BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Dalam penentuan prioritas, aspek
penilaian dan kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan
unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian
dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah. Namun,
penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan
langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan
secara jelas. Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas dalah
menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat
berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda
pula. Terlalu sering kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak
pada satu dimensi.
Langkah utama dan pertama dalam
mengelola program pembelajaran atau pemberdayaan masyarakat adalah menemukenali
atau menjajagi dan mengetahui kebutuhn belajar kelompok sasaran dan sejauh mana
kebutuhan tersebut dipenuhi. Seterusnya mengungkap sumber belajar potensial
yang dimungkinkan dapat mendukung keberlangsungan program yang dibuat. Langkah
ini merupakan langkah yang bersifat mutlak dan esensial. Langkah ini merupakan
langkah yang paling kritis dan akan menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Mengingat pentingnya langkah ini, maka dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar
perlu perhatian dan persiapan yang serius sehingga program pembelajaran yang
dirancang memberi manfaat yang fungsional bagi kelompok sasaran. Kata
“kebutuhan” menunjukkan adanya sesuatu yang kurang. Sedangkan kata “program
pembelajaran” menunjukkan bahwa “kekurangan” tersebut dapat dipenuhi melalui
perancangan kegiatan pembelajaran tertentu.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Dari
latar belakang diatas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
saja kategori di dalam kebutuhan belajar ?
2. Bagaimana
proses penetapan prioritas kebutuhan belajar ?
1.3.TUJUAN
Dari
rumusan masalah diatas kita dapat mengetahui tujuannya sebagai berikut :
1. Mahasiswa
dapat mengetahui kategori-kategori didalam kebutuhan belajar.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui proses-proses penetapan prioritas kebutuhan belajar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Kategori didalam Kebutuhan Belajar
Secara garis besar dapat dikatakan
bahwa kebutuhan belajar adalah selisih antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang diharapkan atau diminta dengan pengetahuan,sikap dan
keterampilan yang telah dimiliki oleh seseorang atau selisih diantara prestasi
yang diminta dengan prestasi yang telah dicapai. Kebutuhan belajar pada
dasarnya terbagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat atau jenjang sebagai
berikut :
a.
Kebutuhan
belajar tingkat Organisai/Lembaga/masyarakat
Secara
umum, kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat didasarkan pada adanya
tujuan lembaga/organisasi/masyarakat yang bersangkutan. Pertanyaan yang muncul
sehubungan dengan kebutuhan belajar lembaga/organisasi/masyarakat yaitu mencoba
untuk membandingkan “capaian lembaga/organiasi/masyarakat” dengan tujuan yang
diharapkan, kelemahan apa yang ditemukan sehingga tujuan lembaga/organisasi/masyarakat
tidak tecapai.
b.
Kebutuhan
pada tingkat individu
Kebutuhan ini menentukan “siapa”
membutuhkan pemenuhan lebutuhan belajar “apa”,
yaitu mencoba untuk menemukan adanya
kesenjangan antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan pada setiap individu yang dimiliki sekarang
dengan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang dituntut agar
dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi
2.2.Proses Penetapan Prioritas
Kebutuhan Belajar
a)
Menghitung
dan mentabulasi jawaban responden
Kartu
SKBM, questionaire, wawancara, hasil proses kelompok, indikator sosial, atau
proyeksi masa depan yang sudah terkumpul, di chek dan dilihat apakah masih ada
yang keliru mengisi atau menjawab pertanyaan yang ada, setelah itu lalu
dilakukan penghitungan.
b)
Menentukan
prioritas
Setelah
data kebutuhan dan sumber belajar dilakukan penghitungan dan ditabulasi dalam
tabel-tabel,langkah berikutnya adalah menentukan urutan dan prioritas kebutuhan
sumber blajar. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas kebutuhan dan
sumber belajar. Dalam memprioritaskan kebutuhan belajar untuk segera dipenuhi
hendaknya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut :
*Ditinjau
dari peminat/warga belajar;
*Ditinjau
dari segi manfaat kebutuhan belajar tersebut, baik bagi kepentingan
individu/keluarga, maupun untuk kepentingan pembangunan masyarakat daerah.
*Ditinjau
dari segi kelengkapan adanya sumber belajar(manusiawi), dana, sarana,
alat/bahan, tempat belajar dan lain-lain sumber yang menunjang terjadinya
proses kegiatan pembelajaran.
c)
Menjodohkan
kebutuhan dan sumber belajar
Langkah
pertama dalam menjodohkan ini adalah memilih kebutuhan belajar dengan
mempertimbangkan kriteria seperti dikemukakan pada langkah penetapan prioritas
diatas, lalu mencarikan sumber belajarnya. Semua kebutuhan dikelompokkan lalu dijodohkan
dengan sumber belajar yang cocok, dan selanjutnya menetapkan komponen pendukung
yang terkat dengan keberlangsungan program pembelajaran, seperti warga belajar,
tempat kegiatan pembelajaran, sarana belajar, dana belajarnya dan waktu proses
kegiatan belajarnya.
Apabila
kegiatan perjodohan sudah dilakukan maka tindakan selanjutnya adalaah merancang
program pembelajaran dan membentuk kelompok belajar. Dalam tahap perjodohan
inipun dapat diketahui pelajaran-pelajaran tambahan apa yang diingini oleh waga
belajar dan masyarakat.
d)
Menyimpulkan
Hal-hal
yang perlu dilakukan dalam menyimpulkan ini adalah menarik kesimpulan hasil
identifiksi kebutuhan dan sumber belajar didaerah itu. Pada proses penyimpulan
ini dipaparkan secara deskriptif dan selengkap mungkin hasil seluruh kegiatan
dan kejadian atau yang mungkin akan terjadi apabila kelompok belajar itu
didirikan. Sehingga dengan melihat dan memahami kesimpulan yang telah
dipaparkan, orang dapat mengetahui dan meramalkan kegiatan yang akan datang
untuk daerah itu. Selain itu diharapkan para pengambil kebijakan atau pimpinan
yang berwenang mendirikan kelompok belajar di daerah itu dapat secara tepat dan
cermat menyusun program pembelajaran sesuai kebutuhan belajar dan didukung
adanya potensi sumberdaya lokal yang memadai.
e)
Membentuk
kelompok belajar
Pembentukan
kelompok belajar harus sesuai dengan program yang telah disusun berdasarkan
keebutuhan belajar dan kesempatan sumber
belajar yang tersedia. Selain itu agar kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal
dapat berjalan dengan lancar harus berpegang pada 10 patokan pendidikan
nonformal,sehingga dalam kegiatannya tidak banyak mengalami hambatan yang
berarti. Kesepuluh patokan pendidikan nonformal tersebut adalah :
o
Warga
belajar , bagaimana minat warga belajar serta keadaannya.
Minat warga belajar besar atau kecil, keadaannya seperti kondisi sosial
ekonominya kuat atau tidaknya sehingga mempengaruhi berjalannya kelompok
belajar. Karena apabila kelompok belajar sudah berjalan kemudian berhenti
disebabkan warga belajar lebih mementingkan mencari nafkah atau alasan lain,
keberlangsungan proses pembelajaran yang terjadi pada kelompok belajar akan
tersendat-sendat.
o
Kelompok
belajar, berapa banyaknya anggota yang turut dalam kelompok
belajar itu. Mencukupi atau tidak. Kelompok belajar yang disyaratkan adalah
minimal 10 orang tiap kelompok.
o
Sumber
belajar(manusiawi), hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
sumber belajar adalah: bagaimana latar belakangnya? Pendidikannya,
latihan-latihan yang pernah diterima/diikuti, penataran yang pernah
diterima-berapa lama-dan lain-lain, dapatkah sumber belajar memotivasi warga
belajar? Bagaimana waktu yang bisa tersedia untuk kegiatan belajar? Dan
sebaganya.
o
Program
belajar, apa yang ingin dicapai dengan kegiatan belajar itu,
berapa lama dapat dicapai, kapan harus dimulai dan kapan aan berakhir,
bagaimmana persiapan proses pembelajarannya serta apa tolok ukurnya?
o
Sarana
belajar, dalam kelompok belajar itu sarana-sarana apa saja
yang diadakan? Ada sarana pokok, ada sarana penunjang, sarana bagi sumber
belajar dan sarana administrasi apa saja yang diperlukan.
o
Pamong
belajar, keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan
oleh kualitas atau kemampuan pamong belajar. Peran pamong belajar sebagai
pendidik pendidikan nonformal lebih banyak menciptakan suasana, memberi makna
pada pengalaman belajar, memancing ungkapan pengalaman, memberi umpan balik,
dan membantu membuat generalisasi.
o
Panti
belajar, tempat-tempat yang dimunginkan untuk panti belajar
perlu diteliti lebih dahulu keadaannya agar tidak mengecewakan kalau sudah
terlanjur berjalan.
o
Ragi
belajar, apa saja yang diperkirakan dapat mendorong
keberhasilan kegiatan belajar tersebut. Metode apa saja yang dapat digunakan
dalam kegiatan sehingga dapat meningkatkan semangat belajar warga belajar.
Menentukan siapa-siapa yang mempunyai kesempatan untuk mengunjungi kelompok
belajar sehingga bisa membangkitkan semangat belajar para warga belajar.
o
Dana
belajar, sudah adakah dana yang bisa dipakai untuk kegiatan
kelompok belajar yang akan diadakan? Kalau sudah ada,dari mana sumbernya,
bagaimana cara pemakaiannya, dan sebagainya.
o
Hasil
belajar, bagaimana akhir kegiatan kelompok belajar itu,
bagaimana hasil yang dicapai, perlukah diadakan test atau ujian, tanda
penghargaan dan sebagainya. Semuanya itu demi pemeliharaan semangat warga
belajar agar tidak hanya bersemangat pada waktu mengikuti kelompok belajar
saja. Dengan adanya tanda penghargaan bagi orang dewasa merupakan kebanggaan,
karena meskipun sudah berumur tetapi masih bisa belajar dengan baik.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Sutarto,Joko,
2008, Identifikasi Kebutuhan dan Sumber Belajar Pendidikan Nonformal,
Semarang: UNNES Press





01.19
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar