas dan menempelkannya
|
f. Kecerdasan
Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah
kemampuan memahami pikiran, sikap, dan perilaku orang lain. Kecerdasan ini
merupakan kecerdasan indicator-indikator yang menyenangkan bagi orang lain.
Dengan memiliki kecerdasan interpersonal seorang anak dapat merasakan apa yang
dirasakan orang lain, menangkap maksud dan motivasi orang lain dalam bertindak
sesuatu, serta mampu memberikan tanggapan yang tepat sehingga orang lain merasa
nyaman. Komponen inti kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mencerna dan
menanggapi dengan tepat berbagai suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan
keinginan orang lain di samping kemampuan untuk melakukan kerja
sama. Anak-anak yang berkembang pada kecerdasan interpersonal peka
terhadap kebutuhan orang lain.
Secara Sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan interpersonal tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang
Mempunyai Kecerdasan Interpersonal Tinggi
|
No
|
Usia
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Mengamati
mainan yang digantungkan di atasnya
b. Menatap
siapa saja yang di sampingnya
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Mudah
berbaur dengan anak-anak lain ketika bermain
b. Senang
bermain secara kelompok
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Mudah
berkenalan dengan anak-anak lain
b. Senang
berada di dekat kerumunan teman-temannya
c. Memperbolehkan
mainannya dipinjamm temannya
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Senang
pinjam-meminjam atau tukar-menukar mainan dengan anak lain
b. Tidak
menangis ketika berpisah dengan orang tuanya
c. Sabar
menunggu giliran bermain
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Mau
mengalah dengan teman bermainnya
b. Tidak
menganggu temannya dengan sengaja
c. Mengerti
dan mematuhi aturan bermain dengan baik
d. Mampu
memimpin kelompok bermain kecil (2-4 anak)
e. Mampu
memecahkan masalah sederhana
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mengetahui
bagaimana caranya menunggu giliran ketika bermain
b. Berani
berangkat ke sekolah tanpa diantar
c. Tertib
menggunakan alat atau benda mainan sesuai dengan fungsinya
d. Tertib
dan terbiasa menunggu giliran atau antre
e. Memahami
akibat jika melakukan pelanggaran dan berani bertanggung jawab (tidak
menangis karena takut dihukum)
f. Mampu
memimpin kelompok bermain yang lebih besar (antara 4-8 orang)
g. Terampil
memecahkan masalah sederhana
|
g. Kecerdasan
Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah
kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya
sendiri. Kecerdasan ini merupakan pengimbangan terhadap kecerdasan
interpersonal. Jika kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan berhubungan
dengan orang lain, maka kecerdasana intrapersonal menunjukkan kemampuan untuk
berhubungan dengan dirinya sendiri.
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan intrapersonal tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang
Mempunyai Kecerdasan Interpersonal Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Senang
mengamati benda yang disentuhnya
b. Senang
bermain sendiri (mandiri)
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Bisa
mengungkapkan perasaan atau emosinya
b. Mampu
menyalurkan emosinya sendiri
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Bermain
tanpa disuruh
b. Mengembalikan
benda-benda permainan pada tempatnya
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Senang
mengajak temannya bermain
b. Senang
merenung atau berpikir ketika sendirian
c. Sering
mengungkapkan cita-citanya kepaga orang lain
|
|
5
|
4-5 tahun
|
a. Menunjukkan
sikap percaya diri yang tinggi
b. Selalu
bermain aktif, menggunakan waktu dengan baik
c. Mampu
menetapkan target bermain, misalnya menyusun balok dalam waktu 10 menit
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Selalu
bersemangat ketika bermain, mempunyai motivasi yang tinggi
b. Sering
menyendiri, berkhayal, atau berpikir
c. Sering
menunjukkan mainan kebanggaanya kepada orang lain
d. Diam
ketika marah, seolah-olah mengendalikan emosinya
|
h. Kecerdasan
Naturalistik
Menurut Sri Widayanti, kecerdasan
naturalis adalah kemampuan untuk mengenali berbagai jenis flora (tanaman),
fauna (hewan), dan fenomena alam lainnya, seperti asal usul binatang,
pertumbuhan tanaman, terjadinya tata surya, berbagai galaksi, dan lain sebagainya. Kecerdasan
ini ditambahkan oleh Howard Garner ke dalam Multiple
Intelligences pada tahun 1995, pada awalnya ia memasukkan kecerdasan ini
ke dalam kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial. Komponen inti
kecerdasan naturalis adalah kepekaan terhadap alam, keahlian membedakan
anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan
hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun informal.
Komponen kecerdasan naturalis lain
adalah perhatian dan minat mendalam terhadap alam, serta kecermatan menemukan
cirri-ciri spesies dan unsure alam yang lain. Anak-anak yang suka menyelidiki
berbagai kehidupan makhluk kecil, seperti cacing, semut, dan ulat daun.
Anak-anak suka mengamati gundukan tanah, memerika jejak binatang, mengorek-ngorek
tanah. Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi cenderung menyukai
alam terbuka, akrab dengan hewan peliharaan.
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan naturalis tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang
Mempunyai Kecerdasan Naturalis Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Tertarik
bermain di alam bebas
b. Senang
melihat gambar pemandangan alam
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Senang
mengamati dan berinteraksi sederhana dengan tanaman (terutama tanaman hias
atau bunga) dan hewan peliharaan, seperti kucing
b. Mengenali
sifat tanaman dan hewan peliharaan
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Senang
bermain dengan benda-benda alam, seperti menata batu kerikil, membuat
mobil-mobilan dari tanah liat, menggunakan uang dari daun, dll
b. Asyik
mengamati gerak-gerik binatang peliharaan, seperti ikan hias di dalam
akuarium, burunf terbang, kucing neloncat, dsb
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Mampu
membedakan objek alam sesuai dengan karakteristiknya, misalnya bisa
membedakan batu dengan kerikil, kucing dengan anjing, dan bungan dengan
tanaman pada umumnya
b. Mampu
mengenali karakteristis benda dan hewan peliharaan secara detail
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Suka
bermain cocok-tanaman
b. Senang
memelihara hewan peliharaan
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
memberi makan hewan peliharaan secara sederhana
b. Mampu
menyiram tanaman secukupnya
c. Mampu
berkreasi memperindah taman atau halaman
|
i. Kecerdasan
Eksistensial-Spiritual
Sebenarnya, kecerdasan yang ke-9
dalam system Multiple IntelligencesHoward Garner ini bukan kecerdasan
spirituall, tetapi Garner menyebutkan dengan istilah “kecerdasan eksistensial”.
Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam
kehidupan manusia dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan lain seperti
kecerdasan intelektual, emosional, dan kecerdasan social. Menurut Garner,
kata “eksistensial” mempunyai kaitan erat dengan pengalaman spiritualitas
seseorang. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengenal
dan memahami diri sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian
dari alam semesta. Kecerdasan spiritual melibatkan seperangkat kemampuan untuk
memanfaatkan sumber-sumber spiritual. Jadi, kecerdasan spiritual adalah suatu
kecerdasan yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan, makna, dan nilai
(Painton,2009).
Berdasarkan definisi yang telah
diberikan di atas, yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah kapasitas
hidup manusia yang bersumber dari hati yang dalam (inner-capacity) yang
terilhami dalam bentuk kodrat untuk dikembangkan dan ditumbuhkan dalam
mengatasi berbagai kesulitan hidup.
Secara sederhana, anak yang
mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
Tabel Ciri-Ciri Anank Usia yang
Mempunyai Kecerdasan Spiritual Tinggi
|
No
|
Usia
Anak
|
Ciri-Ciri
|
|
1
|
Lahir-1
tahun
|
a. Senang
mendengarkan music religi (islami)
b. Senang
mendengarkan senandung do’a
|
|
2
|
1-2
tahun
|
a. Mampu
menirukan sepatah dua patah kata dalam bacaan do’a
b. Menirukan
sebagian kecil dari gerakan ibadah
c. Mengenal
“nama” Tuhan (Allah)
|
|
3
|
2-3
tahun
|
a. Mengikuti
senandung lagu keagamaan
b. Menirukan
gerakan beribadah
c. Mengucapkan
salam
d. Mengikuti
cerita atau kisah Qur’an dan Nabawi
|
|
4
|
3-4
tahun
|
a. Mengikuti
bacaan do’a secara lengkap
b. Menyebutkan
contoh makhluk ciptaaan Tuhan
c. Maampu
menyebut “nama” Allah
d. Mengucapkan
kata-kata santun, seperti maaf, tolong, dll
|
|
5
|
4-5
tahun
|
a. Berdo’a
sebelum dan sesudah makan, tidur, dan aktivitas lainnya
b. Mampu
membedakan ciptaan Tuhan dan benda mainan buatan manusia
c. Membantu
pekerjaan ringan orang tuanya
d. Mengenal
sifat-sifat Allah swt. Dan mencintai Rasulullah saw.
|
|
6
|
5-6
tahun
|
a. Mampu
menghafal beberapa surah dalam al-Qur’an
b. Mampu
menghafal gerakan shalat secara sempurna
c. Mampu
menyebut beberapa sifat Allah
d. Menghormati
orang tua, menghargai teman-temannya, dan menyayangi adik-adiknya atau anak
di bawah usianya
e. Mengucapkan
syukur dan terima kasih
|
|
|
|
|
2.3. Implikasi Teori Multiple
Intelligences Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Teori dari multiple
intelligences dikembangkan sebagai penjelasan kemampuan manusia belajar
yang dapat tergantung pada tes empiris. Sebagai tambahan, teori ini tampaknya
melindungi sejumlah implikasi pendidikan yang cukup berharga untuk
diperhatikan. Tahap-tahap alami perkembangan dalam setiap kecerdasan dimulai
dengan kemampuan membuat pola dasar, misalnya, kemampuan untuk membedakan
tinggi-rendahnya nada dalam kecerdasan musik atau memahami pengaturan tiga
dimensi dalam kecerdasan ruang. Semua kemampuan ini muncul secara universal.
Kecerdasan “mentah” lebih mendominasi dalam tahun pertama kehidupan.
Karena kecerdasan dimanifestasikan
dalam cara berbeda di tingkat perkembangan berbeda, penilaian dan pemeliharaan
perlu terjadi dalam cara yang tepat. Pemeliharaan semasa balita tidak akan
tepat untuk tahap yang selanjutnya, dan sebaliknya. Beberapa implikasi untuk
pengajaran dapat ditarik dari analisis ini. Pertama, peran pengajaran dalam
kaitan dengan manifestasi perubahan kecerdasan sepanjang langkah-langkah
perkembangan. Pengajaran harus dievaluasi dengan memperhatikan tahap-tahap
perkembangan kecerdasan. Siswa mendapat manfaat dari pengajaran hanya bila
produktif atau pelatihan itu cocok dengan tempat spesifik mereka dalam kemajuan
perkembangan. Lingkungan pengajaran yang amat terstruktur dapat mempercepat
kemajuan dan menghasilkan jumlah anak cerdas yang lebih banyak, tetapi pada
akhirnya mungkin ini membatasi pilihan dan menghambat ekspresi diri.
Banyaknya pendekatan pengajaran
pendidikan usia dini (PAUD) yang berkembang saat ini diyakini mampu merangsang
seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligences) seperti pendekatan
pengajaran melalui metode BCCT(beyond centers and circle) bermain
yang terarah. Seting pembelajarannya mampu merangsang anak untuk saling aktif,
kreatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Hal ini berbeda
dengan paradigma pendidikan lama yang menghendaki siswa mengikuti perintah,
meniru atau menghafal. Kegiatan pembelajaran bermain sambil belajar integrasi
agama melalui pendekatan BCCT yang dimaksud adalah pola pengajaran yang
diterapkan dengan menggunakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan
pendekatan sentra dan saat lingkaran.
Pendekatan sentra dan lingkaran
adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam
proses pembelajarannya berpusat di sentra main (sentra persiapan, peran makro,
mikro, balok, imtaq, seni, dan sentra bahan alam), dan saat dalam lingkaran
dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan
anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi kecerdasan anak. Sentra main
adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main
yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung
perkembangan anak. Bentuk-bentuk sentra yang jika dimainkan akan mengembangkan
semua aspek kecerdasan anak:
1. Sentra
ibadah
Sentra ini adalah spiritualitas atau
keagamaan. Melalui sentra ini, anak dapat dirangsang supaya semua kemampuannya
tumbuh dan berkembang dengan memperkenalkan Tuhan, menghitung jumlah
ciptaan-Nya, merasakan secara emosional kehadiran-Nya, dan lain sebagainya yang
berhubungan dengan religiuitas.
2. Sentra
bahasa
Sentra ini akan mengemas berbagai
perkembangan kecerdasan anak melalui kecerdasan bahasa atau kosa kata anak.
Kecerdasan anak bisa dikembangkan melalui kegiatan berbicara, mendengar,
bernyanyi, berpuisi, menulis, dan bercerita. Jika yang dikatakan adalah
bilangan-bilangan, maka sentra ini secara tidak langsung mengembangkan
kecerdasan matematika.
3. Sentra
balok
Sentra ini bertujuan untuk mengasah
kecerdasan visual-spasial (kecerdasan ruang) anak. Sentra ini menyodorkan anak
agar bermain berbagai bentuk balok, seperti kubus, dadu, geometri, dan lain
sebagainya. Di samping itu, anak-anak juga sering diajak menonton film,
menggambar, dan berimajinasi.
4. Sentra
bermain peran
Sentra ini bertujuan untuk mengasah
kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, serta menumbuhkan jiwa kompetitif
pada anak. Biasanya sentra ini mengajak anak-anak bermain peran, cerita
estafet, bermain kelompok, dan lain sebagainya.
5. Sentra
seni musik
Sentra ini mengajak anak-anak untuk
bermain musik dan seni tari, sehingga anak mempunyai kecerdasan musikal yang
tinggi.
6. Sentra
ketangkasan atau kinestetik
Sentra ini bertujuan untuk mengasah
kemampuan olah tubuh atau ketangkasan anak. Biasanya, sentra ini adalah
lapangan atau ruang terbuka. Bisa juga dilakukan di alam bebas ketika karya
wisata atau taman safari.
7. Sentra
alam bebas
Sentra ini bertujuan untuk
mencerdaskan naturalis anak. Dengan kata lain, sentra ini bertujuan untuk
menumbuhkan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar.
8. Sentra
puzzle
Sentra ini dapat menumbuhkan
kecerdasan matematis-logis, linguistik, visual, spiritual, intra dan
interpersonal anak. Misalnya, potongan-potongan puzzle tersebut diberi gambar
masjid (mengasah kecerdasan spiritual anak), dimainkan berdua (mengasah
kecerdasan sosial-emosional dan interpersonal), beberapa puzzle dimainkan
secara serempak (menumbuhkan jiwa kompetisis anak), dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Multiple intelligences kini
telah banyak dikembangkan dari sejak kajian teoritis sampai pada berbagai
praktek kegiatan pendidikan dan pembelajaran baik di kelas maupun di luar
kelas. Kajian-kajian tentang pengembangan kemampuan anak
berdasarkan multiple intelligences ini diharapkan memberikan satu
nuansa baru bagaimana sebenarnya hakikat manusia dari sisi potensi, bakat, dan
kemampuannya dapat dikembangkan secara optimal. Tentu kajian ini tidak berhenti
sampai di sini saja. Lebih dari itu, masih terlalu dini untuk mengungkapkan
bahwa multiple intelligences adalah yang terbaik dalam pengembangan
kepribadian seorang anak.
3.2.SARAN
Multiple intelligences kiranya
dapat memberikan satu motivasi yang kuat, bahwa kegiatan pendidikan dan
pembelajaran perlu dikaji lebih jauh. Tulisan ini diharapkan menjadi nilai
nilai inspirasi bagi upaya peningakatan kemauan dan kemampuan dalam
memahami multile intelligencestersebut.
Demikianlah makalah ini kami susun
sebagai bahan presentasi dalam diskusi. Oleh karena banyaknya hal belum tersaji
dalam makalah ini maka di harapkan kritik dan sarannya dari peserta diskusi dan
bimbingan serta arahan dari Dosen Pengampu yang akan sangat membantu untuk
menyempurnakan makalah ini. Terima kasih dan semoga Allah melimpahkan hidayah
ilmiah kepada kita semua.Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Garner, Howard. Multiple Intelligences: Teori Dalam
Praktek. Alih Bahasa: Drs. Alexander Sindoro. Tangerang: Interaksara. 2012.





01.19
Unknown