BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Keluarga adalah anugerah yang diberikan
oleh Allah kepada setiap manusia. Menjaga dan memelihara keutuhan keluarga
adalah hal yang harus selalu diperhatikan. Dalam sebuah keluarga kita harus
saling meningisi satu sama lainnya. Semua perbedaan baik pendapat atau
kebiasaan harus saling dipahami agar keluarga dapat hidup rukun.
Membina keluarga yang harmonis itu adalah
tugas bersama dalam anggota keluarga. Penyesuaian diri dalam keluarga itu
dibutuhkan agar keluarga damai dan tidak ada terjadi di percekcokan yang dapat
mengganggu keharmonisan keluarga.
Banyak kita lihat dikalangan masyarakat
terjadi perceraian, semua itu terjadi karena tidak adanya rasa saling memahami
dan penyesuaian diri yang tidak baik.
Rumah tangga merupakan perpaduan antara
berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua.
Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua
karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan. Tidak akan terbentuk irama yang indah
tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada
ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tanga, segala kekurangan dan
kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri
bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan
dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka. Jadi, keluarga
harmonis adalah keluarga yang hidup damai.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat ditarik
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa keharmonisan keluarga ?
2. Apa saja aspek-aspek keharmonisan
keluarga ?
3. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi
keharmonisan keluarga ?
4. Apa yang menyebabkan ketidak harmonisan
keluarga ?
5. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari
ketidak harmonisan keluarga ?
1.3 TUJUAN
Dari rumusan masalah diatas dapat
disimpulkan tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui
tentang keharmonisan keluarga.
2. Diharapkan mahasiswa mengetahui
aspek-aspek keharmonisan keluarga.
3. Diharapkan mahasiswa mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga .
4. Diharapan mahasiswa dapat mengetahui
penyebab ketidak harmonisan keluarga.
5. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui
dampak yang ditimbulkn dari ketidak harmonisan keluarga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KEHARMONISAN
KELUARGA
Keluarga merupakan satu organisasi sosial yang paling penting dalam
kelompok sosial dan keluarga merupakan lembaga di dalam masyarakat yang paling
utama bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan sosial dan kelestarian
biologis anak manusia (Kartono, 1977). Sedangkan menurut Hawari (1997)
keharmonisan keluarga itu akan terwujud apabila masing-masing unsur dalam
keluarga itu dapat berfungsi dan berperan sebagimana mestinya dan tetap berpegang
teguh pada nilai- nilai agama kita, maka interaksi sosial yang harmonis antar
unsur dalam keluarga itu akan dapat diciptakan.
Dalam kehidupan berkeluarga antara suami istri dituntut adanya
hubungan yang baik dalam arti diperlukan suasana yang harmonis yaitu dengan menciptakan
saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga, saling menghargai dan saling
memenuhi kebutuhan (Anonim, 1985).
Basri (1999) menyatakan bahwa setiap orangtua bertanggung jawab
juga memikirkan dan mengusahakan agar senantiasa terciptakan dan terpelihara
suatu hubungan antara orangtua dengan anak yang baik, efektif dan menambah kebaikan
dan keharmonisan hidup dalam keluarga, sebab telah menjadi bahan kesadaran para
orangtua bahwa hanya dengan hubungan yang baik kegiatan pendidikan dapat
dilaksanakan dengan efektif dan dapat menunjang terciptanya kehidupan keluarga
yang harmonis. Selanjutnya Hurlock (1973) menyatakan bahwa anak yang hubungan
perkawinan orangtuanya bahagia akan mempersepsikan rumah mereka sebagai tempat
yang membahagiakan untuk hidup karena makin sedikit masalah antar orangtua,
semakin sedikit masalah yang dihadapi anak, dan sebaliknya hubungan keluarga
yang buruk akan berpengaruh kepada seluruh anggota keluarga. Suasana keluarga ynag
tercipta adalah tidak menyenangkan, sehingga anak ingin keluar dari rumah
sesering mungkin karena secara emosional suasana tersebut akan mempengaruhi
masing-masing anggota keluarga untuk bertengkar dengan lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan persepsi
keharmonisan keluarga adalah persepsi terhadap situasi dan kondisi dalam
keluarga dimana di dalamnya tercipta kehidupan beragama yang kuat, suasana yang
hangat, saling menghargai, saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga
dan diwarnai kasih sayang dan rasa saling percaya sehingga memungkinkan anak
untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.
2.2 ASPEK-ASPEK
KEHARMONISAN KELUARGA
Hawari (dalam Murni, 2004)) mengemukakan enam aspek sebagai suatu pegangan
hubungan perkawinan bahagia adalah:
a.
Menciptakan
kehidupan beragama dalam keluarga.
Sebuah keluarga
yang harmonis ditandai dengan terciptanya kehidupan beragama dalam rumah
tersebut. Hal ini penting karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan
etika kehidupan. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa keluarga yang
tidak religius yang penanaman komitmennya rendah atau tanpa nilai agama sama
sekali cenderung terjadi pertentangan konflik dan percekcokan dalam keluarga,
dengan suasana yang seperti ini, maka anak akan merasa tidak betah di rumah dan
kemungkinan besar anak akan mencari lingkungan lain yang dapat menerimanya.
b.
Mempunyai waktu
bersama keluarga
Keluarga yang
harmonis selalu menyediakan waktu untuk bersama keluarganya, baik itu hanya
sekedar berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan
masalah dan keluhan-keluhan anak, dalam kebersamaan ini anak akan merasa
dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga anak akan betah
tinggal di rumah.
c.
Mempunyai
komunikasi yang baik antar anggota keluarga
Komunikasi
merupakan dasar bagi terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Meichati (dalam
Murni, 2004) mengatakan bahwa remaja akan merasa aman apabila orangtuanya
tampak rukun, karena kerukunan tersebut akan memberikan rasa aman dan ketenangan
bagi anak, komunikasi yang baik dalam keluarga juga akan dapat membantu remaja
untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah, dalam hal ini
selain berperan sebagai orangtua, ibu dan ayah juga harus berperan sebagai
teman, agar anak lebih leluasa dan terbuka dalam menyampaikan semua
permasalahannya.
d.
Saling
menghargai antar sesama anggota keluarga
Furhmann (dalam
Murni, 2004) mengatakan bahwa keluarga yang harmonis adalah keluarga yang
memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan yang
terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak
dengan lingkungan yang lebih luas.
e.
Kualitas dan
kuantitas konflik yang minim.
Faktor lain
yang tidak kalah pentingnya dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah
kualitas dan kuantitas konflik yang minim, jika dalam keluarga sering terjadi
perselisihan dan pertengkaran maka suasana dalam keluarga tidak lagi
menyenangkan. Dalam keluarga harmonis setiap anggota keluarga berusaha
menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari penyelesaian terbaik
dari setiap permasalahan.
f.
Adanya hubungan
atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.
Hubungan yang
erat antar anggota keluarga juga menentukan harmonisnya sebuah keluarga,
apabila dalam suatu keluarga tidak memiliki hubungan yang erat maka antar
anggota keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan akan
kurang. Hubungan yang erat antar anggota keluarga ini dapat diwujudkan dengan
adanya kebersamaan, komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan saling
menghargai.
Keenam aspek tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang
lainnya. Proses tumbuh kembang anak sangat ditentukan dari berfungsi tidaknya
keenam aspek di atas, untuk menciptakan keluarga harmonis peran dan fungsi
orangtua sangat menentukan, keluarga yang tidak bahagia atau tidak harmonis
akan mengakibatkan persentase anak menjadi nakal semakin tinggi (Hawari, 1997).
2.3 FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KEHARMONISAN KELUARGA
Berikut adalah beberapa faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi keharmonisan keluarga sebagai berikut :
a.
Komunikasi
interpersonal
Komunikasi
interpersonal merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keharmonisan keluarga,
karena menurut Hurlock (1978) komunikasi akan menjadikan seseorang mampu
mengemukakan pendapat dan pandangannya, sehingga mudah untuk memahami orang
lain dan sebaliknya tanpa adanya komunikasi kemungkinan besar dapat menyebabkan
terjadinya kesalahpahaman yang memicu terjadinya konflik.
b.
Tingkat ekonomi
keluarga.
Menurut beberapa penelitian, tingkat ekonomi keluarga juga
merupakan salah satu faktor yang menentukan keharmonisan keluarga. Jorgensen (dalam
Murni, 2004) menemukan dalam penelitiannya bahwa semakin tinggi sumber ekonomi
keluarga akan mendukung tingginya stabilitas dan kebahagian keluarga, tetapi
tidak berarti rendahnya tingkat ekonomi keluarga merupakan indikasi tidak
bahagianya keluarga. Tingkat ekonomi hanya berpengaruh trerhadap kebahagian
keluarga apabila berada pada taraf yang sangat rendah sehingga kebutuhan dasar
saja tidak terpenuhi dan inilah nantinya yang akan menimbulkan konflik dalam
keluarga.
c.
Sikap orangtua
Sikap orangtua juga berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga terutama
hubungan orangtua dengan anak-anaknya. Orangtua dengan sikap yang otoriter akan
membuat suasana dalam keluarga menjadi tegang dan anak merasa tertekan, anak
tidak diberi kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya, semua keputusan ada
ditangan orangtuanya sehingga membuat remaja itu merasa tidak mempunyai peran
dan merasa kurang dihargai dan kurang kasih sayang serta memandang orangtuanya tidak
bijaksana. Orangtua yang permisif cenderung mendidik anak terlalu bebas dan
tidak terkontrol karena apa yang dilakukan anak tidak pernah mendapat bimbingan
dari orangtua. Kedua sikap tersebut cenderung memberikan peluang yang besar
untuk menjadikan anak berperilaku menyimpang, sedangkan orangtua yang bersikap
demokratis dapat menjadi pendorong perkembangan anak kearah yang lebih positif.
d.
Ukuran keluarga
Menurut Kidwel (1981) dengan jumlah anak dalam satu keluarga cara orangtua
mengontrol perilaku anak, menetapkan aturan, mengasuh dan perlakuan efektif
orangtua terhadap anak. Keluarga yang lebih kecil mempunyai kemungkinan lebih
besar untuk memperlakukan anaknya secara demokratis dan lebih baik untuk
kelekatan anak dengan orangtua (Hurlock, 1978).
2.4 PENYEBAB KETIDAK HARMONISAN KELUARGA
Penyebab dari keluarga yang tidak harmonis ini dapat diuraikan
dalam beberapa poin, seperti :
1.
Masalah Ekonomi
Masalah ekonomi atau keuangan sering sekali menimbulkan perselisihan dalam anggota
keluarga, terutama suami istri. Istri ter kadang susah dalam membagi keuangan
karena pengeluaran tidak sama dengan pendapatan hal ini kalau tidak dipahami
dan dimengerti oleh kedua belah pihak dapat menimbulkan hal yang tidak
diinginkan dalam keluarga, dan bahkan dapat menimbulkan perceraian.
2.
Peran dalam
Keluarga Suami istri memiliki peranan sendiri dalam sebuah keluarga, tetapi
kadang-kadang hal itu tidak mereka pahami, sehingga timbul rasa saling
meyalahkan. Misalnya saja dalam pengasuhan anak, terkadang suami menyerahkan
sepenuhnya kepada istri sehingga kalau ada kesalahan yang dilakukan anak, maka
istri disalahkan dan is tri tidak bias menerima hal itu yang akhirnya
menimbulkan pertengkaran.
3.
Tidak bisa
menerima kekurangan yang ada pada pasangan
4.
Kurangnya
perhatian dan kasih sayang Apabila dalam angota keluarga tersebut tidak ada
perhatian dan kasih sayang, maka keluarga tersebut akan terasa gersang. Anggota
keluarga merasa tidak adanya kehidupan yang nyaman jika mereka berada di rumah,
sehingga membuat hubungan keluarga tersebut bertambah renggang.
5.
Perbedaan
Pendapat Perbedaan pendapat ini bukanlah hal yang harus diperdebatkan, tetapi
terkadang hal ini tidak diperhatikan. Masing-masing orang ingin pendaptnya
diterima, sehingga menimbulkan ketegangan yang tidak ada mendapatkan pemecahan
yang dihadapi.
6.
Penyesuaian
hubungan seksual Banyak orang dewasa merasa kepuasan seksualnya tidak terpenuhi
karena keadaan yang dialaminya di rumah atau terganggu dengan tingkah laku
anak-anaknya yang bermacam-macam, sehingga hubungan dalam anggota keluarga
tersebut kurang harmonis.
7.
Hubungan dengan
anggota keluarga pasangan yang tidak baik
8.
Hubungan dengan
anak-anak yang tidak dapat dijaga kerukunannya yang disebabkan keinginan dari
orang tua yang tidak dipenuhi oleh anak, yang dapat menimbulkan rasa kecewa
bagi kedua belah pihak.
Rasa kecewa dan tidak puas bisa menghadapi tiap orang. Bisa
perorangan, bisa juga missal. Bisa sederhana, dan bisa dahsyat. Kekecewaan
memang dapat berakibat macam-macam, dengan kadar berbeda. Kekecewaan yang
memupuk akan berakibat fatal. Apalagi, jika tidak hanya melanda perorangan.
Seorang ayah akan kecewa jika melihat anaknya tak menuruti
nasihatnya. Sebaliknya, sang anak kecewa terhadap ayahnya karena tak mengerti
kemauannya. Jika berlarut, bias jadi hubungan kasih dayang ayah-anak
terlupakan. Keduanya pun bisa bermusuhan. Ada anak kecewa terhadap orangtuanya
karena permintaan-nya tak dipenuhi. Padahal, boleh jadi bukan materi
permintaannya yang ditolak. Tapi, waktunya yang tidak tepat. Sebaliknya, ada
orangtua yang begitu mendengar permintaan anaknya, langsung marah. Padahal, ia
sebetulnya tetap akan mengabulkan permintaan anaknya. Kemarahannya itu hanya
karena memang jiwa sang ayah begitu. Inilah hal yang menyebabkan keluarga tidak
harmonis.
2.5 DAMPAK DARI KETIDAKHARMONISAN KELUARGA
Adapun berikut beberapa dampak akibat dari kondisi keluarga yang
tidak harmonis:
1.
Anak-anak bisa
trauma, sehingga mereka bisa tiba sakit (untuk yang pertahanan tubuhnya lemah).
2.
Prestasi
belajar di sekolah jadi menurun, akibat kepikiran orangtuanya yang selalu rebut
dan bertengkar setiap hari.
3.
Terjadi
perubahan sikap. Anak menjadi lebih tertutup, nggak mau lagi bergaul dengan
orang-orang yang mengetahui bahwa orangtuanya nggak akur (akibat gossip
tetangga dan ejekan teman-teman), bahkan bisa menyebabkan si anak tidak respect
lagi pada orangtua sebagai akibat dari lunturnya kepercayaan si anak pada sosok
orangtuanya.
4.
Image orangtua
berubah di mata anak Biasanya salah satu pihak akan dianggap “penindas” di mata
si anak, entah itu ayah atau ibu. Tapi biasanya ayah.
5.
Ketika dewasa,
jadi takut menikah Biasanya salah satu pihak akan dianggap “penindas” di mata
si anak, entah itu ayah atau ibu. Tapi biasanya ayah.
6.
Rentan
terjerumus pada hal-hal negatif.Biasanya karena pusing mau berpihak pada ayah
atau ibu mereka. Jadi lebih memilih untuk tidak memihak keduanya dan berusaha
mencari hal baru di luar rumah.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup damai seluruh anggota
saling menyayangi dan menghargai, suka dan duka dihadapi bersama dengan penuh
ketulusan.Fungsi-fungsi keluarga terpenuhi dengan baik agar keharmonisan dalam
keluarga itu dapat terbina.
Penyebab dari ketidakharmonisan dalam keluarga adalah pemyesuaian
diri yang tidak baik dan tidak bisa saling memahami antatra angota keluarga.
Perbedaan pendapat yang terjadi dikeluarga dibesar-besarkan dan kurangnya rasa
saling menghargai.
Keluarga harmonis itu bisa menyesuaikan diri antar sesame anggota
keluarga dan saling menyayangi.Agar keluarga itu terbina keharmonisannya
keluarga bisa saling terbuka satu sama lain, tidak melihat kebelakang dan
berpikir objektif terhadap sesama anggota keluarga..
3.2 SARAN
Menjalani kehidupan berumah tangga memang
tak selamanya selalu dipenuhi dengan pangalaman manis dan menyenangkan.
Adakalanya permasalahan datang dan tanpa disadari kerap mengikis benih-benih
cinta. Hendaknya keluarga yang mempunyai konflik segera dicarikan solusi yang
tepat untuk maslah mereka agar anak-anak yang tidak tahu malah menjadi korban
ketidak harmonisan keluarganya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA





01.02
Unknown
2 komentar:
sumbernya dari buka mana aja kak?
bisa di ablodkah?
Posting Komentar