My Melody Crying
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA FEBRIA TRI HIDAYATI TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Minggu, 24 Mei 2015

TEORI HUMANISTIK



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
            Belajar  bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan terhadap lingkungan, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapan, kemampuan, daya reaksi dan daya penerimaan. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa.
            Didalam pembelajaran juga perlu adanya guru dan siswa, dan dukungan suatu teori belajar, karena tanpa guru siswa tidak akan dikatakan siswa, dan begitu juga sebaliknya tanpa siswa guru tidak akan disebut  guru kalau tidak ada siswa, juga dalam pembelajaran tidak akan terlepas dengan teori karena teori itulah yang akan merangsang kemampuan para sisiwa atas apa yang dimiliki dalam dirirnya.
            Secara keseluruhan teori belajar di kelompokan menjadi empat kelompok atau aliran meliputi:
(1) Teori Belajar Behavioristik
(2) Teori Belajar Kognitifistik
(3) Teori Belajar Konstruktifistik
(4) Teori Belajar Humanistik.
            Atas dasar keempat tersebut pemakalah akan menerangkan salah satu dari teori-teori diatas, yaitu teori belajar humanistik. Pada hakikatnya teori ini berkembang dari aliran psikologi yang kemudian berpengaruh terhadap arah pengembangan teori, praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran humanistik.

1.2.RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari teori humanistik ?
2.      Bagaimana akar gerakan humanistik ?
3.      Bagaimana pandangan humanistik dalam belajar ?
4.      Bagaimana prinsip-prinsip pendekatan humanistik ?
5.      Apa fungsi pendidik humanistik ?
6.      Bagaimana bentuk pendidikan humanistik ?

1.3.TUJUAN
1.      Menjelaskan pengertian dari teori humanistik.
2.      Menjelaskan akar perkembangan teori humanistik.
3.      Menjelaskan pandangan humanistik dalam belajar.
4.      Menjelaskan prinsip-prinsip pendekatan humanistik.
5.      Menjelaskan fungsi pendidik humanistik.
6.      Menjelaskan bentuk pendidikan humanistik








BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Teori Humanistik
          Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
          Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
          Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
      1. Proses pemerolehan informasi baru,
      2. Personalia informasi ini pada individu.
Teori humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian ilmu filsafat, kepribadian dan psikoterapi daripada bidang kajian-kajian psikologi dalam belajar. Teori ini sangat mementingkan obyek yang dipelajari dari pada proses belajar tersebut.
Teori humanistik ini lebih banyak membahas tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, dan mengenai proses belajar dalam bentuk yang terbaik. Atau bisa dikatakan bahwa teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam bentuknya yang paling sempurna dari pada pemahaman mengenai proses belajar seperti yang selama ini telah dikaji berdasarkan teori-teori belajar.
Di dalam pelaksanaannya, teori ini terlihat juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Dia berpandangan bahwa belajar bermakna atau yang juga tergolong dalam aliran kognitif yang mengatakan bahwa belajar adalah asimilasi penuh makna. Materi pelajaran diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam proses belajar, karena tanpa motivasi dan keinginan dari pihak pelajar, tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada.


2.2.Akar Gerakan Humanistik
            Praktik pendidikan humanistik tidak jauh berbeda dengan pendidikan progresif selama paroh pertama tahun 1900an. John Dewey adalah seorang pelopor pendidikan progresif yang melawan pendidikan yang tidak relevan dengan masyarakat industri. Dia melawan orang-oang yang berpegang teguh pada waktu, menolak gagasan psikologi modern, penggunaan latihan (drill) sebagai metode pembelajaran, dan beberapa aspek pendidikan yang tidak memiliki nilai manfaat dan bersifat dekoratif. Para pendidik humanistik merupakan penerus dari gagasan John Dewey tersebut. Mereka percaya bahwa masyarakat perkotaan kontemporer akan menjadi masyarakat yang tidak peka terhadap lingkungan. Para pakar pendekatan humanistik percaya bahwa setiap individu anak memiliki sifat-sifat kebajikan yang berasal dari dalam dan bersifat realistik. Demikian pula anak-anak akan berkembang sepanjang mereka mampu mengembangkannya.
            Hasil belajar dalam pandangan humanistik adalah kemampuan orang dewasa mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendii dan mandiri. Disamping itu pendekatan humanistik memandang pentingnya penekatan pendidikan dibidang kreativitas, minat terhadap seni, dan hasrat ingin tahu. Oleh karena itu pendekatan humanistik kurang menekankan pada jkurikulum standar, perencanaan pembelajar, ujian, sertifikasi pendidik, dan kewajiban hadir di lembaga pendidikan.
            Dalam praktik pembelajar, pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajar individual dan kelompok kecil. Namun pendekatan humanistik mempersyaratkan perubahan status pendidik dari individu yang lebih mengetahui dan terampil segala sesuatu menjadi individu yang memiliki status kesetaraan dengan orang dewasa. Pilihan materi pembelajar yang hendak digunakan dalam proses pembelajaran merupakan hak orang dewasa, dan bukan menjadi hak pendidik yang akan disampaikan kepada orang dewasa atau perancang kurikulum.
            Pendekatan humanistik selalu memelihara kebebasan orang dewasa untuk tumbuh dan melindungi orang dewasa dari tekanan keluarga dan masyarakat. Penggunaan metode humanistik dalam pendidikan akan memungkinkan orang dewasa menjadi individu beraktualisasi diri. Kreativitas individu yang beraktualisasi diri, telah melekat pada setiap anak, tidak memerlukan bakat dan kemampuan tertentu. Kreativitas itu memerlukan lingkungan yang mendukung perkembangan. Namun demikian hasil belajar dalam pendekatan humanistik itu sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan keterampilan, sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih bersifat personal.

2.3.Pandangan Humanistik dalam Belajar
A.Pandangan Abraham Maslow
            Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
       (1)      suatu usaha yang positif untuk berkembang
       (2)      kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

B.Pandangan Karl Rogers
                Adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah kehidupannya. Menurutnya hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :
·         Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada artinya. Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
            Dari bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang terpenting adalah :
·         Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
·         Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud tersendiri.
·         Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri di anggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
·         Belajar yang bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
·         Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu. 
·         Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.

2.4.Prinsip-prinsip Pendekatan Humanistik
            Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam pendidikan. Pertama, orang dewasa mempelajari apa yang mereka butuhkan dan ingin diketahui. Kedua, belajar tentang cara-cara belajar adalah lebih penting dibandingkan dengan memperoleh pengetahuan aktual. Ketiga, evaluasi yang dilakukan oleh orang dewasa sendiri adalah sangat bermanfaat dari pekerjaannya. Keempat, perasaan adalah sama pentingnya dengan fakta, dan belajar merasakan adalah sama pentingnya dengan belajar cara-cara berpikir. Kelima, belajar akan terjadi apabila orang dewasa tidak merasakan adanya ancaman.
1.Swa Arah(Self-Direction)
            Prinsip swa arah menyatakan bahwa lembaga pendidikan hendaknya membrikan kesempatan kepada orang dewasa untuk mmutuskan bahan belajar yang ingin dipelajari. Bahan belajar yang ingin dipelajari orang dewasa adalah yang memenuhi kebutuhan, keinginan, hasrat ingin tahu, dan fantasinya. Prinsip ini lebih menekankan pada motivasi intrinsik, dorongan dari dalam untuk bereksplorasi, dan hasrat ingin tahu yang timbl dari dalam diri sendiri.
            Tugas fasilitator didalam mengarahkan orang dewasa menjadi pebelajar swa-arah adalah sebagai berikut:
a.       Mendorong orang dewasa untk memenuh kompetensi baru,
b.      Membantu memperjelas apirasinya guna meningkatkan kompetensinya,
c.       Membantu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi dengan kinerjanya sekarang,
d.      Membantu mengidentifikasi masalah-masalah kehidupan yang mereka alami, dan
e.       Melibatkan orang dewasa dalam proses merumuskan tujuan belajar dengan mempertimbangkan kbutuahan orang dewasa yang telah didiagnosis.

2.belajar tentang Cara-cara Belajar(learning how to learn)
            Prinsip kedua dalam pendekatan humanistik adalah bahwa lembaga pendidikan hendaknya menghasilkan anak-anak yang secara terus menerus menumbuhkan keinginannya untuk belajar dan mengetahui cara-cara belajar. Pengetahuan yang diperoleh anak dari orang lain adalah kurang berharga. Bagi anak-anak, apa yang dipelajari tidak membuat kenyataan itu berbeda, elama anak-anak itu ingin mempelajarinya. Tugas lembaga pendidikan adalah membuat anak ingin belajar dengan tujuan yang eksplisit.
            Tugas fasilitator dalam membantu orang dewasa mengetahui cara-cara belajar adalah sebagai berikut:
a.       Memotivasi orang dewasa mempelajari tugas-tugas belajar yang tlah dirancang bersama,
b.      Membantu merancang pengalaman blajar, memilih bahan belajar, dan metode belajar, dan melibatkan orang dewasa dalam pembuatan keputusan bersama.

3.Evaluasi Diri(Self-Evaluation)
            Prinsip ini menyatakan bahwa evaluasi diri adalah sangat diharapkan oleh orang dewasa. Evaluasi diri diri merupakan prasyarat bagi perkembangan kemandirian orang dewasa. Evaluasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan atau pendidik yang diakhiri dengan kenaikan kelas dan kelulusan dipandang sebagai tindakan yang mengganggu aktivitas belajar orang dewasa.
            Tugas fasilitator didalam kegiatan evaluasi diri pada orang dewasa adalah sebagai berikut:
a.       Melibatkan orang dewasa dalam mengembangkan kriteria kinerja, dan metod dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya,
b.      Membantu mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.

4.Pentingnya Prasaan(Important of Feelings)
            Pendekatan humanistik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar; dalam arti kedua domain itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam praktik pembelajar ada kecenderungan pendidik lebih terkonsentrasi pada domain kognitif dan melupakan domain afektif. Dalam pandangan humanistik, domain afektif adalah sama pentingnya dengan domain kognitif, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.
            Tugas fasilitator dalam mengembangan perasaan positif orang dewasa terhadap pembelajar adalah sebagai berikut:
a.       Membantu orang dewasa menggunakan pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti diskusi, permainan peran, studi kasus, dan sebagainya,
b.      Menyampaikan isi pembelajar berdasarkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pengalaman orang dewasa,
c.       Membantu menerapkan hasil belajar kedalam dunia nyata.

5.Bebas dari Ancaman(Freedom of Threat)
            Belajar akan lebih mudah, lebih bermakna, dan lebih diperkuat apabila belajar itu terjadi dalam suasana yang bebas dari ancaman. Pendidikan yang berlangsung selama ini dipandang oleh pakar humanistik sebagai tempat yang tidak menghargai orang dewasa. Persoalan utamanya adalah orang dewasa selalu dikendalikan dan dievaluasi oleh lembaga pendidikan dan pendidik, mereka tidak memiliki pilihan untuk memilih bahan belajar, dan tidak ada kesempatan memilih kegiatan belajar dengan gaya belajarnya sendiri. Berbagai persoalan itu akan menjadi ancaman pebelajar yang pada gilirannya akan mengganggu belajarnya.
            Tugas fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah sebagai berikut:
a.       Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan, seperti tempat duduk, ventilasi, lampu, dan kondusif untuk terciptanya interaksi antar peserta didik,
b.      Memandang bahwa setiap orang dewasa merupakan pribadi yang bermanfaat, dan menghormati  perasaan dan gagasan-gagasannya,
c.       Membangun hubungan saling membantu antar orang dewasa dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.

2.5.Fungsi Pendidik Humanistik
            Peran pendidik dalam pendekatan humanistik adalah sebagai fasilitator belajar. Pendidik adalah individu yang memiliki tugas membimbing belajar, sebagai model pemecahan masalah, sebagai katalisator dalam memprakarsai proses belajar, sebagai pembantu dalam proses belajar, sebagai teman orang dewasa dalam mengkaji dan memecahkan masalah. Sementara itu tanggung jawab belajar dan pemilihan kegiatan belajar adalah tetap pada diri orang dewasa itu sendiri. Ada lima peran yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajar humanistik, diantaranya adalah:
a)      Menciptakan Iklim Belajar
Lingkungan belajar dapat mempengaruhi aktivitas belajar orang dewasa. Didalam aktivitas belajar kelompok, lingkungan fisik memerlukan kondisi yang menyenangkan, seperti temperatur, ventilasi udara, ruang istirahat, tempat duduk, lampu penerangan, dan sebagainya perlu diperhatikan dalam menata ruang belajar. Syarat minimal lingkungan belajar yang harus dipenuhi adalah buku-buku, pamflet, buku panduan, jurnal, film, slide, tape recorder, dan audio visual aids. Ada 4 faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi kegiatan belajar orang dewasa, yaitu:
·         Persiapan sarana dan kegiatan belajar, pemberitahuan kegiatan belajar yang disampaikan kepada orang dewasa akan memberikan dampak positif terhadap iklim belajar apabila tampilan pemberitahuan tersebut mampu memberikan semangat dan cita rasa serta harapan kepada orang dewasa.
·         Pengaturan lingkungan fisik, sebelum kegiatan belajar dimulai, lingkungan fisik hendaknya ditata sehingga tampak menyenangkan.
·         Pembukaan kegiatan belajar, ada beberapa  hal yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Pada kegiatan diskusi, misalnya, dalam pembukaan kegiatan belajar dapat dijadikan forum untuk saling berkenalan antara orang dewasa dengan orang dewasa atau antara orang dewasa dengan pendidik.
·         Membangun suasana kebersamaan, membangun kebersamaan orang dewasa didalam kelompok adalah gampang-gampang susah, lebih-lebih pada awal kegiatan belajar. Apabila pendidik mampu memfasilitasi orang dewasa untuk membangun kebersamaan dengan prakarsa sendiri, berarti dia telah memperoleh keberhasilan awal dalam melaksanakan kegiatan belajar.
b)     Memenuhi Kebutuhan Belajar Orang Dewasa
Kebutuhan mencerminkan kondisi tidak seimbang atau kesenjangan antara situasi yang ada dengan keadaan yang seharusnya atau perubahan seperangkat kondisi yang diasumsikan menjadi lebih diinginkan. Kebutuhan pendidikan adalah segala sesuatu yang harus dipelajari oleh orang dewasa untuk kebaikannya sendiri atau untuk kebaikan masyarakat. Kebutuhan itu merupakan kesenjangan antara tingkat kompetensi sekarang dengan tingkat lebih tinggi yang diperlukan bagi kinerja yang efektif seperti yang ditetapkan oleh dirinya sendiri.
c)      Membantu Mengungkapkan Emosi
Didalam kegiatan belajar humanistik, fasilitator hendaknya membantu orang dewasa mengungkapkan emosinya. Fasilitator perlu melakukan cara-cara yang dilakukan oleh para psikiater atau psikolog klinis. Misalnya, pendidik ingin mengajarkan tentang pross penolakan dan penerimaan anggota kelompok. Pendidik yang melaksanakan pendekatan humanistik akan selalu terlibat dalam kegiatan kehidupan emosional orang dewasa. Pendidik yang mampu memahami kondisi emosional orang dewasa akan berhasil dalam melaksanakan kegiatan belajar.
d)     Membantu Belajar
Untuk menjadi pendidik humanistik, seseorang harus mampu dan mau mendengarkan, mengelola gagasan, mengemas sumbang saran yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah menjadi kebutuhan belajar orang dewasa. Kemampuan berkomunikasi yang membuat orang dewasa merasa nyaman adalah menjadi kunci utama efektivitas pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar, selain kepekaan dalam menangkap situasi orang dewasa. Oleh karena itu belajar sambil bekerja merupakan pengalaman terbaik untuk menambah keterampilan memfasilitasi aktivitas belajar orang dewasa.

2.6.Bentuk Pendidikan Humanistik
            Program pembelajaran yang diterapkan dalam pendekatan humanistik umumnya menggunakan kegiatan terbuka dimana orang dewasa harus menemukan informasi, membuat keputusan, memecahkan masalah, dan membuat produk sendiri. Misalnya, pendidik meminta orang dewasa menulis sejarah lembaga pendidikannya, dan mereka harus bertanggung jawab dalam melakukan mencari arsip-arsip dan dokumen lain, melakukan wawancara dengan pendidik yang dipandang memahami perkembangan lembaga pendidikan, dan mencari dokumen-dokumen yang berada diluar lembaga pendidikan. Pendidik humanistik cenderung lebih menyukai penggunaan metode pembelajar field trip diluar lembaga pendidikan karena orang dewasa akan mampu mengeksplorasi fenomena yang terjadi di dunia nyata.
            Orang dewasa dapat belajar mandiri atau belajar dengan kelompok. Dengan cara ini pelajaran tidak ditetapkan dengan menggunakan jadwal pelajaran secara ketat, sebab orang dewasa memilih belajarnya sendiri. Orang dewasa yang tertarik dengan pelajaran tertentu, dia diminta melanjutkan pelajaran tersebut, dan apabila mereka bosan dengan pelajaran tersebut, dia dapat melaksanakan pelajaran yang lain. Walaupun demikian mereka diminta setiap hari belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan tanggung jawab belajar sendiri. Pendidik bertindak sebagai pengamat, pembimbing, dan mitra belajar dewasa. Cara ini dilakukan karena diasumsikan bahwa orang dewasa dapat belajar mandiri dengan cara yang terbaik bagi dirinya sendiri.










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Teori pembelajaran humanisme adalah teori yang berorientasi pada aspek kemanusiaan. Proses pembelajaran harus berasal dan berakhir pada manusia itu sendiri. Teori ini terpusat pada ide atau cara-cara dalam beajar agar para peserta didik dapat merasa nyaman dan senag untuk belajar, karena tujuan dari teori ini untuk memanusiakan manusia. Pada proses pembelajarannya, pembelajaran harus memiliki makna, sehingga proses pembelajaran yang dilakukan tidak menjadi sia-sia. Jika proses pembelajaran memiliki makna, maka para peserta didik pun akan mudah mengingat dan menerapkan segala sesuatu yang dipelajarinya.  Namun kelemahan dari teori ini adalah sulitnya menerapkan teori ini dalam proses pembelajaran. Padahal teori ini sangatlah ideal, dengan pemahaman ini para pendidik dapat lebih memahami hakikat jiwa manusia dan dapat membantu para pendidik menentukan strategi belajar yang tepat secara lebih terarah dan tidak semata-mata hanya berdasarkan keinginannya sendiri.

3.2 Saran
            Pendidik harus bisa mendorong peserta didik untuk belajar atas inisiatif sendiri bukan karena suatu paksaan, pendidik juga harus memahami jalan pikiran  peserta didik dan menerima apa adanya. Pendidik harus mampu mendorong  peserta didik untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.





























DAFTAR PUSTAKA

Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press

Dr. Iskandar, M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan. Cipayung: Gaung Persada ( GP ) Press

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys