untuk download artikel karya saya bisa anda klik disini

Masyarakat
jawa tengah terkenal dengan orang-orangnya yang ramah,sopan,santun dan sistem
kekerabatannya yang masih sangat kental walaupun dijaman sekarang sudah
menganut sistem individualisme atau istilah gaulnya “loe-gue”. Dikota-kota
besar seperti jakarta dan sekitarnya sudah sangat jarang ditemukan sistem yang
masih mengakui saudaranya yaitu sistem kekerabatan. Kekerabatan itu sendiri adalah
dimana anggota-anggotanya yang memiliki hubungan darah atau perkawinan,misalnya
antara kita sebagai anak ari orang tua dengan kakak/adik dari orang tua kita.
Seseorang dikatakan kekerabatan jika memiliki hubungan darah walaupun belum
mengetahui maupun mengenal siapa saja hubungan darahnya (belum mengenal satu
dengan yang lainnya) sebelumnya. Kekerabatan mempunyai anggota yang terdiri
dari ayah,ibu,kakek,nenek,paman,bibi,keponakan,cucu dan seterusnya.
Sedangkan
sistem kekerabatan sendiri merupakan suatu pola kehidupan di masyarakat agar
memiliki ciri atau sifat tertentu dalam kekekuargaannya yang disebabkan oleh
adanya hubungan darah atau perkawinan. Di jawa sendiri sistem kekerabatan
mengacu pada garis keturunan dari kedua belah pihak baik dari pihak ayah maupun
pihak ibu dari satu nenek sampai generaasi ketiga yang biasa disebut didaerah
saya dengan istilah sanak sedulur. Dalam sistem kekerabatan masyarakat jawa
sangat dilarang adanya perkawinan antara saudara sekandung,perkawinan pancer
lanang (yaitu seperti perkawinan antara anak anak dari dua orang tua yang
bersaudara). Suku jawa mengenal keluarga luas. Keluarga luas sendiri merupakan
perkembangan dari keluarga inti,yang artinya keluarga luas ini terdiri lebih
dari satu keluarga inti jadi anggota keluarga luas memiliki anggota yang lebih
banyak dan nantinya ini yang akan disebut dengan kerabat. Biasanya keluarga
luas masyarakat jawa terutama didaerah pedesaan apalagi daerah saya masih
berdekatan tempat tinggalnya, bahkan seringkali masih tinggal bersama-sama
dalam satu rumah. Berikut ini istilah istilah yang dipakai pada sistem
kekerabatan masyarakat jawa tengah untuk menyebut kerabatnya adalah seperti :
-
Menyebut orang tua laki-laki dengan sebutan bapak atau rama.
-
Menyebut orang tua perempuan dengan sebutan simbok atau biyung.
-
Menyebut kakak laki-laki dengan sebutan kang mas,kakang atau kang.
-
Menyebut kakak perempuan dengan sebutan mbak yu, mbak dan yu.
-
Menyebut adik laki-laki dengan sebutan adhi, dek atau le.
-
Menyebut adik perempuan dengan sebutan adhi,ajeng dan ndhuk.
-
Menyebut orang tua dari bapak atau ibu dengan sebutan simbah atau mbah.
-
Menyebut nenek dari orang tua bapak atau ibu dengan sebutan buyut.
-
Menyebut nenek dari nenek dengan sebutan canggah.
-
Menyebut kakak laki-laki dari bapak ataupun ibu dengan sebutan uwa,pakde
dan siwa.
-
Menyebut kakak perempuan dari bapak nataupun ibu dengan sebutan budhe,siwa.
-
Menyebut adik laki-laki dari bapak ataupun ibu dengan paklik,um atau paman.
-
Menyebut adik perempuan dari bapak ataupun ibu dengan sebutan bulik,bibi.
Nah Ini lho sebutan dalam kekerabatab dalam tradisi masyarakat jawa tengah terutama didaerah saya pemalang. Pastinya sebutan ini dalam daerah yang lain berbeda-beda begitupun di daerah anda kan ??. Nah bagaimana sebutan kekerabatan yang ada di daerah anda ??
Nah Ini lho sebutan dalam kekerabatab dalam tradisi masyarakat jawa tengah terutama didaerah saya pemalang. Pastinya sebutan ini dalam daerah yang lain berbeda-beda begitupun di daerah anda kan ??. Nah bagaimana sebutan kekerabatan yang ada di daerah anda ??
Menyinggung
tentang kebudayaan dijawa tengah sanagtlah banyak berbagai kebudayaan. Jawa
tengah sendiri adalah provinsi indonesia yang terletak dibagian tengah pulau
jawa. Berbatasan langsung dengan jaawa barat disebelah barat,samudra hindia dan
DI yogyakarta pada seelah selatan,jawa timur disebelah timur,dan laut jawa
disebelah utara. Jika berbicara kebudayaan jawa tengah merupakan “jantung”
budaya jawa bersama DI yogyakarta. Berikut ini Kebudayaan jawa tengah dapat
dipandang dari beberapa sisi seperti:
1.
Bahasa
Meskipun bahasa indonesia
merupakan bahasa resmi bangsa indonesia,namun masyarakat jawa tengah sebagian
besar memakai bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari. Secara umum bahasa dijawa
tenah dibagi menjadi dua yaitu kulonan
dan timuran. Kulonan (tegal,banjarnegara,banyumas daerah sekitar
pantura) biasanya pengucapannya lebih kasar berbeda dengan dialeg timuran
(solo,surakarta,semarang) yang biasanya
standar atau halus. Beberapa macam dialek yang ada di jawa tengah adalah :
-
Dialek banyumasan (ngapak)
-
Dialek semarang
-
Dialek tegal-brebes
-
Dialek pantai utara timur (jepara,rembang,demak,kudus,pati)
-
Dialek surakarta
-
Dialek solo
-
Dan masih banyak lagi
Sangat beragam kan versi bahsa jawa
yang ada di jawa tengah, Meskipun ada banyak dialek bahasa jawa di jawa tengah
ini namun tidak membuat masyarakatnya kesulitan dalam berkomunikasi. Karena
dari berbagai dialek tersebut tetap ada kesamaan bahasa hanya saya cara
pengucapannya yang berbeda. Tetapi dengan perbedaan – perbedaan yang ada bukan
menjadi hambatan untuk tidak berkomunikasi dengan yang beda dialek,justru
dengan perbedaan inilah dapat belajar berbagai bahasa jawa versi dialek yang
ada itu.
2.
Religi atau agama
Agama yang dianut
sebagian besar oleh masyarakat jawa tengah adalah agama islam dan mayoritas
masih mempertahankan tradisi kejawen. Tradisi kejawen itu sendiri merupakan
golongan orang yang menganut agama islam tetapi tidak menjalankan syariat islam
dan percaya pada kekuatan lain,seperti contohnya :
-
Percaya pada hari kelahiran atau weton
-
Percaya pada hari baik dan hari naas
-
Percaya pada makhluk makhluk halus seperti tuyul,setan dll.
-
Percaya pada benda-benda pusaka.
-
Percaya pada tempat tempat keramat.
Tradisi kejawen
dimasyarakat jawa tengah pada zaman sekarang masih sangat sering ditemui dalam acara-acara
sakral atau acara-acara besar seperti contoh dalam acara perkawinan,masyarakat
jaman jawa tengah terutama daerah pedesaan masih percaya dengan weton atau hari
kelahiran sang calon penganten (orang yang akan menikah). Walaupun secara
ilmiah belum ditegaskan kebenarannya antara pengaruh hari weton dengan
pernikahan,tetapi masyarakat jawa sangat menghormati tradisi weton ini dan
masih terus dilestarikan hingga saat ini.
Agama lain yang ada
dijawa tengah adalah kristen,katolik,hi ndu,budha,kong hu chu dll. Masyarakat
jawa tengah dikenal denagn sikap toleransinya seperti contohn ya didaerah
muntilan kabupaten magelang banyak dijumpai penduduk yang beragama katolik dan
dulunya daerah tersebut merupakan pusat pengembangan agama katolik. Jawa tengah
merupakan provinsi dengan jumlah penganut agama kristen terbesar di indonesia.
3.
Kesenian
Jawa tengah sangat kaya
akan kesenian. Bahkan jawa tengah merupakan merupakan kiblatnya kesenian dari
daerah jawa sendiri,berikut beberapa kesenian jawa tengah meliputi :
-
Gamelan jawa
-
Wayang kulit
-
Seni tari : tari gambyong,bedhaya ketawang,serimpi,sintren.
-
Kerajinan tangan : ukiran khas jepara,batik pekalongan
-
Upacara adat : tidhak sinten,upacara baritan di pemalang.
-
Seni tembang : suwe ora jamu, gundul gundul pacul,gambang suling dsb.
-
Makanan khas : soto tauco khas tegal,grombyang khas pemalang,wingko babat khas
semarang,tahu dan tempe bacem khas solo.
-
Dan masih banyak lagi
Dijawa tengah sendiri masih sering ditemui festival budaya dan kesenian yang bertujuan untuk lebih mengenalkan kesenian jawa yengah sendiri kepada generasi yang lebih muda. Sebagai masyarakat jawa tengah kita harus bangga karena jawa tengah memiki beragam kebudayaan yang sangat beragam dan bermacam-macam.
Dijawa tengah sendiri masih sering ditemui festival budaya dan kesenian yang bertujuan untuk lebih mengenalkan kesenian jawa yengah sendiri kepada generasi yang lebih muda. Sebagai masyarakat jawa tengah kita harus bangga karena jawa tengah memiki beragam kebudayaan yang sangat beragam dan bermacam-macam.
“Ini nih buat kalian yang ngerasa orang jawa jangan cuekin adat dan
kebudayaannya. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus Lestarikan apa budaya
dan adat jawa tengah !!”
Bahan bacaan :
koentjaraningrat, pengantar ilmu antropologi (jakarta :RINEKA CIPTA 2009)
Penulis :
Febria tri hidayati, mahasiswa s1
pendidikan luar sekolah, universitas negri semarang 2014
Kontak : febria.tri123@gmail.com





17.55
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar