silahkan dibaca-baca dan semoga dapat bermanfaat ya ..
A.
PENDAHULUAN
Penjelasan
tentang prinsip pendidikan orang dewasa ini dimaksudkan untuk memberi
pengetahuan tentang apa saja yang perlu diperhatikan untuk melaksanakan
pendidikan orang dewasa dengan baik. Dalam mempelajari prinsip ini, dianjurkan
tidak hanya sekedar menghafal, tetapi agar dapat memahami dan menghubungkan
atau menerapkannya kedalam situasi baru atau situasi nyata yang ada di
lapangan.
B. HUKUM BELAJAR
Bagaimana
orang belajar dan kondisi yang dapat meningkatkan hasil belajar sering disebut
dengan istilah law of learning yang
apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi hokum belajar. Hukum
belajar itu terdiri atas beberapa unsur, yaitu : 1) keinginan belajar, 2)
pengertian terhadap tugas, 3) hukum latihan, 4) hokum akibat, 5) hokum
asosiasi, 6) rasa tertarik, keuletan dan intensitas, 7) kesiapan hati, 8)
pengetahuan akan keberhasilan dan kegagalan.
1.
Keinginan Belajar
Keinginan belajar merupakan hal yang
sangat penting yang dapat meningkatkan efektifitas belajar. Keinginan belajar
dapat timbul karena rasa tertarik yang mendalam terhadap suatu objek atau
mungkin dapat disebabkan oleh adanya kebutuhan terhadap suatu pengetahuan atau
ketrampilan tertentu atau dapat tumbuh dari dorongan atau motivasi orang lain.
Tugas pendidik adalah menumbuhkan keinginan kuat peserta didik mempelajari
materi yang diajarkan. Belajar adalah masalah emosional sekaligus masalah
intelektual. Oleh karena itu, peserta didik perlu mempunyai keinginan belajar
jika ingin berhasil.
2.
Pengertian terhadap Tugas
Peserta didik harus memperoleh
pengertian yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Contohnya seorang mekanik mobil mungkin belajar tentang
sistem pelistrikan mobil pada sore hari, sedangkan pada pagi hari ia bekerja di
bidang automotif.dalam hal ini aktivitas yang mengikutsertakan penalaran,
pertimbangan dan berpikir kreatif merupakan latihan yang baik bagi orang
dewasa.
3.
Hukum Asosiasi
Belajar dengan menghubungkan ide
atau fakta dengan ide atau fakta lain cenderung dapat menghasilkan ingatan yang
lebih permanen daripada apabila tidak menghubungkannya.belajar dengan
menghubungkan tersebut adalah salah satu ciri kelebihan orang dewasa disbanding
anak-anak, sebab orang dewasa mempunyai banyak stok ide atau informasi yang
dapat menarik pelajaran baru. Orang dewasa mampu menghubungkan konsep yang
terkait dan menganalisisnya sampai mencapai suatu kesimpulan. Ciri penting
hukum asosiasi adalah membawa ide atau pengalaman baru akan menimbulkan emosi,
jika dihubungkan dengan ide tau pengalaman nyata sebelumnya. Hal ini akan
sangat berguna untuk meningkatkan semangat. Sebagai contoh, seorang peserta
didik tentu akan menghubungkan apa yang sedang ia pelajari dengan sesuatu yang
ia senangi atau hargai sebelumnya.
4.
Minat, Keuletan dan Intensitas
Dengan hanya sekedar latihan atau
pengulangan tanpa didasari dengan minat, hasil belajar tdak akan efektif.
Sebagai contoh, jika anak disuruh belajar dengan cara mengerjakan sesuatu
secara berulang-ulang, tetapi mainannya dijauhkan, maka hasil belajarnya tidak
akan memuaskan. Sebaliknya, seorang anak yang menyukai ikan akan belajar
tentang perikanan dengan kecepatan yang luar biasa. Penelitian telah
membuktikan bahwa minat atau rasa tertarik, keuletan dan kegigihan dan
intensitas sangat berpengaruh dalam meningkatkan keberhasilan belajar dan dalam
hal ini telah diterapkan, baik bagi orang dewasa maupun anak.
5.
Ketetapan Hati
Ketetapan hati sangat menentukan, apakah seseorang
akan tetap melanjutkan aktivitasnya atau tidak sama sekali. Sedangkan
prasangka, kecurigaan dan ketertutupan semuanya akan menghambat proses belajar
yang efektif. Seorang peserta didik seharusnya mempunyai ketetapan hati, yakni
kesediaan untuk menerima ide-ide baru walaupun mungkin ia tidak ingin
menerapkannya. Sebagian besar orang ang mendaftar dalam program pendidikan
orang dewasa mempunyai keinginan untuk coba ide baru, menerima atas dasar
manfaat yang akan diperolehnya.
6.
Pengetahuan
tentang Keberhasilan danKegagalan
Seorang
peserta dalam pendidikan orang dewasa tidak akan mwemperoleh kemajuan dalam
proses belajarnya kecualijika ia mengetahui dalam hal apa saja ia berhasil dengan
baik dan dalam hal apa saja ia gagal. Situasi yang sangat dekehendaki dalam
pendidikan orang dewasa adalah situasi di mana orang dewasa mampi manila
pekerjaanyya sendiri dengan menggunakan kriteria atau standar yang dirancang
khusus untuk pekerjaan itu.
C. PENETAPAN TUJUAN
Kunci
keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyaitujuan khusus
tentang perilaku maupun performansi yang jelas dan bergerak menuju ke tujuan
tersebut secara konsisten.
1. Tujuan Umum
Tujuan
umum pendidikan orang dewasa sangat bervariasi, tergantung pada visi dan misi
lembaga yang menyelenggarakannya. Sebagai gambaran mengenai tujuan umum ini,
kita gunakan tujuan umum pendidikan Amerika Serikan yang disebut dengan Tujuh
Prinsip Utama diambil dari artikel yang berjudul “ What Knowledge is of Most
Worth “ karangan filsuf terkenal Herbert Spencer. Tujuh Prinsip Utama yang
telah mengalami sedikit modifikasi ini adalah sebagai berikut :
1.
Kesehatan : fisik, mental dan keamanan/keselamatan
2.
Anggota keluarga yang berguna
3.
Pekerjaan: bimbingan, latihan dan efisiensi ekonomi
4.
Pendidikan Kewarganegaraan :prinsip demokrasi yang benar, local, Negara bagian
dan
Nasional
5. Pemanfaatan
waktu luang : rekeasi jasmani, pikiran dan spiritual : pengayaan dan
pengembangan kepribadian
6.
Etika: nilai moral, jiwa pelayanan dan tanggung jawab pribadi
7.
penguasaan pengetahuan dasar : sarana belajar seperti membaca, menulis, bahasa
dan
metode berpikir secara ilmiah
Sebagai
pembanding, kita lihat catatan mengenai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia
yang dirumuskan oleh MPR, yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap Ketuhanan Yang
Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat
kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan
manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta
bersama-sama bertnaggung jawab atas pembangunan bangsa (GBHN, 1978).
2. Tujuan
Khusus
Untuk
tujuan khusus ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 1)
ciri tujuan khusus yang baik, 2) tipe tujuan khusus dan 3) menentukan tujuan
khusus untuk kegiatan pendidikan khusus.
1.
Ciri-ciri tujuan khusus yang baik ialah :
a.
Harus ada sasarannya
b.Harus menunjukkan perubahan perilaku yang spesifik,
jelas, dapat dicapai, dapat didemonstrasikan dan dapat diukur
c.
Harus diterima oleh sasaran sebagai tujuannya sendiri dan memberi kesempatan
kepada sasaran untuk bergerak menuju apa
yang mereka inginkan.
d.
Harus mengarah ketujuan umum
e.
Biasanya dinyatakan dalam istilah pengetahuan, pengertian, kemampuan,
keterampilan, minat atau rasa tertarik,
penghargaan, idealisme, penerapan dan
kebiasaan
2.
Tipe-tipe tujuan khusus ialah :
a.
Pengetahuan, pengertian
b.
Kemampuan, keterampilan (berpikir dan pekerjaan tangan atau kombinasi dari
keduanya)
c.
Minat, penghargaan, idealisme, hasrat (sikap emosional)
d.
Kebiasaan
3. saran
dari Morgan et al (1976) tentang langkah untuk menentukan tujuan khusus berikut
ini :
a. lakukan penelitian secara hati-hati tentang
bagaimana suatu kursus dapat dilaksanakan dan bermanfaat dalam situasi hidup
nyata dan apa manfaat yang akan diperoleh jika kursus itu dilaksanakan
b. buat daftar urut materi yang
diajarkan,kemampuan,pengertian,minat dan perilaku lain yang penting dan perlu
dikembangkan dalam mansyarakat.
c. buat daftar sub tujuan khusus yang diperlukan utuk
mencapai tujuan utama,dibawah setiap tujuan khusus yang terdaftar pada nomor 2
tersebut.
D.
PENGEMBANGAN SIKAP,IDEALISME,DAN MINAT
Sikap,idealisme dan minat adalah
dasar tujuan khusus ranah afektif dan merupakan suatu kualitas emosi yang
penting. Kenyataannya ada aspek yang sangat penting namun diabaikan yaitu
kegagalan dalam mengembangkan respon emosionalyang terkendali terhadap situasi
yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari . emosi adalah factor sangat penting
dalam pendidikan karena emosi cenderung menentukan apa yang dilakukan orang
terhadap suatu hal.
1.
Sikap
Adalah
perasaan seseorang terhadap orang lain,ide,lembaga,fakta dan lainnya. Sikap
tidak bias diajarkan secara langsung seperti fakta,namun biasanya diajarkan
secara tidak langsung seperti contoh bacaan dan kegiatan yang baik. Pendidik
yang ahli akan segera mengenal bahwa pengembangan sikap (perasaan
tertarik,idealism,dan penghargaan) tidak dapat diremehkan begitu saja.
Pengembangan sikap ini harus dimasukan kedalam tujuan khusus yang ada dalam
setiap unit pengajaran dan perencanaan dengan baik sehingga tjuan khusus yang
telah ditetapkan dpat dicapai. Rencana pengambangan sikap dapat dikerjakan
melalui :
a. Seleksi
materi
b. Metode
mengajar yang digunakan
c. Aktivitas
yang harus dilakukan oleh peserta
d. Perlengkapan
dan alat yang tersedia.
2.
Idealism
Adalah
suatu standar kesempurnaan yang diterima oleh individu atau kelompok. Idealisme cenderung subjektif tetapi nyata
dan sangat penting dalam pendidikan anak-anak maupun orang dewasa. Prinsip
utama dalam mengajarkan idealisme melalui bacaan,pengamatan dan bimbingan.
Idealismeyangt perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia adalah
kejujuran,kedisiplinan,dan kebersihan yang dirasa masih kurang meresapi
sepenuhnya.
3.
Minat
Adalah
kegiatan yang dating dari hati nurani untuk ikut serta dalam kegiatan belajar.
Makin besar minatnya,makin besar semangat dan hasil kerjanya. Minat yang
permanen merupakan hasil yang paling bernilai dalam suatu pendidikan. Berikut
cara mengembangkan minat :
a. Pembimbing
atau pendidik harus menunjukan antusiasnya yang tulus dalam menyukseskan kursus
dan kegiatan pendidikan lainnya.
b. Peserta
didik harus diberi kesempatan untuk mengetahui secara jelas melalaui jalan
pikirannya sendiri tentang subjek yang dipelajari,kegiatan yang dilakukan akan membantu mereka secara
pribadi dalam kehidupan sehari-hari atau membantu masyarakat dalam
keseluruhannya.
c. Peserta
didik harus memperoleh pengetahuan pokok yang berhubungan dengan topik yang
dipelajari dan harus mempunyai pengertian yang jelas mengenai hubungan antara
topik dengan pengetahuan tersebut.
d. Pengetahuan
yang terkait tersebut harus dibiarkan berkembang selama kursus.
e. Rasa
tertarik yang tinggi harus dipertahankan disetiap pertemuan kelompok:
1).
Cek,apakah peserta didik memang telah memperoleh pengetahuan yang mereka
inginkan
2).
Bhubungkan materi yang diajarkan dengan hal-hal diluar kursus yang menarik.
3). Gunakan
materi audiovisual yang sesuai.
4).
Pertahankan sedapat mungkin agar peserta didik tetap berfikir.
f. Pendidik
atau pembimbing harus membantu peserta didik untuk mengukur kemajuan mereka
sendiri.
g. Pendidik
harus menunjukan rasa senang dalam proses belajar bersama peserta didik daripada menonjolkan pendapat pribadinya.
h. Suasana
belajar harus akrab,gembira,senang,sopan,dan demokrasi.
Menurut
winecoff(1988) pendidikan afektif ada dua kelompok yaitu : (1) pendidikan
nilai, bertujuan membantu peserta didik menggali nilai melalui pengujian yang
teliti sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas cara berfikir dan perasaan
mereka. (2) pendidikan moral,bertujuan membantu peserta didik untuk lebih
bertanggung jawab,adil dan matang dalam menilai orang lain. Dengan demikian
pendidikan afektif adalah suatu proses yang membantu peserta didik meningkatkan
dan menginternalisasi nilai dan sikap yang secara social diterima dan secara
moral matang.
E.
MENGAJAR PENGETAHUAN
Morgan,et al(1976) membagi
pengetahuan menjadi dua yaitu (1) pengetahuan yang harus dipelajari secara
mendetail dan harus diingat secara permanent, (2) pengetahuan yang dipelajari
untuk mengetahui dimana perolehannya dan bagaimana menggunakannya. Ingatan yang
permanent dapat diperoleh dengan cara :
a.
Kembangkan rasa tertarik yang kuat dan
bertahan lama terhadap suatu objek
b.
Dapatkan pengertian sejelas mungkin dari
setiap bagian subjek.
c.
Tempatkan proses belajar sejalan dengan
pola pikir peserta.
d.
Berikan problema atau pertanyaan yang
berhubungan dengan hal-hal yang dapat diterapkan.
e.
Pertahankan pengetahuan yang telah
dipelajari dengan sekali kali menanyakan dan menerapkan dalam situasi baru.
f.
Berikan ilustrasi visual atau gambar tentang
apa yang diajarkan.
Menurut
merill(1983) dalam suciati,romiszowski(1966) dalam soedomo (1989) Pengetahuan
atau materi pada dasarnya digolongkan menjadi empat kelompok yaitu (1) fakta
mengenai “apa” misalnya nama orang,symbol,dan lainnya (2) konsep mengenai
pengertian sesuatu (3) prosedur mengenai bagaimana mengerjakan sesuatu (4)
prinsip mengenai bagaimana atau mengapa sesuatu berhubungan.
F.
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN
Pendidik atau pembimbing harus tahu tipe
kemampuan apa yang diinginkan oleh peserta didik. Disini akan dijelaskan secara
garis besar bagaimana mengembangkan : (1) kemampuan menilai atau
mempertimbangkan, (2) kemampuan psikomotor atau ketrampilan, (3) kemampuan
berpikir atau mempertimbangkan.
1.
Mengembangkan
kemampuan menilai atau mempertimbangkan.
Dalam mengembangkan kemampuan menilai atau
mempertimbangkan,tahapan berikut ini digunakan sebagai (morgan el al.,1976).
a. Pilih situasi tertentu yang akan dinilai dan
dianalisis
b. Persiapkan peserta didik atau pelajar: (a) kembangkan
pengenalan terhadap kebutuhan,dan (b) tumbuhkan keinginan untuk memperoleh
kemampuan.
c. Tentukan kriteria dan standarnya,beri bobot pada
masing-masing kriteria.
d. Peserta didik kemudian harus menggunakan kriteria
tersebut terhadap sejumlah kasus dan beritahu cara menilai. Setelah peserta
didik selesai menilai,pembimbing hanya memeriksa dan tekankan mana yang sudah
benar dan mana yang masih salah.
e. Instruktur maupun peserta didik harus selalu ingat
bahwa latihan dalam menilai/mempertimbangkan tanpa pengertian dan penerapan adalah
sia-sia.
f. Minta peserta didik berlatih mebuat penilaian,dibawah
bimbingan instruktur,sampai ia mampu membuat penilaian dengan baik.
2.
Mengembangkan
kemampuan manipuatif atau psikoimotor
Teknik yang sangat baik dikembangkan oleh guru
perdagangan dan industry untuk mengembangkan kemampuan manipulative. Teknik ini
dikenal sebagai job instruction training
for short (latihan instruksi kerja jangka pendek). Berikut empat langkah
dalam job instruction training :
a. Persiapkan peserta didik. Usaha mereka santai, dapatkan
perhatian peserta didik, terangkan apa yang harus dikerjakan, cari informasi
tentang apa yang telah mereka ketahui sebelumnya mengenai apa yang akan
dikerjakan,tumbuhkan minat untuk mengerjakan dengan benar,usahakan mereka
“berada disamping kita” dalm menghadapi pekerjaan.
b. Ajarkan apa yang perlu diajarkan. Ajarkan tahap demi
tahap pada satu waktu, ceritakan,perhatikan,dan jelaskansetiap tahapan
,tekankan hal-hal yang penting sesutau yang akan meningkatkan
kualitas,menghindari kecelakaan,dan mempermudah pekerjaan,jangan mencoba untuk
mengajar terlalu banyak pada satu waktu.
c. Praktikkan kepada peserta didik. Beri kesempatan
mereka mencoba,minta mereka memperlihatkan dan menceritakan mengapa setiap
tahap harus dikerjakan,minta mereka menjelaskan kuncinya,tanyakan kepada mereka
dan perbaiki semua kesalahannya,teruskan sampai tahu.
d. Tindak lanjut.(pilih (a) untuk situasi
industry,pilihan (b) untuk sekolahan dan situasi yang sama).
3.
Mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah
Langkah pemecahan masalah sangat bervariasi menurut
pencetusnya. Sebagai contoh langkah yang dikemukakan oleh pidarta (1988)
sebagai penyempurna dari pendapat pinch(1982) dan Cunningham(1982) sebagai berikut
: mengidentifikasi masalah,(2) mengumpulkan informasi/data yang relevan dengan
masalah,(3)membuat alternative pemecahan,(4) menjelaskan konsekuensi setiap
alternative,dan (5) memilih alternative yang terbaik. Sementar pemecahan masalah
menurut dewey (gulo,2002) sebagi berikut : (1) merumuskan masalah, (2) menelaah
masalah,merumuskan hipotesis (pemecahan masalah), (3) mengumpulkan data,
(4)pembuktian hipotesis,dan menentukan alternatif pemecahan. Sedangkan menurut
morgan et al (1976) langkah masalah terdiru dari tujuh langkah,yaitu: (1)
pengenalan masalah, (2) penentuan kemungkinan pemecahan masalah/hipotesis (3)
pengumpulan fakta, (4) pengorganisasian/pertimbangan fakta yang berhubungan
dengan masalah, (5) pembuatan kesimpulan tentative, (6) pengecekan kesimpulan
tentative, (7) perbaikan, dan (8) generalisasi kesimpulan.
Dari beberapa pendapat tentang langkah pemecahan
masalah tersebut,walaupun istilahnya berbeda-beda,secara umum dapat disimpulkan
bahwablangkah yang harus ada dalam setiap pemecahan masalah antar
lain(1)midentifikasio masalah (2) pengumpulan fakta (3) pembuatan pemecahan
altenatif (4 ) analisis fakta terhadap pemecahan alternatif (5) pemilighan
alternative yang baik.
G.
MENDISKUSIKAN ISU KONTROVERSIAL
Suatu isu dikatakan kontroversial
jika beberapa cara yang diusulkan untuk memecahkannya bertentangan dengan
kepentingan dan kepercayaan sebagian orang. Penyebab utama isu kontroversial
adalah loyalitas dasar yang dimiliki orang terhadap organisasi, lembaga atau
kelompoknya ( Morgan,et al.., 1976)
1. Pentingnya Mendiskusikan Isu
Kontroversial
Isu
kontroversial perlu didiskusikan dalam suasana demokratis yang dapat mendorong
orang memutuskan isu kursial melalui proses diskusi terbuka dan dengan
menggunakan argumentasi bebas. Isu yang paling penting adalah isu kontroversial
yang umum. Apabila suatu isu tidak diperdebatkan, biasanya isu tersebut tidak
menjadi masalah, setidaknya kelihatan tenang untuk sementara waktu.
Pertanyannya bukan pada apakah isu kontroversial perlu dimasukkan dalam program
pendidikan orang dewasa, tetapi pada isu apa saja yang harus dipertimbangkan
dan bagaiman mendiskusikannya. Dengan mempelajari tahapan mendiskusikan isu
kontroversial secara garis besar, peserta didik mungkin dapat memperoleh kemampuan
tersebut.
2. Kriteria untuk Memilih Isu
Kontroversial
a.
Apakah isu tersebut penting dan waktunya tepat?
b.
Apakah isu tersebut menarik perhatian masyarakat?
c.
Apakah isu tersebut dapat dimengerti oleh masyarakat pada waktu yang terbatas?
d.
Apakah ada materi yang dapat dipercaya sebagai petunjuk terhadap isu tersebut?
e.
Apakah pimpinan mengetahui tentang isu tersebut atau adakah kelompok tertentu
yang
meminta bantuan kepada pihak yang
mengetahuinya?
f.
Apakah pemikiran terhadap isu tersebut nantinya dapat diterima oleh masyarakat?
g.
Apakah isu tersebut terlalu menimbulkan emosi masyarakat pada waktu tertentu
jika
masyarakat menerima pemikiran yang terbuka?
h.
Apakah pemikiran terhadap isu tersebut akan membawa keadaan yang lebih baik
pada
waktu yang akan datang?
3. Cara Mendiskusikan Isu Kontroversial
Tahapan
berikut ini disarankan untuk dilaksanakan dalam mendiskusikan isu
kontroversial.
a.
Tentukan isu atau problem secara jelas, beberapa perbedaan pendapat disebabkan
oleh perbedaan definisi
b.
bagi isu tersebut menjadi beberapa segmen. Setujui bersama mengenai pembatasan
isu
c.
Buat daftar kemungkinan pemecahan yang diusulkan oleh anggota
d.
Kumpulkan dan catat informasi tentang isu tersebut. Sebarkan informasi tersebut
kepada semua anggota kelompok
e.
Susun informasi secara berurutan dan tanpa distorsi
f.
Nilai informasi tersebut. Cari kesalahan, bias, prasangka dan
ketidakkonsistenan.
Evaluasi data dengan bobot yang sesuai untuk
kemudian dijadikan bukti
g.
Setiap kemungkinan pemecahan ( yang
tertulis dalam nomor 3 ) harus
dipertimbangkan dengan menggunakan data yang
ada.
h.
Susun kesimpulan apabila informasi menunjangnya atau biarkan isu tetap terbuka.
Waktu yang digunakan untuk mempelajari isu
tidak akan hilang percuma walaupun
kesimpulan belum tercapai.
H. CARA MEMBENTUK KEBIASAAN
Membentuk dan mengahiri suatu kebiasaan
adalah salah satu hasil kebiasaan orang dewasa yang penting. Membentuk dan
mengahiri sebuah kebiasaan bukan merupakan hal baru untuk peserta didik dan
juga orang dewasa sudah terbiasa membentuk dan mengahiri kebiasaan sejak
dilahirkan. Tidak juga pekerjaan seorang bayi untuk membentuk kebiasaan yang
bermanfaat aatau mengakhiri kebiasaan yang jelek secara sadar.
Aturan
umum
1. Temukan
konsep kebiasaan baru yang ingin dikembangkan sejelas mungkin.
2. Mulailah
kebiasaan baru dengan tekad yang kuat.
3. Jangan
biarkan pengecualian terjadi sampai kebiasaan baru tersebut benar benar
berakar.
4. Latihlah
kebiasaan baru itu pada setiap kesempatan, walaupun dalam keadaan sibuk,
carilah kesempatan untuk berlatih.
5. Latihlah
dengan selang waktu yang agak lama akan lebih baik daripada latihan secara
intensif dalam waktu yang relatif singkat.
6. Latihan
hendaknya dilakukan sesempurna mungkin.
7. Situasi
dan kondisi hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga menyenangkan.
8. Pembentukan
kebiasaan baru hendaknya menjadi hasil dari dorongan dirinya sendiri, bukan
dari orang lain.
Dalam
perkembanganya, kebiasaan (folkways)
ini dapat menjadi tata kelakuan (mores),
adat istiadat (custom), dan akhirnya
dapat menjadi norma kemasyarakatan jika telah mengalami pelembagaan. Jika
kebiasaan baik, jujur kerja keras, tepat waktu, dan lain lain dapat
dikembangkan diantara remaja, pemuda bahkan orang tua di Indonesia maka
kehidupan di indonesia bukan tidak mungkin akan lebih baik dari keadaan saat
ini. Keadaan lebih baik akan tercapai, jika kebiasaan baik dapat dilembagakan
menjadi norma mkemasyarakatan.
DAFTAR PUSTAKA
Suprijanto,2011:“pendidikan orang dewasa”,Jakarta,bumi
aksara.





00.56
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar