My Melody Crying
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA FEBRIA TRI HIDAYATI TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Minggu, 24 Mei 2015

KELUARGA HARMONIS



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LATAR BELAKANG
Keluarga adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Menjaga dan memelihara keutuhan keluarga adalah hal yang harus selalu diperhatikan. Dalam sebuah keluarga kita harus saling meningisi satu sama lainnya. Semua perbedaan baik pendapat atau kebiasaan harus saling dipahami agar keluarga dapat hidup rukun.
Membina keluarga yang harmonis itu adalah tugas bersama dalam anggota keluarga. Penyesuaian diri dalam keluarga itu dibutuhkan agar keluarga damai dan tidak ada terjadi di percekcokan yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga.
Banyak kita lihat dikalangan masyarakat terjadi perceraian, semua itu terjadi karena tidak adanya rasa saling memahami dan penyesuaian diri yang tidak baik.
Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tanga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka. Jadi, keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup damai.

1.2    RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa keharmonisan keluarga ?
2.      Apa saja aspek-aspek keharmonisan keluarga ?
3.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga ?
4.      Apa yang menyebabkan ketidak harmonisan keluarga ?
5.      Apa saja dampak yang ditimbulkan dari ketidak harmonisan keluarga ?

1.3    TUJUAN
Dari rumusan masalah diatas dapat disimpulkan tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui tentang keharmonisan keluarga.
2.      Diharapkan mahasiswa mengetahui aspek-aspek keharmonisan keluarga.
3.      Diharapkan mahasiswa mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga .
4.      Diharapan mahasiswa dapat mengetahui penyebab ketidak harmonisan keluarga.
5.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dampak yang ditimbulkn dari ketidak harmonisan keluarga.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  KEHARMONISAN KELUARGA
Keluarga merupakan satu organisasi sosial yang paling penting dalam kelompok sosial dan keluarga merupakan lembaga di dalam masyarakat yang paling utama bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan sosial dan kelestarian biologis anak manusia (Kartono, 1977). Sedangkan menurut Hawari (1997) keharmonisan keluarga itu akan terwujud apabila masing-masing unsur dalam keluarga itu dapat berfungsi dan berperan sebagimana mestinya dan tetap berpegang teguh pada nilai- nilai agama kita, maka interaksi sosial yang harmonis antar unsur dalam keluarga itu akan dapat diciptakan.
Dalam kehidupan berkeluarga antara suami istri dituntut adanya hubungan yang baik dalam arti diperlukan suasana yang harmonis yaitu dengan menciptakan saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga, saling menghargai dan saling memenuhi kebutuhan (Anonim, 1985).
Basri (1999) menyatakan bahwa setiap orangtua bertanggung jawab juga memikirkan dan mengusahakan agar senantiasa terciptakan dan terpelihara suatu hubungan antara orangtua dengan anak yang baik, efektif dan menambah kebaikan dan keharmonisan hidup dalam keluarga, sebab telah menjadi bahan kesadaran para orangtua bahwa hanya dengan hubungan yang baik kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan dengan efektif dan dapat menunjang terciptanya kehidupan keluarga yang harmonis. Selanjutnya Hurlock (1973) menyatakan bahwa anak yang hubungan perkawinan orangtuanya bahagia akan mempersepsikan rumah mereka sebagai tempat yang membahagiakan untuk hidup karena makin sedikit masalah antar orangtua, semakin sedikit masalah yang dihadapi anak, dan sebaliknya hubungan keluarga yang buruk akan berpengaruh kepada seluruh anggota keluarga. Suasana keluarga ynag tercipta adalah tidak menyenangkan, sehingga anak ingin keluar dari rumah sesering mungkin karena secara emosional suasana tersebut akan mempengaruhi masing-masing anggota keluarga untuk bertengkar dengan lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan persepsi keharmonisan keluarga adalah persepsi terhadap situasi dan kondisi dalam keluarga dimana di dalamnya tercipta kehidupan beragama yang kuat, suasana yang hangat, saling menghargai, saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga dan diwarnai kasih sayang dan rasa saling percaya sehingga memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.



2.2  ASPEK-ASPEK KEHARMONISAN KELUARGA
Hawari (dalam Murni, 2004)) mengemukakan enam aspek sebagai suatu pegangan hubungan perkawinan bahagia adalah:
a.       Menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.
Sebuah keluarga yang harmonis ditandai dengan terciptanya kehidupan beragama dalam rumah tersebut. Hal ini penting karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan etika kehidupan. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa keluarga yang tidak religius yang penanaman komitmennya rendah atau tanpa nilai agama sama sekali cenderung terjadi pertentangan konflik dan percekcokan dalam keluarga, dengan suasana yang seperti ini, maka anak akan merasa tidak betah di rumah dan kemungkinan besar anak akan mencari lingkungan lain yang dapat menerimanya.
b.      Mempunyai waktu bersama keluarga
Keluarga yang harmonis selalu menyediakan waktu untuk bersama keluarganya, baik itu hanya sekedar berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan masalah dan keluhan-keluhan anak, dalam kebersamaan ini anak akan merasa dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga anak akan betah tinggal di rumah.
c.       Mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga
Komunikasi merupakan dasar bagi terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Meichati (dalam Murni, 2004) mengatakan bahwa remaja akan merasa aman apabila orangtuanya tampak rukun, karena kerukunan tersebut akan memberikan rasa aman dan ketenangan bagi anak, komunikasi yang baik dalam keluarga juga akan dapat membantu remaja untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah, dalam hal ini selain berperan sebagai orangtua, ibu dan ayah juga harus berperan sebagai teman, agar anak lebih leluasa dan terbuka dalam menyampaikan semua permasalahannya.
d.      Saling menghargai antar sesama anggota keluarga
Furhmann (dalam Murni, 2004) mengatakan bahwa keluarga yang harmonis adalah keluarga yang memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan yang terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak dengan lingkungan yang lebih luas.
e.       Kualitas dan kuantitas konflik yang minim.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah kualitas dan kuantitas konflik yang minim, jika dalam keluarga sering terjadi perselisihan dan pertengkaran maka suasana dalam keluarga tidak lagi menyenangkan. Dalam keluarga harmonis setiap anggota keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan.
f.       Adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.
Hubungan yang erat antar anggota keluarga juga menentukan harmonisnya sebuah keluarga, apabila dalam suatu keluarga tidak memiliki hubungan yang erat maka antar anggota keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan akan kurang. Hubungan yang erat antar anggota keluarga ini dapat diwujudkan dengan adanya kebersamaan, komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan saling menghargai.
Keenam aspek tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya. Proses tumbuh kembang anak sangat ditentukan dari berfungsi tidaknya keenam aspek di atas, untuk menciptakan keluarga harmonis peran dan fungsi orangtua sangat menentukan, keluarga yang tidak bahagia atau tidak harmonis akan mengakibatkan persentase anak menjadi nakal semakin tinggi (Hawari, 1997).

2.3  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEHARMONISAN KELUARGA
Berikut adalah beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keharmonisan keluarga sebagai berikut :
a.         Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keharmonisan keluarga, karena menurut Hurlock (1978) komunikasi akan menjadikan seseorang mampu mengemukakan pendapat dan pandangannya, sehingga mudah untuk memahami orang lain dan sebaliknya tanpa adanya komunikasi kemungkinan besar dapat menyebabkan terjadinya kesalahpahaman yang memicu terjadinya konflik.
b.      Tingkat ekonomi keluarga.
Menurut beberapa penelitian, tingkat ekonomi keluarga juga merupakan salah satu faktor yang menentukan keharmonisan keluarga. Jorgensen (dalam Murni, 2004) menemukan dalam penelitiannya bahwa semakin tinggi sumber ekonomi keluarga akan mendukung tingginya stabilitas dan kebahagian keluarga, tetapi tidak berarti rendahnya tingkat ekonomi keluarga merupakan indikasi tidak bahagianya keluarga. Tingkat ekonomi hanya berpengaruh trerhadap kebahagian keluarga apabila berada pada taraf yang sangat rendah sehingga kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi dan inilah nantinya yang akan menimbulkan konflik dalam keluarga.
c.       Sikap orangtua
Sikap orangtua juga berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga terutama hubungan orangtua dengan anak-anaknya. Orangtua dengan sikap yang otoriter akan membuat suasana dalam keluarga menjadi tegang dan anak merasa tertekan, anak tidak diberi kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya, semua keputusan ada ditangan orangtuanya sehingga membuat remaja itu merasa tidak mempunyai peran dan merasa kurang dihargai dan kurang kasih sayang serta memandang orangtuanya tidak bijaksana. Orangtua yang permisif cenderung mendidik anak terlalu bebas dan tidak terkontrol karena apa yang dilakukan anak tidak pernah mendapat bimbingan dari orangtua. Kedua sikap tersebut cenderung memberikan peluang yang besar untuk menjadikan anak berperilaku menyimpang, sedangkan orangtua yang bersikap demokratis dapat menjadi pendorong perkembangan anak kearah yang lebih positif.
d.      Ukuran keluarga
Menurut Kidwel (1981) dengan jumlah anak dalam satu keluarga cara orangtua mengontrol perilaku anak, menetapkan aturan, mengasuh dan perlakuan efektif orangtua terhadap anak. Keluarga yang lebih kecil mempunyai kemungkinan lebih besar untuk memperlakukan anaknya secara demokratis dan lebih baik untuk kelekatan anak dengan orangtua (Hurlock, 1978).
2.4  PENYEBAB KETIDAK HARMONISAN KELUARGA
Penyebab dari keluarga yang tidak harmonis ini dapat diuraikan dalam beberapa poin, seperti :
1.      Masalah Ekonomi Masalah ekonomi atau keuangan sering sekali menimbulkan perselisihan dalam anggota keluarga, terutama suami istri. Istri ter kadang susah dalam membagi keuangan karena pengeluaran tidak sama dengan pendapatan hal ini kalau tidak dipahami dan dimengerti oleh kedua belah pihak dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan dalam keluarga, dan bahkan dapat menimbulkan perceraian.
2.      Peran dalam Keluarga Suami istri memiliki peranan sendiri dalam sebuah keluarga, tetapi kadang-kadang hal itu tidak mereka pahami, sehingga timbul rasa saling meyalahkan. Misalnya saja dalam pengasuhan anak, terkadang suami menyerahkan sepenuhnya kepada istri sehingga kalau ada kesalahan yang dilakukan anak, maka istri disalahkan dan is tri tidak bias menerima hal itu yang akhirnya menimbulkan pertengkaran.
3.      Tidak bisa menerima kekurangan yang ada pada pasangan
4.      Kurangnya perhatian dan kasih sayang Apabila dalam angota keluarga tersebut tidak ada perhatian dan kasih sayang, maka keluarga tersebut akan terasa gersang. Anggota keluarga merasa tidak adanya kehidupan yang nyaman jika mereka berada di rumah, sehingga membuat hubungan keluarga tersebut bertambah renggang.
5.      Perbedaan Pendapat Perbedaan pendapat ini bukanlah hal yang harus diperdebatkan, tetapi terkadang hal ini tidak diperhatikan. Masing-masing orang ingin pendaptnya diterima, sehingga menimbulkan ketegangan yang tidak ada mendapatkan pemecahan yang dihadapi.
6.      Penyesuaian hubungan seksual Banyak orang dewasa merasa kepuasan seksualnya tidak terpenuhi karena keadaan yang dialaminya di rumah atau terganggu dengan tingkah laku anak-anaknya yang bermacam-macam, sehingga hubungan dalam anggota keluarga tersebut kurang harmonis.
7.      Hubungan dengan anggota keluarga pasangan yang tidak baik
8.      Hubungan dengan anak-anak yang tidak dapat dijaga kerukunannya yang disebabkan keinginan dari orang tua yang tidak dipenuhi oleh anak, yang dapat menimbulkan rasa kecewa bagi kedua belah pihak.
Rasa kecewa dan tidak puas bisa menghadapi tiap orang. Bisa perorangan, bisa juga missal. Bisa sederhana, dan bisa dahsyat. Kekecewaan memang dapat berakibat macam-macam, dengan kadar berbeda. Kekecewaan yang memupuk akan berakibat fatal. Apalagi, jika tidak hanya melanda perorangan.
Seorang ayah akan kecewa jika melihat anaknya tak menuruti nasihatnya. Sebaliknya, sang anak kecewa terhadap ayahnya karena tak mengerti kemauannya. Jika berlarut, bias jadi hubungan kasih dayang ayah-anak terlupakan. Keduanya pun bisa bermusuhan. Ada anak kecewa terhadap orangtuanya karena permintaan-nya tak dipenuhi. Padahal, boleh jadi bukan materi permintaannya yang ditolak. Tapi, waktunya yang tidak tepat. Sebaliknya, ada orangtua yang begitu mendengar permintaan anaknya, langsung marah. Padahal, ia sebetulnya tetap akan mengabulkan permintaan anaknya. Kemarahannya itu hanya karena memang jiwa sang ayah begitu. Inilah hal yang menyebabkan keluarga tidak harmonis.
2.5  DAMPAK DARI KETIDAKHARMONISAN KELUARGA
Adapun berikut beberapa dampak akibat dari kondisi keluarga yang tidak harmonis:
1.      Anak-anak bisa trauma, sehingga mereka bisa tiba sakit (untuk yang pertahanan tubuhnya lemah).
2.      Prestasi belajar di sekolah jadi menurun, akibat kepikiran orangtuanya yang selalu rebut dan bertengkar setiap hari.
3.      Terjadi perubahan sikap. Anak menjadi lebih tertutup, nggak mau lagi bergaul dengan orang-orang yang mengetahui bahwa orangtuanya nggak akur (akibat gossip tetangga dan ejekan teman-teman), bahkan bisa menyebabkan si anak tidak respect lagi pada orangtua sebagai akibat dari lunturnya kepercayaan si anak pada sosok orangtuanya.
4.      Image orangtua berubah di mata anak Biasanya salah satu pihak akan dianggap “penindas” di mata si anak, entah itu ayah atau ibu. Tapi biasanya ayah.
5.      Ketika dewasa, jadi takut menikah Biasanya salah satu pihak akan dianggap “penindas” di mata si anak, entah itu ayah atau ibu. Tapi biasanya ayah.
6.      Rentan terjerumus pada hal-hal negatif.Biasanya karena pusing mau berpihak pada ayah atau ibu mereka. Jadi lebih memilih untuk tidak memihak keduanya dan berusaha mencari hal baru di luar rumah.







BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup damai seluruh anggota saling menyayangi dan menghargai, suka dan duka dihadapi bersama dengan penuh ketulusan.Fungsi-fungsi keluarga terpenuhi dengan baik agar keharmonisan dalam keluarga itu dapat terbina.
Penyebab dari ketidakharmonisan dalam keluarga adalah pemyesuaian diri yang tidak baik dan tidak bisa saling memahami antatra angota keluarga. Perbedaan pendapat yang terjadi dikeluarga dibesar-besarkan dan kurangnya rasa saling menghargai.
Keluarga harmonis itu bisa menyesuaikan diri antar sesame anggota keluarga dan saling menyayangi.Agar keluarga itu terbina keharmonisannya keluarga bisa saling terbuka satu sama lain, tidak melihat kebelakang dan berpikir objektif terhadap sesama anggota keluarga..

3.2  SARAN
Menjalani kehidupan berumah tangga memang tak selamanya selalu dipenuhi dengan pangalaman manis dan menyenangkan. Adakalanya permasalahan datang dan tanpa disadari kerap mengikis benih-benih cinta. Hendaknya keluarga yang mempunyai konflik segera dicarikan solusi yang tepat untuk maslah mereka agar anak-anak yang tidak tahu malah menjadi korban ketidak harmonisan keluarganya sendiri.









DAFTAR PUSTAKA

2 komentar:

Unknown mengatakan...

sumbernya dari buka mana aja kak?

Hakim Duppa mengatakan...

bisa di ablodkah?

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys