My Melody Crying
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA FEBRIA TRI HIDAYATI TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Minggu, 24 Mei 2015

PRIORITAS KEBUTUHUAN BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
            Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah. Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas. Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas dalah menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda pula. Terlalu sering kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak pada satu dimensi.
            Langkah utama dan pertama dalam mengelola program pembelajaran atau pemberdayaan masyarakat adalah menemukenali atau menjajagi dan mengetahui kebutuhn belajar kelompok sasaran dan sejauh mana kebutuhan tersebut dipenuhi. Seterusnya mengungkap sumber belajar potensial yang dimungkinkan dapat mendukung keberlangsungan program yang dibuat. Langkah ini merupakan langkah yang bersifat mutlak dan esensial. Langkah ini merupakan langkah yang paling kritis dan akan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Mengingat pentingnya langkah ini, maka dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar perlu perhatian dan persiapan yang serius sehingga program pembelajaran yang dirancang memberi manfaat yang fungsional bagi kelompok sasaran. Kata “kebutuhan” menunjukkan adanya sesuatu yang kurang. Sedangkan kata “program pembelajaran” menunjukkan bahwa “kekurangan” tersebut dapat dipenuhi melalui perancangan kegiatan pembelajaran tertentu.

1.2.RUMUSAN MASALAH
            Dari latar belakang diatas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja kategori di dalam kebutuhan belajar ?
2.      Bagaimana proses penetapan prioritas kebutuhan belajar ?

1.3.TUJUAN
            Dari rumusan masalah diatas kita dapat mengetahui tujuannya sebagai berikut :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui kategori-kategori didalam kebutuhan belajar.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui proses-proses penetapan prioritas kebutuhan belajar







BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Kategori didalam Kebutuhan Belajar
            Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kebutuhan belajar adalah selisih antara pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan atau diminta dengan pengetahuan,sikap dan keterampilan yang telah dimiliki oleh seseorang atau selisih diantara prestasi yang diminta dengan prestasi yang telah dicapai. Kebutuhan belajar pada dasarnya terbagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat atau jenjang sebagai berikut :
a.      Kebutuhan belajar tingkat Organisai/Lembaga/masyarakat
Secara umum, kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat didasarkan pada adanya tujuan lembaga/organisasi/masyarakat yang bersangkutan. Pertanyaan yang muncul sehubungan dengan kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat yaitu mencoba untuk membandingkan “capaian lembaga/organiasi/masyarakat” dengan tujuan yang diharapkan, kelemahan apa yang ditemukan sehingga tujuan lembaga/organisasi/masyarakat tidak tecapai.
b.      Kebutuhan pada tingkat individu
            Kebutuhan ini menentukan “siapa” membutuhkan pemenuhan lebutuhan belajar “apa”,
            yaitu mencoba untuk menemukan adanya kesenjangan antara pengetahuan, sikap dan
            keterampilan  pada setiap individu yang dimiliki sekarang dengan pengetahuan, sikap,
            dan keterampilan yang dituntut agar dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi

2.2.Proses Penetapan Prioritas Kebutuhan Belajar
a)      Menghitung dan mentabulasi jawaban responden
Kartu SKBM, questionaire, wawancara, hasil proses kelompok, indikator sosial, atau proyeksi masa depan yang sudah terkumpul, di chek dan dilihat apakah masih ada yang keliru mengisi atau menjawab pertanyaan yang ada, setelah itu lalu dilakukan penghitungan.
b)     Menentukan prioritas
Setelah data kebutuhan dan sumber belajar dilakukan penghitungan dan ditabulasi dalam tabel-tabel,langkah berikutnya adalah menentukan urutan dan prioritas kebutuhan sumber blajar. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas kebutuhan dan sumber belajar. Dalam memprioritaskan kebutuhan belajar untuk segera dipenuhi hendaknya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut :
*Ditinjau dari peminat/warga belajar;
*Ditinjau dari segi manfaat kebutuhan belajar tersebut, baik bagi kepentingan individu/keluarga, maupun untuk kepentingan pembangunan masyarakat daerah.
*Ditinjau dari segi kelengkapan adanya sumber belajar(manusiawi), dana, sarana, alat/bahan, tempat belajar dan lain-lain sumber yang menunjang terjadinya proses kegiatan pembelajaran.
c)      Menjodohkan kebutuhan dan sumber belajar
Langkah pertama dalam menjodohkan ini adalah memilih kebutuhan belajar dengan mempertimbangkan kriteria seperti dikemukakan pada langkah penetapan prioritas diatas, lalu mencarikan sumber belajarnya. Semua kebutuhan dikelompokkan lalu dijodohkan dengan sumber belajar yang cocok, dan selanjutnya menetapkan komponen pendukung yang terkat dengan keberlangsungan program pembelajaran, seperti warga belajar, tempat kegiatan pembelajaran, sarana belajar, dana belajarnya dan waktu proses kegiatan belajarnya.
Apabila kegiatan perjodohan sudah dilakukan maka tindakan selanjutnya adalaah merancang program pembelajaran dan membentuk kelompok belajar. Dalam tahap perjodohan inipun dapat diketahui pelajaran-pelajaran tambahan apa yang diingini oleh waga belajar dan masyarakat.
d)     Menyimpulkan
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menyimpulkan ini adalah menarik kesimpulan hasil identifiksi kebutuhan dan sumber belajar didaerah itu. Pada proses penyimpulan ini dipaparkan secara deskriptif dan selengkap mungkin hasil seluruh kegiatan dan kejadian atau yang mungkin akan terjadi apabila kelompok belajar itu didirikan. Sehingga dengan melihat dan memahami kesimpulan yang telah dipaparkan, orang dapat mengetahui dan meramalkan kegiatan yang akan datang untuk daerah itu. Selain itu diharapkan para pengambil kebijakan atau pimpinan yang berwenang mendirikan kelompok belajar di daerah itu dapat secara tepat dan cermat menyusun program pembelajaran sesuai kebutuhan belajar dan didukung adanya potensi sumberdaya lokal yang memadai.
e)      Membentuk kelompok belajar
Pembentukan kelompok belajar harus sesuai dengan program yang telah disusun berdasarkan keebutuhan belajar dan kesempatan  sumber belajar yang tersedia. Selain itu agar kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal dapat berjalan dengan lancar harus berpegang pada 10 patokan pendidikan nonformal,sehingga dalam kegiatannya tidak banyak mengalami hambatan yang berarti. Kesepuluh patokan pendidikan nonformal tersebut adalah :
o   Warga belajar , bagaimana minat warga belajar serta keadaannya. Minat warga belajar besar atau kecil, keadaannya seperti kondisi sosial ekonominya kuat atau tidaknya sehingga mempengaruhi berjalannya kelompok belajar. Karena apabila kelompok belajar sudah berjalan kemudian berhenti disebabkan warga belajar lebih mementingkan mencari nafkah atau alasan lain, keberlangsungan proses pembelajaran yang terjadi pada kelompok belajar akan tersendat-sendat.
o   Kelompok belajar, berapa banyaknya anggota yang turut dalam kelompok belajar itu. Mencukupi atau tidak. Kelompok belajar yang disyaratkan adalah minimal 10 orang tiap kelompok.
o   Sumber belajar(manusiawi), hal-hal yang perlu diperhatikan untuk sumber belajar adalah: bagaimana latar belakangnya? Pendidikannya, latihan-latihan yang pernah diterima/diikuti, penataran yang pernah diterima-berapa lama-dan lain-lain, dapatkah sumber belajar memotivasi warga belajar? Bagaimana waktu yang bisa tersedia untuk kegiatan belajar? Dan sebaganya.
o   Program belajar, apa yang ingin dicapai dengan kegiatan belajar itu, berapa lama dapat dicapai, kapan harus dimulai dan kapan aan berakhir, bagaimmana persiapan proses pembelajarannya serta apa tolok ukurnya?
o   Sarana belajar, dalam kelompok belajar itu sarana-sarana apa saja yang diadakan? Ada sarana pokok, ada sarana penunjang, sarana bagi sumber belajar dan sarana administrasi apa saja yang diperlukan.
o   Pamong belajar, keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan pamong belajar. Peran pamong belajar sebagai pendidik pendidikan nonformal lebih banyak menciptakan suasana, memberi makna pada pengalaman belajar, memancing ungkapan pengalaman, memberi umpan balik, dan membantu membuat generalisasi.
o   Panti belajar, tempat-tempat yang dimunginkan untuk panti belajar perlu diteliti lebih dahulu keadaannya agar tidak mengecewakan kalau sudah terlanjur berjalan.
o   Ragi belajar, apa saja yang diperkirakan dapat mendorong keberhasilan kegiatan belajar tersebut. Metode apa saja yang dapat digunakan dalam kegiatan sehingga dapat meningkatkan semangat belajar warga belajar. Menentukan siapa-siapa yang mempunyai kesempatan untuk mengunjungi kelompok belajar sehingga bisa membangkitkan semangat belajar para warga belajar.
o   Dana belajar, sudah adakah dana yang bisa dipakai untuk kegiatan kelompok belajar yang akan diadakan? Kalau sudah ada,dari mana sumbernya, bagaimana cara pemakaiannya, dan sebagainya.
o   Hasil belajar, bagaimana akhir kegiatan kelompok belajar itu, bagaimana hasil yang dicapai, perlukah diadakan test atau ujian, tanda penghargaan dan sebagainya. Semuanya itu demi pemeliharaan semangat warga belajar agar tidak hanya bersemangat pada waktu mengikuti kelompok belajar saja. Dengan adanya tanda penghargaan bagi orang dewasa merupakan kebanggaan, karena meskipun sudah berumur tetapi masih bisa belajar dengan baik.






















BAB III
PENUTUP

3.1.KESIMPULAN
           





























DAFTAR PUSTAKA

Sutarto,Joko, 2008, Identifikasi Kebutuhan dan Sumber Belajar Pendidikan Nonformal, Semarang: UNNES Press


KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELEGENCY)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
            Pendidikan adalah sebuah proses memberikan lingkungan agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan kognitif yakni mengasah pengetahuan, kemampuan afektif mengasah kepekaan perasaan, dan kemampuan psikomotorik yakni keterampilan melakukan sesuatu.
            Akan tetapi kenyataan yang terjadi kini, kemampuan seseorang di luar sekolah sangat kompleks. Kemampuan-kemampuan tersebut disamping kemampuan yang ada pada dirinya secara internal juga kemampuan yang ada di luar dirinya secara eksternal. Sebagai contoh kemampuan seorang individu untuk melakukan kerjasama dengan orang lain berpartisipasi dalam satu kelompok kini menjadi bagian penting bila individu ingin sukses meraih apa yang ia inginkan. Ini artinya bahwa kemampuan-kemampuan yang dibatasi selama ini sudah saatnya dirubah dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dunia luar sekolah.
            Dalam dunia pendidikan anak usia dini, seorang pendidik dituntut mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik. Maka dalam pembelajaran di kelas seorang pendidik menerapkan berbagai model pembelajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran. Namun, pencapaian tujuan pembelajaran tentunya pendidik tidak mengabaikan perbedaan potensi yang dimiliki setiap anak. Dalam teori multiple intelligences sangat bagus dan sesuai untuk diaplikasikan dalam pembelajaran anak usia dini. Hal ini disebabkan pada masa usia dini merupakan masa yang sangat cemerlang untu mengetahui berbagai perkembangan anak.           Pembelajaran pada anak usia dini hendaknya didesain menggunakan multiple intelligences sebagai stateginya. Strategi disini sebagai langkah – langkah dalam menyampaikan materi yang disesuaikan dengan kecenderung kecerdasaan anak. Dengan cara ini anak akan lebih mudah dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
            Dalam konsep multiple intelligences percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh, sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kecerdasan yang bisa diasah. Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan multiple intelligences pada kegiatan pembelajaran anak usia dini, tentunya pendidik memandang bahwa setiap anak mempunyai gaya belajar yang berbeda. Setiap guru harus mempunyai pandangan dan berpedoman pada prinsip bahwa tidak ada anak yang bodoh. Semua anak dapat belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya, manakala anak telah menemukan gaya belajar terbaiknya sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki.









1.2.RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) menurut Howard Gardner? ?
2.      Apa Saja Jenis-Jenis Multiple Intelligences ?
3.      Bagaimana Implikasi Teori Multiple Intelligences Pada Pendidikan Anak Usia Dini ?



1.3.TUJUAN
1.      Untuk mengetahui konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) menurut Howard Gardner.
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis Multiple Intelligences .
3.      Untuk mengetahui bagaimana implikasi teori Multiple Intelligences pada Pendidikan Anak Usia Dini.






























BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) Menurut Howard Gardner
            Howard Garner berpendapat bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas. Garner juga menentang anggapan “cerdas” dari sisi IQ (intellectual quotion), yang menurutnya hanya mengacu pada tiga jenis inteligensi, yakni logiko-matematik, linguitik, dan spasial. Howard Garner, kemudian memunculkan istilah multiple intelligences. Istilah ini kemudian dikembangkan menjadi teori melalui penelitian yang rumit, melibatkan banyak ahli. Inteligensi, menurut paradigma multiple intelligences dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang mempunyai tiga komponen utama, yaitu :
1.      Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata sehari-hari.
2.       Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru yang dihadapi untuk diselesaikan.
3.       Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
            Semua kemampuan tersebut dimiliki oleh semua manusia, meskipun manusia memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkannya.
                Teori multiple intelligences adalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Teori multiple intelligences bukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga. Titik tekan teori multiple intelligences adalah pada kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan untuk menciptakan suatu produk atau karya.
            Menurut Howard Garner, multiple intelligences memiliki karakteristik konsep yang berbeda dengan karakteristik konsep inteligensi terdahulu. Karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Semua inteligensi itu berbeda-beda, tetapi semuanya sederajat
2.      Semua inteligensi dimiliki manusia dalam kadar yang tidak persis sama
3.      Terdapat banyak indikator inteligensi dalam tiap-tiap inteligensi
4.      Semua inteligensi yang berbeda-beda tersebut akan saling bekerja sama untuk mewujudkan aktivitas yang diperbuat manusia
5.      Semua jenis inteligensi tersebut ditemukan di seluruh atau semua lintas kebudayaan di seluruh dunia dan kelompok usia
6.      Tahap-tahap alami dari setiap inteligensi dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar
7.      Saat seseorang dewasa, inteligensi diekspresikan melalui rentang pengejaran profesi dan hobi
8.      Ada kemungkinan seorang anak berbeda pada kondisi “beresiko” sehingga apabila mereka tidak memperoleh bantuan khusus, mereka akan mengalami kegagalan dalam tugas-tugas tertentu yang melibatkan inteligensi tersebut
            Multiple Intelligences adalah berbagai ketrampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam pembelajaran. Temuan inteligensi menurut paradigma multiple intelligences, telah mengalami perkembangan sejak pertama kali ditemukan. Howard Gardner pada awalnya menemukan tujuh kecerdasan. Setelah itu, berdasarkan kriteria tujuh kecerdasan, Gardner menemukan kecerdasan yang ke-8. Delapan jenis multiple intelligences tersebut, yaitu:
1.      Kecerdasan verbal-linguistik
2.      Kecerdasan logis-matematis
3.      Kecerdasan visual-spasial
4.      Kecerdasan berirama-musik
5.      Kecerdasan jasmaniah-kinestetik
6.      Kecerdasan interpersonal
7.      Kecerdasan intrapersonal
8.      Kecerdasan naturalistik
            Selanjutnya, Walter Mckenzie dalam bukunya Multiple Intelligences and Instructional Technology, dalam buku ini telah terdapat satu lagi kecerdasan eksistensial sebagai salah satu bagian dari multiple intelligences. Mike Fleetham juga dalam bukunya Multiple Intelligences in Practice: enchancing self-esteem and learning in the classroom merumuskan berbagai instrument, aktivitas pembelajaran, dan profesi yang mungkin dapat dicapai bagi mereka yang memiliki kecerdasan eksistensial yang tinggi. Pada akhirnya Howard Garner memunculkan adanya kecerdasan yang ke-9, yaitu kecerdasan eksistensial-spiritual.
            Multiple intelligences anak didefinisikan melalui observasi terhadap perilaku, tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan anak terhadap sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan, sikap dan kesenangan.
Namun demikian, sampai saat ini upaya mengembangkan pengukuran yang dipublikasikan berdasarkan teori multiple intelligences Garner tersebut masih sangat terbatas. Adapun kelompok Havard’s Project Zero, termasuk Gardner sebagai anggotanya, telah mengembangkan beberapa bentuk assessmen yang dilandasi oleh 4 landasan utama, yaitu:
a.       Assessmen memiliki keterkaitan dengan masing-masing jenis inteligensi yang akan diukur.
b.      Assessmen hendaknya memberi peluang untuk memperoleh berbagai bentuk gambaran manifestasi inteligensi agar lebih dapat dimengerti oleh banyak orang.
c.       Assessmen hendaknya mampu mendeteksi proses perkembangan masing-masing inteligensi.
d.      Assessmen perlu disertai dengan refleksi dan assessmen pribadi (self-assessment) untuk dapat memberikan kesempatan belajar bagi individu yang bersangkutan.
            Project Spectrum yang merupakan kolaborasi Harvard’s Project Zero danFeldman’s Group at Tufts University saat ini telah mengembangkan program assessmen untuk anak-anak terutama dengan metode ‘checlist’. Melalui metode ini seorang guru dapat mengenali sejumlah kemampuan spesifik para murid dan memperoleh gambaran tentang keunggulan mereka dibandingkan dengan murid lainnya. Sebagai contoh, observasi terhadap gerakan (kecerdasan kinestetik) terbagi lagi misalnya atas kinestetik untuk olahraga dan kinestetik untuk kreatif. Kinestetik untuk olahraga mencakup kekuatan, kelenturan, kecepatan, keseimbangan, dan lain-lain. Sedangkan kinestetik kreatif mencakup kepekaan terhadap irama, kemampuan berekspresi gerak, dan kemampuan mengembangkan kreativitas gerak.
            Multiple Intelligences yang mencakup sembilan kecerdasan itu pada dasarnya berisi tentang kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah dan disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangannya.

2.2. Jenis-Jenis Multiple Intelligences 
a.      Kecerdasan Verbal-Linguistik
            Kecerdasan verbal-linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa-bahasa termasuk bahasa ibu dan bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain (Baum, Viens, dan Slatin, 2005). Kecerdasan linguistik disebut juga kecerdasan verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis, serta kemampuan untuk menguasai bahasa asing.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan linguistik tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri- Ciri Anak Usia Dini yang Mempunyai Kecerdasan Linguistik Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir- 1 tahun
a.       Merespon jika namanya dipanggil
b.      Berceloteh atau mengucapkan sepatah dua patah kata
2
1-2 tahun
a.       Mengenal suara orang-orang terdekatnya
b.      Mampu menyebutkan nama benda
c.       Mengerti perintah sederhana
3
2-3 tahun
a.       Mampu mengenal suara benda, binatang, atau orang lain
b.      Mampu menyatakan dalam kalimat pendek
c.       Mampu mengajukan pertanyaan sederhana
d.      Tertarik gambar warna pada buku
4
3-4 tahun
a.       Mampu mengenali dan hamper bisa menirukan berbagai suara
b.      Tertarik untuk dibacakan buku cerita
c.       Mampu mengenali nama benda dan fungsinya
5
4-5 tahun
a.       Mampu mengenal masing-masing bunyi huruf
b.      Senang belajar membaca
c.       Mampu diajak berdialog sederhana
6
5-6 tahun
a.       Mampu berbicara dengan lancer
b.      Mampu bertanya lebih banyak dan menjawab lebih kompleks
c.       Mampu mengenal bilangan dan berhitung sederhana

b.      Kecerdasan Logis-Matematis
                Kecerdasan matematika adalah kemampuan untuk mengeksplorasi pola-pola, kategori-kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau simbol untuk melakukan percobaan dengan cara yang terkontrol dan teratur (Kazer, 2001). Kecerdasan matematika disebut juga kecerdasan logis dan penalaran, karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari system kausal atau dapat memanipulasi bilangan, kuantutas dan operasi.
Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan matematis-logis mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak yang Mampunyai Kecerdasan Matematis-Logis Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Mengenal benda
b.      Mengenal warna
2
1-2 tahun
a.       Mengenal bentu
b.      Mengenal rasa: manis, pahit, dan asam
c.       Mengenal bilangan 1 dan 2
3
2-3 tahun
a.       Mampu mengelompokkan benda yang berbentuk sama
b.      Mampu membedakan bentuk lingkaran dan bujur sangkar
c.       Mampu membedakan rasa dan warna
d.      Mengenal bilangan hingga hitungan 5
4
3-4 tahun
a.       Mampu membedakan bentuk dan ukuran (besar-kecil, panjang-pendek, sedikit-banyak, dan lain-lain)
b.      Mampu mengurutkan angka satu sampai dengan sepuluh
c.       Mampu membeda-bedakan warna lebih banyak (merah-hijau, hitam-putih, dan lain-lain)
5
4-5 tahun
a.       Menunjukkan rasa ingin tahu mengenal cara kerja sesuatu
b.      Suka membongkar mainannya sendiri untuk sekadar dilihat apa yang ada di dalamnya dan kemudian dirangkai lagi
c.       Suka mengurut-urutkan (membuat urutan) sesuatu, dari yang paling kecil, agak besar, hingga yang paling besar, atau sebaliknya
6
5-6 tahun
a.       Mampu mengurutkan bilangan 1 hingga (minimal) 50
b.      Senang dengan permainan otak-atik bilangan
c.       Menyukai permaianan dalam computer
d.      Dengan mudah meletakkan benda sesuai dengan kelompoknya

c.       Kecerdasan Visual-Spasial
                Kecerdasan visual-spasial merupakan kecerdasan yang dikaitkan dengan bakat seni, khususnya seni lukis dan seni arsitektur. Kecerdasan visual-spasial atau kecerdasan gambar atau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai kemampuan mempresepsikan dunia.  Komponen inti dari kecerdasan visual-spasial adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan harmoni, pola dan hubungan antarunsur tersebut. Komponen inti dari kecerdasan visual-spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan. Sebenarnya, kecerdasan ini erat kaitannya dengan kecerdasan linguistik dan kecerdasan matematis-logis.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan visual tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak yang Mempunyai Kecerdasan Visual Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Senang melihat gambar warna-warni
b.      Sering asyik bermain sendiri
2
1-2 tahun
a.       Menikmati barang mainanya sendiri
b.      Melihat setiap barang mainan atau sembarang objek dalam waktu yang agak lama, seolah-olah ia sangat memperhatikan apa yang dilihatnya
3
2-3 tahun
a.       Mampu menggambar, membuat sketsa, dan melukis
b.      Mampu membuat barang mainan yang disenangi dengan peralatan yang ada
c.       Mampu memahami permainan teka-teki
4
3-4 tahun
a.       Mampu membuat komposisi warna lukisannya sendiri
b.      Mampu melihat gambar atau lukisan dengan keajaman tertentu
c.       Mampu berimajinasi kreatif
5
4-5 tahun
a.       Mampu memahami peta, gambar, skema, dan lain sebagainya
b.      Mampu berfantasi dan berimajinasi lebih kreatif
c.       Mampu membayangkan atau menggambarkan benda-benda yang pernah dilihatnya
6
5-6 tahun
a.       Mampu menghitung dengan cara mengawang atau mencongkak
b.       Mampu membuat benda seperti yang tergambar dalam pikirannya
c.       Mampu mengarang cerita pendek

d.      Kecerdasan Berirama-Musik
            Kecerdasan musik dalah kapasitas berpikir dalam musik untuk mampu mendengarkan pola-pola dan mengenal, serta mungkin memanipulasinya. Kecerdasan musikal didefinisikan sebagai kemampuan menangani bentuk musik yang meliputi (Snyder, 1997):
1.      Kemampuan mempersepsi bentuk musikal seperti menangkap atau menikmati musik dan bunyi-bunyi berpola nada.
2.      Kemampuan membedakan bentuk musik, seperti membedakan dan membandingkan ciri bunyi musik, suara dan alat musik.
3.      Kemampuan mengubah bentuk musik, seperti mencipta dan memmversikan musik.
4.      Kemampuan mengekspresikan bentuk musik seperti bernyanyi, bersenandung dan bersiul-siul.
            Hal ini berarti, kecerdasan musikal meliputi kemampuan mempersepsikan dan memahami, mencipta dan menyanyikan bentuk-bentuk musikal.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan musikal yang baik mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak yang Mempunyai Kecerdasan Musikal Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Mendengarkan musik
b.      Mampu bertepuk tangan
2
1-2 tahun
a.       Mampu mendengarkan musik dan mengikuti irama
b.      Mampu bertepuk tangan mengikuti irama
3
2-3 tahun
a.       Senang mendengarkan musik dan mengikuti irama
b.      Mampu bertepuk tangan secara bervariasi
c.       Mampu memukul-mukul benda membentuk irama
d.      Senang bernyanyi atau menari
4
3-4 tahun
a.       Senang menari-narikan tangan jika mendengarkan musik
b.      Mampu menyanyikan cuplikan-cuplikan lagu sesuai irama
c.       Mampu bertepuk tangan membentuk irama
d.      Suka memukul-mukul benda sesuai dengan irama
5
4-5 tahun
a.       Mengenal dan mampu menyebut nama-nama lagu popular
b.      Sering meliuk-liukkan tubuh sesuai dengan irama
c.       Mampu menepuk-nepukkan tangannya membentuk irama
d.      Mampu memainkan alat musik tertentu
e.       Melukis dengan alat bervarisasi
6
5-6 tahun
a.       Mampu bernyanyi secara koor (kelompok)
b.      Mampu mengikuti gerak tari sebuah lagu sederhana
c.       Menyanyikan lagu diiringi musik
d.      Mampu memainkan alat musik
e.       Mampu melukis dengan alat dan bahan bervariasi

e.      Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik
            Kecerdasan jasmaniah-kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu. Kecerdasan inti dari kecerdasan kinestetik adalah kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, kemampuan menerima atau merangsang dan hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kemampuan ini juga merupakan kemampuan motorik halus, kepekaan sentuhan, daya tahan dan refleks (Richey, 2007).
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik yang baik mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang Mempunyai kecerdasan Kinestetik Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Menggerak-gerakkan tangan
b.      Mengangkat kepala
c.       Bisa tengkurap dan membalik tanpa bantuan
d.      Mampu duduk sendiri
e.       Mampu merangkak dan berjalan pendek
2
1-2 tahun
a.       Mampu berdiri tegap dan berjalan pendek
b.      Berlari-lari kecil
c.       Naik-turun tangga dengan berpegangan
d.      Memanjat meja atau kursi
3
2-3 tahun
a.       Mampu berjalan dengan stabil
b.      Lancer berlari-lari
c.       Mampu menendang bola ke arah depan
d.      Mampu melompat-lompat kecil
e.       Senang bermain air
4
3-4 tahun
a.       Berjalan dan berlari dengan penuh keseimbangan badan
b.      Naik turun tangga tanpa berpegangan
c.       Memanjat bidang miring
d.      Mampu berdiri dengan satu kaki beberapa detik
e.       Bergerak mengikuti irama music
f.        Melipat kertas dengan rapi
5
4-5 tahun
a.       Berjalan dengan berbagai variasi (maju, mundur, dan menyamping)
b.      Mampu memanjat pohon atau tangga pendek dan bergelantungan pada ayunan
c.       Mampu menendang bola dari jarak 3 meter
d.       Mampu melompati gang atau parit atau benda lain
e.       Mampu mengayuh sepeda roda empat
f.        Mampu menggunting kertas
6
5-6 tahun
a.       Mampu menjaga keseimbangan badan ketika berjalan di atas titian (papan kecil meyerupai jembatan tanpa berpegangan)
b.      Mampu senam dengan gerakan
c.       Mampu melompat dengan satu atau dua kaki secara bervariasi
d.      Memakai baju (kaos) dan sepatu sederhana (tanpa tali) sendiri tanpa dibantu
e.       Mampu mengendarai sepeda roda tiga
f.        Mampu melakukan gerak acrobat
g.       Mampu menggunting kertas dan menempelkannya


f.        Kecerdasan Interpersonal
            Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan memahami pikiran, sikap, dan perilaku orang lain. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan indicator-indikator yang menyenangkan bagi orang lain. Dengan memiliki kecerdasan interpersonal seorang anak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, menangkap maksud dan motivasi orang lain dalam bertindak sesuatu, serta mampu memberikan tanggapan yang tepat sehingga orang lain merasa nyaman. Komponen inti kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mencerna dan menanggapi dengan tepat berbagai suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan keinginan orang lain di samping kemampuan untuk melakukan kerja sama. Anak-anak yang berkembang pada kecerdasan interpersonal peka terhadap kebutuhan orang lain.
            Secara Sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan interpersonal tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:


Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang Mempunyai Kecerdasan Interpersonal Tinggi
No
Usia
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Mengamati mainan yang digantungkan di atasnya
b.      Menatap siapa saja yang di sampingnya
2
1-2 tahun
a.       Mudah berbaur dengan anak-anak lain ketika bermain
b.      Senang bermain secara kelompok
3
2-3 tahun
a.       Mudah berkenalan dengan anak-anak lain
b.      Senang berada di dekat kerumunan teman-temannya
c.       Memperbolehkan mainannya dipinjamm temannya
4
3-4 tahun
a.       Senang pinjam-meminjam atau tukar-menukar mainan dengan anak lain
b.      Tidak menangis ketika berpisah dengan orang tuanya
c.       Sabar menunggu giliran bermain
5
4-5 tahun
a.       Mau mengalah dengan teman bermainnya
b.      Tidak menganggu temannya dengan sengaja
c.       Mengerti dan mematuhi aturan bermain dengan baik
d.      Mampu memimpin kelompok bermain kecil (2-4 anak)
e.       Mampu memecahkan masalah sederhana
6
5-6 tahun
a.       Mengetahui bagaimana caranya menunggu giliran ketika bermain
b.      Berani berangkat ke sekolah tanpa diantar
c.       Tertib menggunakan alat atau benda mainan sesuai dengan fungsinya
d.      Tertib dan terbiasa menunggu giliran atau antre
e.       Memahami akibat jika melakukan pelanggaran dan berani bertanggung jawab (tidak menangis karena takut dihukum)
f.        Mampu memimpin kelompok bermain yang lebih besar (antara 4-8 orang)
g.       Terampil memecahkan masalah sederhana



g.      Kecerdasan Intrapersonal
            Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Kecerdasan ini merupakan pengimbangan terhadap kecerdasan interpersonal. Jika kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan berhubungan dengan orang lain, maka kecerdasana intrapersonal menunjukkan kemampuan  untuk berhubungan dengan dirinya sendiri.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan intrapersonal tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang Mempunyai Kecerdasan Interpersonal Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Senang mengamati benda yang disentuhnya
b.      Senang bermain sendiri (mandiri)
2
1-2 tahun
a.       Bisa mengungkapkan perasaan atau emosinya
b.      Mampu menyalurkan emosinya sendiri
3
2-3 tahun
a.       Bermain tanpa disuruh
b.      Mengembalikan benda-benda permainan pada tempatnya
4
3-4 tahun
a.       Senang mengajak temannya bermain
b.      Senang merenung atau berpikir ketika sendirian
c.       Sering mengungkapkan cita-citanya kepaga orang lain
5
4-5  tahun
a.       Menunjukkan sikap percaya diri yang tinggi
b.      Selalu bermain aktif, menggunakan waktu dengan baik
c.       Mampu menetapkan target bermain, misalnya menyusun balok dalam waktu 10 menit
6
5-6 tahun
a.       Selalu bersemangat ketika bermain, mempunyai motivasi yang tinggi
b.      Sering menyendiri, berkhayal, atau berpikir
c.       Sering menunjukkan mainan kebanggaanya kepada orang lain
d.      Diam ketika marah, seolah-olah mengendalikan emosinya

h.      Kecerdasan Naturalistik
            Menurut Sri Widayanti, kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali berbagai jenis flora (tanaman), fauna (hewan), dan fenomena alam lainnya, seperti asal usul binatang, pertumbuhan tanaman, terjadinya tata surya, berbagai galaksi, dan lain sebagainya. Kecerdasan ini ditambahkan oleh Howard Garner ke dalam Multiple Intelligences pada tahun 1995, pada awalnya ia memasukkan kecerdasan ini ke dalam kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial. Komponen inti kecerdasan naturalis adalah kepekaan terhadap alam, keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun informal.
            Komponen kecerdasan naturalis lain adalah perhatian dan minat mendalam terhadap alam, serta kecermatan menemukan cirri-ciri spesies dan unsure alam yang lain. Anak-anak yang suka menyelidiki berbagai kehidupan makhluk kecil, seperti cacing, semut, dan ulat daun. Anak-anak suka mengamati gundukan tanah, memerika jejak binatang, mengorek-ngorek tanah. Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi cenderung menyukai alam terbuka, akrab dengan hewan peliharaan.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan naturalis tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anak Usia Dini yang Mempunyai Kecerdasan Naturalis Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Tertarik bermain di alam bebas
b.      Senang melihat gambar pemandangan alam
2
1-2 tahun
a.       Senang mengamati dan berinteraksi sederhana dengan tanaman (terutama tanaman hias atau bunga) dan hewan peliharaan, seperti kucing
b.      Mengenali sifat tanaman dan hewan peliharaan
3
2-3 tahun
a.       Senang bermain dengan benda-benda alam, seperti menata batu kerikil, membuat mobil-mobilan dari tanah liat, menggunakan uang dari daun, dll
b.      Asyik mengamati gerak-gerik binatang peliharaan, seperti ikan hias di dalam akuarium, burunf terbang, kucing neloncat, dsb
4
3-4 tahun
a.       Mampu membedakan objek alam sesuai dengan karakteristiknya, misalnya bisa membedakan batu dengan kerikil, kucing dengan anjing, dan bungan dengan tanaman pada umumnya
b.      Mampu mengenali karakteristis benda dan hewan peliharaan secara detail
5
4-5 tahun
a.       Suka bermain cocok-tanaman
b.      Senang memelihara hewan peliharaan
6
5-6 tahun
a.       Mampu memberi makan hewan peliharaan secara sederhana
b.      Mampu menyiram tanaman secukupnya
c.       Mampu berkreasi memperindah taman atau halaman

i.        Kecerdasan Eksistensial-Spiritual
            Sebenarnya, kecerdasan yang ke-9 dalam system Multiple IntelligencesHoward Garner ini bukan kecerdasan spirituall, tetapi Garner menyebutkan dengan istilah “kecerdasan eksistensial”. Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual, emosional, dan kecerdasan social. Menurut Garner, kata “eksistensial” mempunyai kaitan erat dengan pengalaman spiritualitas seseorang. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami diri sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Kecerdasan spiritual melibatkan seperangkat kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual. Jadi, kecerdasan spiritual adalah suatu kecerdasan yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan, makna, dan nilai (Painton,2009).
            Berdasarkan definisi yang telah diberikan di atas, yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah kapasitas hidup manusia yang bersumber dari hati yang dalam (inner-capacity) yang terilhami dalam bentuk kodrat untuk dikembangkan dan ditumbuhkan dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup.
            Secara sederhana, anak yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

Tabel Ciri-Ciri Anank Usia yang Mempunyai Kecerdasan Spiritual Tinggi
No
Usia Anak
Ciri-Ciri
1
Lahir-1 tahun
a.       Senang mendengarkan music religi (islami)
b.      Senang mendengarkan senandung do’a
2
1-2 tahun
a.       Mampu menirukan sepatah dua patah kata dalam bacaan do’a
b.      Menirukan sebagian kecil dari gerakan ibadah
c.       Mengenal “nama” Tuhan (Allah)
3
2-3 tahun
a.       Mengikuti senandung lagu keagamaan
b.      Menirukan gerakan beribadah
c.       Mengucapkan salam
d.      Mengikuti cerita atau kisah Qur’an dan Nabawi
4
3-4 tahun
a.       Mengikuti bacaan do’a secara lengkap
b.      Menyebutkan contoh makhluk ciptaaan Tuhan
c.       Maampu menyebut “nama” Allah
d.      Mengucapkan kata-kata santun, seperti maaf, tolong, dll
5
4-5 tahun
a.       Berdo’a sebelum dan sesudah makan, tidur, dan aktivitas lainnya
b.      Mampu membedakan ciptaan Tuhan dan benda mainan buatan manusia
c.       Membantu pekerjaan ringan orang tuanya
d.      Mengenal sifat-sifat Allah swt. Dan mencintai Rasulullah saw.
6
5-6 tahun
a.       Mampu menghafal beberapa surah dalam al-Qur’an
b.      Mampu menghafal gerakan shalat secara sempurna
c.       Mampu menyebut beberapa sifat Allah
d.      Menghormati orang tua, menghargai teman-temannya, dan menyayangi adik-adiknya atau anak di bawah usianya
e.       Mengucapkan syukur dan terima kasih




2.3. Implikasi Teori Multiple Intelligences Pada Pendidikan Anak Usia Dini
            Teori dari multiple intelligences dikembangkan sebagai penjelasan kemampuan manusia belajar yang dapat tergantung pada tes empiris. Sebagai tambahan, teori ini tampaknya melindungi sejumlah implikasi pendidikan yang cukup berharga untuk diperhatikan. Tahap-tahap alami perkembangan dalam setiap kecerdasan dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar, misalnya, kemampuan untuk membedakan tinggi-rendahnya nada dalam kecerdasan musik atau memahami pengaturan tiga dimensi dalam kecerdasan ruang. Semua kemampuan ini muncul secara universal. Kecerdasan “mentah” lebih mendominasi dalam tahun pertama kehidupan.
            Karena kecerdasan dimanifestasikan dalam cara berbeda di tingkat perkembangan berbeda, penilaian dan pemeliharaan perlu terjadi dalam cara yang tepat. Pemeliharaan semasa balita tidak akan tepat untuk tahap yang selanjutnya, dan sebaliknya. Beberapa implikasi untuk pengajaran dapat ditarik dari analisis ini. Pertama, peran pengajaran dalam kaitan dengan manifestasi perubahan kecerdasan sepanjang langkah-langkah perkembangan. Pengajaran harus dievaluasi dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangan kecerdasan. Siswa mendapat manfaat dari pengajaran hanya bila produktif atau pelatihan itu cocok dengan tempat spesifik mereka dalam kemajuan perkembangan. Lingkungan pengajaran yang amat terstruktur dapat mempercepat kemajuan dan menghasilkan jumlah anak cerdas yang lebih banyak, tetapi pada akhirnya mungkin ini membatasi pilihan dan menghambat ekspresi diri.
            Banyaknya pendekatan pengajaran pendidikan usia dini (PAUD) yang berkembang saat ini diyakini mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligences) seperti pendekatan pengajaran melalui metode BCCT(beyond centers and circle)  bermain yang terarah. Seting pembelajarannya mampu merangsang anak untuk saling aktif, kreatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Hal ini berbeda dengan paradigma pendidikan lama yang menghendaki siswa mengikuti perintah, meniru atau menghafal. Kegiatan pembelajaran bermain sambil belajar integrasi agama melalui pendekatan BCCT yang dimaksud adalah pola pengajaran yang diterapkan dengan menggunakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan pendekatan sentra dan saat lingkaran.
            Pendekatan sentra dan lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main (sentra persiapan, peran makro, mikro, balok, imtaq, seni, dan sentra bahan alam), dan saat dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi kecerdasan anak. Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak. Bentuk-bentuk sentra yang jika dimainkan akan mengembangkan semua aspek kecerdasan anak:
1.      Sentra ibadah
            Sentra ini adalah spiritualitas atau keagamaan. Melalui sentra ini, anak dapat dirangsang supaya semua kemampuannya tumbuh dan berkembang dengan memperkenalkan Tuhan, menghitung jumlah ciptaan-Nya, merasakan secara emosional kehadiran-Nya, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan religiuitas.
2.      Sentra bahasa
            Sentra ini akan mengemas berbagai perkembangan kecerdasan anak melalui kecerdasan bahasa atau kosa kata anak. Kecerdasan anak bisa dikembangkan melalui kegiatan berbicara, mendengar, bernyanyi, berpuisi, menulis, dan bercerita. Jika yang dikatakan adalah bilangan-bilangan, maka sentra ini secara tidak langsung mengembangkan kecerdasan matematika.
3.      Sentra balok
            Sentra ini bertujuan untuk mengasah kecerdasan visual-spasial (kecerdasan ruang) anak. Sentra ini menyodorkan anak agar bermain berbagai bentuk balok, seperti kubus, dadu, geometri, dan lain sebagainya. Di samping itu, anak-anak juga sering diajak menonton film, menggambar, dan berimajinasi.
4.      Sentra bermain peran
            Sentra ini bertujuan untuk mengasah kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, serta menumbuhkan jiwa kompetitif pada anak. Biasanya sentra ini mengajak anak-anak bermain peran, cerita estafet, bermain kelompok, dan lain sebagainya.
5.      Sentra seni musik
            Sentra ini mengajak anak-anak untuk bermain musik dan seni tari, sehingga anak mempunyai kecerdasan musikal yang tinggi.
6.      Sentra ketangkasan atau kinestetik
            Sentra ini bertujuan untuk mengasah kemampuan olah tubuh atau ketangkasan anak. Biasanya, sentra ini adalah lapangan atau ruang terbuka. Bisa juga dilakukan di alam bebas ketika karya wisata atau taman safari.
7.      Sentra alam bebas
            Sentra ini bertujuan untuk mencerdaskan naturalis anak. Dengan kata lain, sentra ini bertujuan untuk menumbuhkan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar.
8.      Sentra puzzle
            Sentra ini dapat menumbuhkan kecerdasan matematis-logis, linguistik, visual, spiritual, intra dan interpersonal anak. Misalnya, potongan-potongan puzzle tersebut diberi gambar masjid (mengasah kecerdasan spiritual anak), dimainkan berdua (mengasah kecerdasan sosial-emosional dan interpersonal), beberapa puzzle dimainkan secara serempak (menumbuhkan jiwa kompetisis anak), dan lain sebagainya.
























BAB III
PENUTUP

3.1.KESIMPULAN
            Multiple intelligences kini telah banyak dikembangkan dari sejak kajian teoritis sampai pada berbagai praktek kegiatan pendidikan dan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Kajian-kajian tentang pengembangan kemampuan anak berdasarkan multiple intelligences ini diharapkan memberikan satu nuansa baru bagaimana sebenarnya hakikat manusia dari sisi potensi, bakat, dan kemampuannya dapat dikembangkan secara optimal. Tentu kajian ini tidak berhenti sampai di sini saja. Lebih dari itu, masih terlalu dini untuk mengungkapkan bahwa multiple intelligences adalah yang terbaik dalam pengembangan kepribadian seorang anak.
           
3.2.SARAN
            Multiple intelligences kiranya dapat memberikan satu motivasi yang kuat, bahwa kegiatan pendidikan dan pembelajaran perlu dikaji lebih jauh. Tulisan ini diharapkan menjadi nilai nilai inspirasi bagi upaya peningakatan kemauan dan kemampuan dalam memahami multile intelligencestersebut.
            Demikianlah makalah ini kami susun sebagai bahan presentasi dalam diskusi. Oleh karena banyaknya hal belum tersaji dalam makalah ini maka di harapkan kritik dan sarannya dari peserta diskusi dan bimbingan serta arahan dari Dosen Pengampu yang akan sangat membantu untuk menyempurnakan makalah ini. Terima kasih dan semoga Allah melimpahkan hidayah ilmiah kepada kita semua.Amin.





















DAFTAR PUSTAKA

Garner, Howard. Multiple Intelligences: Teori Dalam Praktek. Alih Bahasa: Drs. Alexander Sindoro. Tangerang: Interaksara. 2012.



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys