BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula
mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan terhadap lingkungan, sikap
dan tingkah laku ketrampilan, kecakapan, kemampuan, daya reaksi dan daya
penerimaan. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi
terhadap semua situasi yang ada pada siswa.
Didalam
pembelajaran juga perlu adanya guru dan siswa, dan dukungan suatu teori
belajar, karena tanpa guru siswa tidak akan dikatakan siswa, dan begitu juga
sebaliknya tanpa siswa guru tidak akan disebut guru kalau tidak ada
siswa, juga dalam pembelajaran tidak akan terlepas dengan teori karena teori
itulah yang akan merangsang kemampuan para sisiwa atas apa yang dimiliki dalam
dirirnya.
Secara
keseluruhan teori belajar di kelompokan menjadi empat kelompok atau aliran
meliputi:
(1) Teori Belajar Behavioristik
(2) Teori Belajar Kognitifistik
(3) Teori Belajar Konstruktifistik
(4) Teori Belajar Humanistik.
Atas dasar keempat tersebut pemakalah akan menerangkan salah satu dari
teori-teori diatas, yaitu teori belajar humanistik. Pada hakikatnya teori ini
berkembang dari aliran psikologi yang kemudian berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori, praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran humanistik.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari teori humanistik
?
2. Bagaimana akar gerakan humanistik ?
3. Bagaimana pandangan humanistik dalam
belajar ?
4. Bagaimana prinsip-prinsip pendekatan
humanistik ?
5. Apa fungsi pendidik humanistik ?
6. Bagaimana bentuk pendidikan
humanistik ?
1.3.TUJUAN
1. Menjelaskan pengertian dari teori
humanistik.
2. Menjelaskan akar perkembangan teori
humanistik.
3. Menjelaskan pandangan humanistik
dalam belajar.
4. Menjelaskan prinsip-prinsip
pendekatan humanistik.
5. Menjelaskan fungsi pendidik
humanistik.
6. Menjelaskan bentuk pendidikan
humanistik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Teori Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses
belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun
teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataan
teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik
pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti
apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori
apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai
aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi
yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada
proses belajar, ialah :
1. Proses
pemerolehan informasi baru,
2. Personalia
informasi ini pada individu.
Teori humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih
mendekati bidang kajian ilmu filsafat, kepribadian dan psikoterapi daripada
bidang kajian-kajian psikologi dalam belajar. Teori ini sangat mementingkan
obyek yang dipelajari dari pada proses belajar tersebut.
Teori humanistik ini lebih banyak
membahas tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang
dicita-citakan, dan mengenai proses belajar dalam bentuk yang terbaik. Atau
bisa dikatakan bahwa teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam
bentuknya yang paling sempurna dari pada pemahaman mengenai proses belajar seperti
yang selama ini telah dikaji berdasarkan teori-teori belajar.
Di dalam pelaksanaannya, teori ini
terlihat juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Dia
berpandangan bahwa belajar bermakna atau yang juga tergolong dalam aliran kognitif
yang mengatakan bahwa belajar adalah asimilasi penuh makna. Materi pelajaran
diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Motivasi dan pengalaman emosional
sangat penting dalam proses belajar, karena tanpa motivasi dan keinginan dari
pihak pelajar, tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur
kognitif yang sudah ada.
2.2.Akar Gerakan Humanistik
Praktik
pendidikan humanistik tidak jauh berbeda dengan pendidikan progresif selama
paroh pertama tahun 1900an. John Dewey adalah seorang pelopor pendidikan
progresif yang melawan pendidikan yang tidak relevan dengan masyarakat
industri. Dia melawan orang-oang yang berpegang teguh pada waktu, menolak
gagasan psikologi modern, penggunaan latihan (drill) sebagai metode
pembelajaran, dan beberapa aspek pendidikan yang tidak memiliki nilai manfaat
dan bersifat dekoratif. Para pendidik humanistik merupakan penerus dari gagasan
John Dewey tersebut. Mereka percaya bahwa masyarakat perkotaan kontemporer akan
menjadi masyarakat yang tidak peka terhadap lingkungan. Para pakar pendekatan
humanistik percaya bahwa setiap individu anak memiliki sifat-sifat kebajikan
yang berasal dari dalam dan bersifat realistik. Demikian pula anak-anak akan
berkembang sepanjang mereka mampu mengembangkannya.
Hasil
belajar dalam pandangan humanistik adalah kemampuan orang dewasa mengambil
tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang
mampu mengarahkan diri sendii dan mandiri. Disamping itu pendekatan humanistik
memandang pentingnya penekatan pendidikan dibidang kreativitas, minat terhadap
seni, dan hasrat ingin tahu. Oleh karena itu pendekatan humanistik kurang
menekankan pada jkurikulum standar, perencanaan pembelajar, ujian, sertifikasi
pendidik, dan kewajiban hadir di lembaga pendidikan.
Dalam
praktik pembelajar, pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajar
individual dan kelompok kecil. Namun pendekatan humanistik mempersyaratkan
perubahan status pendidik dari individu yang lebih mengetahui dan terampil
segala sesuatu menjadi individu yang memiliki status kesetaraan dengan orang
dewasa. Pilihan materi pembelajar yang hendak digunakan dalam proses
pembelajaran merupakan hak orang dewasa, dan bukan menjadi hak pendidik yang
akan disampaikan kepada orang dewasa atau perancang kurikulum.
Pendekatan
humanistik selalu memelihara kebebasan orang dewasa untuk tumbuh dan melindungi
orang dewasa dari tekanan keluarga dan masyarakat. Penggunaan metode humanistik
dalam pendidikan akan memungkinkan orang dewasa menjadi individu beraktualisasi
diri. Kreativitas individu yang beraktualisasi diri, telah melekat pada setiap
anak, tidak memerlukan bakat dan kemampuan tertentu. Kreativitas itu memerlukan
lingkungan yang mendukung perkembangan. Namun demikian hasil belajar dalam
pendekatan humanistik itu sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar
diukur, sebab pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan
keterampilan, sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih
bersifat personal.
2.3.Pandangan Humanistik dalam Belajar
A.Pandangan Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua
hal :
(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam
upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing
orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau
berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah
ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan
untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua
kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu
juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs)
manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan
pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan
yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya.
Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting
yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan
bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau
kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
B.Pandangan Karl Rogers
Adalah
seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai
dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah kehidupannya.
Menurutnya hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru
memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :
·
Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar
untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada
artinya. Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya.
Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru
sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. Belajar
yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari
bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang
terpenting adalah :
·
Manusia itu
mempunyai kemampuan belajar secara alami
·
Belajar yang
signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi
dengan maksud – maksud tersendiri.
·
Belajar yang
menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri di anggap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
·
Belajar yang
bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
·
Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung
jawab terhadap proses belajar itu.
·
Bagaimana
proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar
karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari,
mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri
tentang apakah proses belajarnya berhasil.
2.4.Prinsip-prinsip Pendekatan Humanistik
Ada beberapa asumsi yang mendasari
pendekatan humanistik dalam pendidikan. Pertama, orang dewasa mempelajari apa
yang mereka butuhkan dan ingin diketahui. Kedua, belajar tentang cara-cara
belajar adalah lebih penting dibandingkan dengan memperoleh pengetahuan aktual.
Ketiga, evaluasi yang dilakukan oleh orang dewasa sendiri adalah sangat
bermanfaat dari pekerjaannya. Keempat, perasaan adalah sama pentingnya dengan
fakta, dan belajar merasakan adalah sama pentingnya dengan belajar cara-cara
berpikir. Kelima, belajar akan terjadi apabila orang dewasa tidak merasakan
adanya ancaman.
1.Swa Arah(Self-Direction)
Prinsip
swa arah menyatakan bahwa lembaga pendidikan hendaknya membrikan kesempatan
kepada orang dewasa untuk mmutuskan bahan belajar yang ingin dipelajari. Bahan
belajar yang ingin dipelajari orang dewasa adalah yang memenuhi kebutuhan,
keinginan, hasrat ingin tahu, dan fantasinya. Prinsip ini lebih menekankan pada
motivasi intrinsik, dorongan dari dalam untuk bereksplorasi, dan hasrat ingin
tahu yang timbl dari dalam diri sendiri.
Tugas
fasilitator didalam mengarahkan orang dewasa menjadi pebelajar swa-arah adalah
sebagai berikut:
a. Mendorong orang dewasa untk memenuh
kompetensi baru,
b. Membantu memperjelas apirasinya guna
meningkatkan kompetensinya,
c. Membantu mendiagnosis kesenjangan
antara aspirasi dengan kinerjanya sekarang,
d. Membantu mengidentifikasi
masalah-masalah kehidupan yang mereka alami, dan
e. Melibatkan orang dewasa dalam proses
merumuskan tujuan belajar dengan mempertimbangkan kbutuahan orang dewasa yang
telah didiagnosis.
2.belajar tentang Cara-cara Belajar(learning how to learn)
Prinsip
kedua dalam pendekatan humanistik adalah bahwa lembaga pendidikan hendaknya
menghasilkan anak-anak yang secara terus menerus menumbuhkan keinginannya untuk
belajar dan mengetahui cara-cara belajar. Pengetahuan yang diperoleh anak dari
orang lain adalah kurang berharga. Bagi anak-anak, apa yang dipelajari tidak
membuat kenyataan itu berbeda, elama anak-anak itu ingin mempelajarinya. Tugas
lembaga pendidikan adalah membuat anak ingin belajar dengan tujuan yang
eksplisit.
Tugas
fasilitator dalam membantu orang dewasa mengetahui cara-cara belajar adalah
sebagai berikut:
a. Memotivasi orang dewasa mempelajari
tugas-tugas belajar yang tlah dirancang bersama,
b. Membantu merancang pengalaman
blajar, memilih bahan belajar, dan metode belajar, dan melibatkan orang dewasa
dalam pembuatan keputusan bersama.
3.Evaluasi Diri(Self-Evaluation)
Prinsip
ini menyatakan bahwa evaluasi diri adalah sangat diharapkan oleh orang dewasa.
Evaluasi diri diri merupakan prasyarat bagi perkembangan kemandirian orang
dewasa. Evaluasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan atau pendidik yang
diakhiri dengan kenaikan kelas dan kelulusan dipandang sebagai tindakan yang
mengganggu aktivitas belajar orang dewasa.
Tugas
fasilitator didalam kegiatan evaluasi diri pada orang dewasa adalah sebagai
berikut:
a. Melibatkan orang dewasa dalam
mengembangkan kriteria kinerja, dan metod dalam mengukur kemajuan tujuan
belajarnya,
b. Membantu mengembangkan dan
menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.
4.Pentingnya Prasaan(Important of Feelings)
Pendekatan
humanistik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar; dalam
arti kedua domain itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan. Dalam praktik pembelajar ada kecenderungan pendidik lebih
terkonsentrasi pada domain kognitif dan melupakan domain afektif. Dalam
pandangan humanistik, domain afektif adalah sama pentingnya dengan domain
kognitif, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.
Tugas
fasilitator dalam mengembangan perasaan positif orang dewasa terhadap
pembelajar adalah sebagai berikut:
a. Membantu orang dewasa menggunakan
pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti
diskusi, permainan peran, studi kasus, dan sebagainya,
b. Menyampaikan isi pembelajar
berdasarkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pengalaman orang
dewasa,
c. Membantu menerapkan hasil belajar
kedalam dunia nyata.
5.Bebas dari Ancaman(Freedom of Threat)
Belajar
akan lebih mudah, lebih bermakna, dan lebih diperkuat apabila belajar itu
terjadi dalam suasana yang bebas dari ancaman. Pendidikan yang berlangsung
selama ini dipandang oleh pakar humanistik sebagai tempat yang tidak menghargai
orang dewasa. Persoalan utamanya adalah orang dewasa selalu dikendalikan dan
dievaluasi oleh lembaga pendidikan dan pendidik, mereka tidak memiliki pilihan
untuk memilih bahan belajar, dan tidak ada kesempatan memilih kegiatan belajar
dengan gaya belajarnya sendiri. Berbagai persoalan itu akan menjadi ancaman
pebelajar yang pada gilirannya akan mengganggu belajarnya.
Tugas
fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah
sebagai berikut:
a. Menciptakan kondisi fisik yang
menyenangkan, seperti tempat duduk, ventilasi, lampu, dan kondusif untuk
terciptanya interaksi antar peserta didik,
b. Memandang bahwa setiap orang dewasa
merupakan pribadi yang bermanfaat, dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasannya,
c. Membangun hubungan saling membantu
antar orang dewasa dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat
kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.
2.5.Fungsi Pendidik Humanistik
Peran
pendidik dalam pendekatan humanistik adalah sebagai fasilitator belajar.
Pendidik adalah individu yang memiliki tugas membimbing belajar, sebagai model
pemecahan masalah, sebagai katalisator dalam memprakarsai proses belajar,
sebagai pembantu dalam proses belajar, sebagai teman orang dewasa dalam
mengkaji dan memecahkan masalah. Sementara itu tanggung jawab belajar dan
pemilihan kegiatan belajar adalah tetap pada diri orang dewasa itu sendiri. Ada
lima peran yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan kegiatan
pembelajar humanistik, diantaranya adalah:
a)
Menciptakan Iklim Belajar
Lingkungan belajar dapat
mempengaruhi aktivitas belajar orang dewasa. Didalam aktivitas belajar
kelompok, lingkungan fisik memerlukan kondisi yang menyenangkan, seperti
temperatur, ventilasi udara, ruang istirahat, tempat duduk, lampu penerangan,
dan sebagainya perlu diperhatikan dalam menata ruang belajar. Syarat minimal
lingkungan belajar yang harus dipenuhi adalah buku-buku, pamflet, buku panduan,
jurnal, film, slide, tape recorder, dan audio visual aids. Ada 4 faktor utama
yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi
kegiatan belajar orang dewasa, yaitu:
·
Persiapan
sarana dan kegiatan belajar, pemberitahuan kegiatan belajar yang disampaikan
kepada orang dewasa akan memberikan dampak positif terhadap iklim belajar
apabila tampilan pemberitahuan tersebut mampu memberikan semangat dan cita rasa
serta harapan kepada orang dewasa.
·
Pengaturan
lingkungan fisik, sebelum kegiatan belajar dimulai, lingkungan fisik hendaknya
ditata sehingga tampak menyenangkan.
·
Pembukaan
kegiatan belajar, ada beberapa hal yang
dapat dilakukan oleh pendidik dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Pada kegiatan diskusi, misalnya, dalam pembukaan kegiatan belajar dapat
dijadikan forum untuk saling berkenalan antara orang dewasa dengan orang dewasa
atau antara orang dewasa dengan pendidik.
·
Membangun
suasana kebersamaan, membangun kebersamaan orang dewasa didalam kelompok adalah
gampang-gampang susah, lebih-lebih pada awal kegiatan belajar. Apabila pendidik
mampu memfasilitasi orang dewasa untuk membangun kebersamaan dengan prakarsa
sendiri, berarti dia telah memperoleh keberhasilan awal dalam melaksanakan
kegiatan belajar.
b)
Memenuhi Kebutuhan Belajar Orang
Dewasa
Kebutuhan mencerminkan kondisi tidak
seimbang atau kesenjangan antara situasi yang ada dengan keadaan yang
seharusnya atau perubahan seperangkat kondisi yang diasumsikan menjadi lebih
diinginkan. Kebutuhan pendidikan adalah segala sesuatu yang harus dipelajari
oleh orang dewasa untuk kebaikannya sendiri atau untuk kebaikan masyarakat.
Kebutuhan itu merupakan kesenjangan antara tingkat kompetensi sekarang dengan
tingkat lebih tinggi yang diperlukan bagi kinerja yang efektif seperti yang
ditetapkan oleh dirinya sendiri.
c)
Membantu Mengungkapkan Emosi
Didalam kegiatan belajar humanistik,
fasilitator hendaknya membantu orang dewasa mengungkapkan emosinya. Fasilitator
perlu melakukan cara-cara yang dilakukan oleh para psikiater atau psikolog
klinis. Misalnya, pendidik ingin mengajarkan tentang pross penolakan dan
penerimaan anggota kelompok. Pendidik yang melaksanakan pendekatan humanistik
akan selalu terlibat dalam kegiatan kehidupan emosional orang dewasa. Pendidik yang
mampu memahami kondisi emosional orang dewasa akan berhasil dalam melaksanakan
kegiatan belajar.
d)
Membantu Belajar
Untuk menjadi pendidik humanistik,
seseorang harus mampu dan mau mendengarkan, mengelola gagasan, mengemas sumbang
saran yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah menjadi kebutuhan belajar
orang dewasa. Kemampuan berkomunikasi yang membuat orang dewasa merasa nyaman
adalah menjadi kunci utama efektivitas pendidik dalam melaksanakan kegiatan
belajar, selain kepekaan dalam menangkap situasi orang dewasa. Oleh karena itu
belajar sambil bekerja merupakan pengalaman terbaik untuk menambah keterampilan
memfasilitasi aktivitas belajar orang dewasa.
2.6.Bentuk Pendidikan Humanistik
Program
pembelajaran yang diterapkan dalam pendekatan humanistik umumnya menggunakan
kegiatan terbuka dimana orang dewasa harus menemukan informasi, membuat
keputusan, memecahkan masalah, dan membuat produk sendiri. Misalnya, pendidik
meminta orang dewasa menulis sejarah lembaga pendidikannya, dan mereka harus
bertanggung jawab dalam melakukan mencari arsip-arsip dan dokumen lain,
melakukan wawancara dengan pendidik yang dipandang memahami perkembangan
lembaga pendidikan, dan mencari dokumen-dokumen yang berada diluar lembaga
pendidikan. Pendidik humanistik cenderung lebih menyukai penggunaan metode
pembelajar field trip diluar lembaga pendidikan karena orang dewasa akan mampu
mengeksplorasi fenomena yang terjadi di dunia nyata.
Orang
dewasa dapat belajar mandiri atau belajar dengan kelompok. Dengan cara ini pelajaran
tidak ditetapkan dengan menggunakan jadwal pelajaran secara ketat, sebab orang
dewasa memilih belajarnya sendiri. Orang dewasa yang tertarik dengan pelajaran
tertentu, dia diminta melanjutkan pelajaran tersebut, dan apabila mereka bosan
dengan pelajaran tersebut, dia dapat melaksanakan pelajaran yang lain. Walaupun
demikian mereka diminta setiap hari belajar membaca, menulis, dan berhitung
dengan tanggung jawab belajar sendiri. Pendidik bertindak sebagai pengamat,
pembimbing, dan mitra belajar dewasa. Cara ini dilakukan karena diasumsikan
bahwa orang dewasa dapat belajar mandiri dengan cara yang terbaik bagi dirinya
sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Teori
pembelajaran humanisme adalah teori yang berorientasi pada aspek kemanusiaan.
Proses pembelajaran harus berasal dan berakhir pada manusia itu sendiri. Teori
ini terpusat pada ide atau cara-cara dalam beajar agar para peserta didik dapat
merasa nyaman dan senag untuk belajar, karena tujuan dari teori ini untuk
memanusiakan manusia. Pada proses pembelajarannya, pembelajaran harus memiliki
makna, sehingga proses pembelajaran yang dilakukan tidak menjadi sia-sia. Jika
proses pembelajaran memiliki makna, maka para peserta didik pun akan mudah
mengingat dan menerapkan segala sesuatu yang dipelajarinya. Namun
kelemahan dari teori ini adalah sulitnya menerapkan teori ini dalam proses
pembelajaran. Padahal teori ini sangatlah ideal, dengan pemahaman ini para pendidik
dapat lebih memahami hakikat jiwa manusia dan dapat membantu para pendidik
menentukan strategi belajar yang tepat secara lebih terarah dan tidak
semata-mata hanya berdasarkan keinginannya sendiri.
3.2 Saran
Pendidik
harus bisa mendorong peserta didik untuk belajar atas inisiatif sendiri bukan
karena suatu paksaan, pendidik juga harus memahami jalan pikiran peserta
didik dan menerima apa adanya. Pendidik harus mampu mendorong peserta
didik untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Rifai, Achmad
dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan.
Semarang: Unnes Press
Dr. Iskandar,
M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan. Cipayung: Gaung Persada ( GP ) Press





01.03
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar