untuk download artikel ini anda bisa klik disini

Definisi Pendidikan luar sekolah
menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1.
Menurut Marzuki (2010: 93)
Pendidikan luar
sekolah adalah semua pendidikan baik sengaja atau tidak, dirancang atau tidak,
diorganisasikan atau tidak, yang berlangsung di luar sekolah dan universitas.”
Salah satu kelemahan pendidikan luar sekolah adalah belum adanya keseragaman
dalam pelabelan pendidikan luar sekolah, sehingga banyak orang yang sebenarnya
sudah mengenal pendidikan luar sekolah tetapi bukan dengan nama pendidikan luar
sekolah. Di Amerika, pendidikan luar sekolah dikenal dengan Adult Education,
di Jepang dikenal dengan Social Education, dan di Jerman dikenal dengan Out
of School Education. Di Indonesia sendiri pendidikan luar sekolah awalnya
bernama pendidikan sosial, dan pada tahun 1982 berubah nama menjadi Pendidikan
Luar Sekolah. Pendidikan luar sekolah di Indonesia berdiri dibawah naungan
direktorat PAUDNI yang dulu bernama PNFI (pendidikan.
2.
S. Joesoef (Djudju sudjana, 2004 :22)
Pendidikan
nonformal ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, diluar sistem
persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting
dari kegiatan yang lebih luas,yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta
didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya.
3. Philip H. Combs
pendidikan luar
sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang di
selenggarakan di luar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian
dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan pada
sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi jika disimpulkan Pendidikan luar sekolah (PLS) pendidikan
luar sekolah adalah setiap program pendidikan yang diselenggarakan diluar
sistem persekolahan yang berlaku, dilakukan secara sengaja dalam rangka
membelajarkan peserta didik sesuai kebutuhan kehidupan sehingga diharapkan
tercapainya suatu perubahan baik dalam segi pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang dapat dikembangkan kearah yang lebih baik.
2.
Dasar Pendidikan
luar sekolah (PLS)
A. Sejarah
terbentuknya pendidikan luar sekolah (PLS)
Alasan
terselenggaranya PLS dari segi kesejarahan, tidak bisa lepas dari lima aspek
yaitu:
- Aspek pelestarian budaya
Pendidikan
yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di
lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah, tindakan dan perkataan)
ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik. Dengan demikian pendidikan luar
sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan
yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara
orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi
pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan, suruhan,
larangan dan pembimbingan. Pada dasarnya semua bentuk kegiatan ini menjadi akar
untuk tumbuhnya perbuatan mendidik. Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di
lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan
secara turun temurun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan
praktis di masyarakat dan untuk meneruskan warisan budaya yang meliputi
kemampuan, cara kerja dan Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari satu
generasi kepada generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah
terjadi proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda dengan
sistem pendidikan sekolah. Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli inilah yang
termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi
pendidikan luar sekolah.
- Aspek teoritis
Salah satu
dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H.
Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun
nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar
minimum yang esensial. Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa,
keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi
mutlak diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu
memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan
kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan
pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Uraian di atas cukup untuk
dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi
kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai
makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.
- Dasar pijakan
Ada tiga
dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989
dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun1991tentang pendidikan luar sekolah.
Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan
individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain
untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam
rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan PLS., sebagaimana
diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga,
kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis
dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan
pondok pesantren tradisional.
- Aspek kebutuhan terhadap pendidikan
Kesadaran
masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan,
melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas. Kesadaran ini timbul
terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik.
Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan,
keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki
suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan
inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang
bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.
- Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah
Lembaga
pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi
yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta
berbagai keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah
yang ada di daerah terpencilpun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat
setempat, apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari
kekurangan atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan
kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga
melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
B. Perkembangan Pendidikan luar
sekolah
·
Perkembangan pendidikan luar sekolah (PLS) Dibagi
dalam tiga periode:
1.
Periode Pra kemerdekaan
2.
Periode Revolusi
3.
Periode Orde Baru
C. Sistem Pendidikan luar sekolah
Pendidikan
Luar Sekolah (PLS) adalah sub sistem pendidikan nasional, yaitu suatu sistem
yang memiliki tujuan jangka pendek dan tujuan khusus yakni memenuhi kebutuhan
belajar tertentu yang fungsional bagi masa sekarang dan masa depan.
Komponen
atau sub sistem yang ada pada sistem PLS adalah :
·
masukan saran (instrumen input),
·
masukan mentah (raw input),
·
masukan lingkungan (environmental input),
·
proses (process), keluaran (out put) dan
·
masukan lain (other input) dan Pengaruh (impact).
D. Jenis Jenis yang ada di
Pendidikan Luar Sekolah
- Pendidikan Massa (Mass education)
Pendidikan
massa yaitu kesempatan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat luas dengan
tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal
menulis, membaca dan berhitung serta berpengetahuan umum yang diperlukan dalam
upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupannya sebagai warga negara. Istilah
Mass education menunjukan pada aktifitas pendidikan di masyarakat yang
sasarannya kepada individu-individu yang mengalami keterlantaran pendidikan, yaitu
individu yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur sekolah,
tetapi putus di tengah jalan dan belum sempat terbebas dari kebuta-hurufan.
Mass education ini dapat dikatakan semacam program pemberantasan buta huruf
atau program keaksaraan, tentu saja tidak bertujuan supaya orang-orang didiknya
sekedar bisa baca-tulis, tetapi juga supaya memperoleh pengetahuan umum yang
relevan bagi keperluan hidupnya sehari-hari. Individu yang menjadi sasarannya
adalah pemuda-pemuda dan orang dewasa. Pelaksanaannya melalui kursus-kursus.
2.
Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)
Pendidikan
orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa.
Dalam salah satu bukunya tentang PLS, Sudjana (1996:45) menerangkan bahwa
pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang
dewasa dalam lingkukangan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan
kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi
yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan
perilakunya.
- Pendidikan Perluasan (Extension Education)
Kegiatan
yang diselenggarakan PLS adalah meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang
dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang
tidak dilembagakan.
E. Karakteristik Pendidikan Luar
Sekolah
Ciri ciri
pendidikan luar sekolah (PLS) yaitu :
- Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di jalur persekolahan (formal). Contohnya: Kejar Paket A, B dan C
- Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah. Contohnya: private, les, training
- Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh di dalam pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dll
4.
Sasaran pendidikan Luar Sekolah(PLS)
1.
Pendidikan Luar sekolah untuk Pemuda
sebab-sebab timbul nya:
a. banyak anak anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup
b .mereka memperoleh pendidikan tradisional
c. mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola pola pergaulan
d. mereka di tuntut mempelajarinorma-norma dan tanggung jawab sebagai sanksi dari masyatrakat
2. Kelompok-Kelompok Kegiatan Pendidikan Luar Sekolah antara lain:
a. klub pemuda
b. klub-klub pemuda tani
c. kelompok pergaulan
3. Pendidikan Luar Sekolah untuk Orang Dewasa
a. pendidikan ini timbul oleh karena:
1. orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja
2. orang dewasa tertarik terhadap keahlian
b.dalam rangka memperolehpendidikan di atas dapat ditempuh melalui:
1. kursus-kursus pendek
2. In service training
3. surat-menyurat
sebab-sebab timbul nya:
a. banyak anak anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup
b .mereka memperoleh pendidikan tradisional
c. mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola pola pergaulan
d. mereka di tuntut mempelajarinorma-norma dan tanggung jawab sebagai sanksi dari masyatrakat
2. Kelompok-Kelompok Kegiatan Pendidikan Luar Sekolah antara lain:
a. klub pemuda
b. klub-klub pemuda tani
c. kelompok pergaulan
3. Pendidikan Luar Sekolah untuk Orang Dewasa
a. pendidikan ini timbul oleh karena:
1. orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja
2. orang dewasa tertarik terhadap keahlian
b.dalam rangka memperolehpendidikan di atas dapat ditempuh melalui:
1. kursus-kursus pendek
2. In service training
3. surat-menyurat





03.33
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar