My Melody Crying
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA FEBRIA TRI HIDAYATI TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Minggu, 24 Mei 2015

PENGHAYATAN NORMA SOPAN SANTUN PADA REMAJA

silahkan dbaca-baca dan semoga dapat bermanfaat yaa ...



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
      Sopan santun atau budi pekerti sebagai salah satu bukti manusia yang beradab. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya harus menjunjung tinggi etika sopan santun.
      Melihat perkembangan anak-anak dewasa ini terutama yang berusia 9-16 tahun. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan dalam bersopan santun, jarang keluar dari mulutnya untuk mengucapkan permisi jika mau lewat., atau membungkukan badan kepada orang dewasa. Ini bukan hanya terjadi di perkotaan saja tetapi di pedesaan pun sudah mulai terjadi. Padahal tidak sedikit sekolah ataupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang berdiri mengajarkan etika sopan santun, namun kenyataan etika sopan santun makin menurun.
      Seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan. Datangnya kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya kesopanan.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian dari sopan santun (kesopanan) atau rasa hormat ?
2.      Apa aja macam-macam sopan santun ?
3.      Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai kesopanan dikalangan remaja ?
4.      Apa saja dampak yang ditimbulkan terhadap psikologi sosial?
5.      Bagaimana cara atau solusi mengatasi lunturnya kesopanan dikalangan remaja ?

1.3  TUJUAN
Dari rumusan masalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui definisi dari sopan santun atau rasa hormat.
2.      Mahasiswa mengatahui apa aja macam-macam sopan satun.
3.      Mahasiswa diharapkamn mengetahui faktor apa saja yang memepengaruhi perkembangan nilai kesopanan dikalangan remaja.
4.      Mahasiswa diharapkan mengetahui dampak yang ditimbulkan terhadap psikologi sosialnya.
5.      Diharapkan mahasiswa menegtahui solusi cara mengatasi lunturnya kesopanan dikalangan remaja dan menerapannya pada diri sendiri.
BAB II
PERMASALAHAN


            Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun sangatlah penting untuk dijunjung karena manusia sebagai makhluk yang berbudaya harus menjunjung tinggi etika sopan santun. Pada masa yang modern, di era globalisasi ini banyaklah perubahan-perubahan yang berpengaruh juga pada akhlak sopan santun anak maupun remaja yang semakin berkurang diakibatkan oleh adanya alat-alat komunikasi yang sangat mudah didapat, contohnya internet yang dapat di akses seluruh dunia. Sehingga adanya perubahan ataupun turunnya sopan santun dikarenakan pengaruh budaya luar dan pergaulan pada kehidupan sehari-hari.
            Sikap sopan santun atau hormat yang merupakan budaya leluhur kita dewasa ini telah dilupakan oleh sebagian orang. Sikap sopan santun yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hormat menghormati sesama, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menghargai yang muda tidak lagi kelihatan dalam kehidupan yang serba modern ini. Tidak terpeliharanya sikap sopan dan santun ini dapat berdampak negatif terhadap budaya bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kehidupan yang beradab.
            Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kita perhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya, namun bangsa ini kini telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang dulu hebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.
            Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.











BAB III
PEMBAHASAN MASALAH


3.1  PENGERTIAN NORMA SOPAN SANTUN (RASA HORMAT)
               Sopan santun adalah suatu sikap atau tingkah laku yang ramah terhadap orang lain, terhadap apa yang ia lihat, ia rasakan, dan dalam situasi, kondisi apapun. Dalam budaya jawa sikap sopan salah satu nya ditandai dengan perilaku menghormati kepada orang yang lebih tua, menggunakan bahasa yang sopan, tidak memiliki sifat yang sombong. Memang tidak mudah untuk menerapkan sopan santun pada diri kita sendiri, tetapi jika orangtua kita berhasil mengajarkan sopan santun sejak kecil maka kita akan tumbuh menjadi seseorang yang bisa menghormati dan menghargai orang lain. Kita dapat menunjukan sikap sopan santun dimana saja, misalnya kita sebagai mahasiswa harus sopan terhadap dosen.
               Sedangkan rasa hormat berarti menunjukkan penghargaan kita terhadap harga diri orang lain ataupun hal lain selain diri kita. Lickona (2013:70) “penghormatan terhadap orang lain mengharuskan kita untuk memperlakukan semua orang bahkan orang yang kita benci sebagai manusia yang  memiliki nilai tinggi dan memiliki hal yang sama dengan kita sebagai individu”. Kesopanan juga merupakan bentuk lain dari penghormatan terhadap orang lain.
Menurut kelompok kami sopan santun itu adalah sikap seseorang terhadap apa yang ia lihat, ia rasakan, dan dalam situasi, kondisi apapun.
               Jadi norma sopan santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.
              

2.2   MACAM-MACAM SOPAN SANTUN
a.       Kesopanan Berbahasa
Bahasa menunjukan bangsa, di dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan alat komunikasi penting yang menjembatani seseorang dengan orang lainnya. Santun bahasa menunjukan bagaimana seseorang melakukan interaksi sosial dalam kehidupannya secara lisan. Setiap orang harus menjaga santun bahasa agar komunikasi dan interaksi dapat berjalan baik. Bahasa yang dipergunakan dalam sebuah komunikasi sangat menetukan keberhasilan pembicaraan (Kuraesin, 1975:6).
Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tida sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.
Tatacara berbahasa seseorang diengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Inggris berbeda dengan tatacara berbahasa orang Amerika meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. Begitu juga, tatacara berbahasa orang Jawa bebeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama-sama berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau di samping mempelajari bahasa. Sebab, tatacara berbahasa yang mengikuti norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa.
Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu,pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia karena terbawa oleh budaya "tidak terus terang" dan menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburka komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya.
b.      Sopan Santun Berperilaku
Santun adalah satu kata sederhana yang memiliki arti banyak dan dalam, berisi nilai-nilai positif yang dicerminkan dalam perilaku dan perbuatan positif. “Perilaku positif lebih dikenal dengan santun yang dapat diimplementasikan pada cara berbicara, cara berpakaian, cara memperlakukan orang lain, cara mengekspresikan diri dimanapun dan kapan pun” (Chazawi, 2007:12). Santun yang tercermin dalaman perilaku bangsa Indonesia ini tidak tumbuh dengan sendirinya namung juga merupakan suatu proses yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa yang luhur.

2.3  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOPAN SANTUN       DIKALANGAN REMAJA
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak berperilaku demikian, diantaranya : lingkungan keluarga, lingkungan sebaya, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat.
1.      Lingkungan keluarga
Menurut Ki Hajar Dewantara, keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Lingkungan keluarga memang peranan penting dalam pembentukan budi pekerti anak. Karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan yang utama bagi anak. Anak pertama kali mendapat pendidikan budi pekerti dari kedua orang tuanya. Begitu juga keluarga dikatakan utama, mengingat keluarga merupakan dasar atau pondamen bagi pendidikan budi pekerti selanjutnya. Jika orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang baik dan berguna di kemudian hari, maka jadikanlah keluarga sebagai lingkungan yang paling baik bagi anak.
2.      Lingkungan sebaya (teman sebaya)
Teman sebaya turut ambil dalam pembentukan budi pekerti anak, karena sering bergaul dengan temannya, sedikit demi sedikit anak akan terpengaruh oleh perilaku teman sebayanya. Teman atau orang terdekat biasanya memiliki suatu paham dan sifat yang hamper sama satu sama lainnya. Dalam pertemanan biasanya mudah untuk saling memahami dan memberikan penanaman suatu paham ke teman lainnya dan orang tersebut akan menganggap suatu paham yang ditanam padanya adalah benar. Ini dikarenakan dalam pertemanan mereka akan saling mempercayai satu sama lainnya.
Misalnya : si A berjalan didepan orang yang lebih tua yang sedang duduk tanpa member hormat (membungkuk sedikit), lalu teman terdekatnya yang melihat itu mengatakan bahwa hal tersebut tidak baik untuk dilakukan dan merupakan hal yang tidak sopan. Seharusnya kita melewati orang yang lebih tua, sebaiknya membungkuk sedikit (member hormat kepada yang lebih tua). Sehingga setelah diberikan pemahaman, si A mengerti dam melakukan apa yang dikatakan temannya tersebut.
Pada masa remaja, seseorang akan lebih percaya atau memiliki hubungan yang lebih dekat dengan temannya dibandingkan hubungan dengan keluarganya. Mereka lebih sering bersosialisai dengan temannya sehingga penanaman nilai akan mudah terserap dan ditanam pada diri remaja tersebut.
3.      Lingkungan pendidikan
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuh kembangnya budi pekerti (intelektual) dan untuk memajukan kehidupan peserta didik.
Dengan dimasukannya anak dalam lingkungan pendidikan, para orang tua berharap agar anaknya menjadi cerdas, pandai dan berbudi pekerti yang baik. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional secara mikro yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya) memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab),
berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, serta demokratis), dan berbadan sehat hingga menjadi manusia mandiri.
4.      Lingkungan masyarakat
Kenyamanan dalam bertempat tinggal memiliki peran yang besar dalam pembentukan individu. Remaja yang memiliki potensi tersosialisasi baik akan pandai berteman dan memiliki tenggang rasa yang kuat. Hal ini didukung oleh lingkungan yang mendukung pula. Maka akan terwujud nilai kesejaheraan yang baik. Bagi remaja hal ini akan berguna untuk mewujudkan rasa percaya diri dan bersosialisasi yang baik kepada masyarakat.
Dalam lingkungan ini terdapat berbagai macam unsur lapisan dan komponen serta peran yang berbeda-beda. Termasuk di dalamnya peran para tokoh, baik pemuka agama, pemuka adat, maupun tokoh masyarakat yang berkompeten lainya yang dapat dikatakan sebagai orang tua.
Identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Maksudnya mengikuti sikap dan prilaku yang dianggapnya sebagai idola. Hubungan anak dengan orangtuanya. Jika tokoh masyarakat ini peduli kepada generasi muda, maka tokoh ini akan ikut andil dalam memberikan pendidikan pada kaum muda. Pendidikan itu dapat berupa keteladanan dari sikap dan perilaku yang baik, memberikan masukan, teguran, kritik mapun saran-saran yang membangun.
Dengan seringnya berkomunikasi, maka anak akan ketularan baik dari orang yang berbudi pekerti luhur.
5.      Teknologi
Pengaruh dari kecanggihan teknologi juga memiliki pengaruh kuat terhadap terwujudnya suatu nilai sopan santun. Di era sekarang, remaja banyak menggunakan teknologi untuk belajar maupun hiburan. Contoh : internet memiliki fasilitas yang menwarkan berbagai informasi yang dapat diakses secara langsung.
bisa kita lihat menurunnya sikap kesopanan anak muda sekarang dengan lawan bicaranya sepertinya kurang menghargai lawan bicara sibuk dengan aktifitasnya lewat facebookan atau twitteran atau sms-an. Dan di Facebook ataupun di twitter, anak-anak muda bahkan tidak jarang orang-orang yang lebih tua tidak pandai menjaga dirinya di dalam membuat status.Status yang dibuat terkadang dengan bahasa kasar dan tidak pantas dibaca. Sungguh memalukan, jikalau status dengan kata-kata kasar dibuat oleh orang-orang yang mengenal bangku pendidikan. Di dunia nyata, ternyata rasa kesopanan di kalangan anak remaja mengalami penurunan seperti tidak mau menyapa gurunya ketika bertemu di luar sekolah.
Nilai positifnya, ketika remaja atau siswa mencari bahan pelajaran yang mereka butuhkan mereka dapat mengaksesnya dari internet. Namun internet juga memiliki nilai negative seperti tersedianya situs porno yang dapat merusak moral remaja. Apalagi pada masa remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar dan sangat rentan terhadap informasi seperti itu. Mereka belum bisa mengolah pikiran secara matang yang akhirnya akan menimbulkan berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan dan hamil di luar nikah/hamil usia dini.

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan lunturnya opan santun dikalangan generasi muda yaitu sebagai berikut:
·         Kurang efektifnya pembinaan dari keluarga, sekolah maupun masyarakat tentang norma sopan santun yang terjadi dilingungan tersebut.
·         Kurangnya materi aplikasi tentang budi pekerti, seperti pada jaman sekarang banyak orang makan sambil berdiri pada saat pesta. itu menanadakan kurangnya partisispasi masyarakat terhadap kebudayaan sopan santun.
·         Pergaulan yang tidak baik dari teman sebayanya,karena masa remaja sangat lebih sering bergaul dengan teman sebayanya dan lebih mudah terpengaruh dengan hal yang dibawa oleh temannya.
·         Lemahnya mental generasi bangsa, sehinggan budaya barat yang dianggap kurang menghargai sopan santun dengan mudahnya seperti contoh gaya berbusana diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan.
·         Ingin mengikuti tren. Bisa saja awalnya para remaja merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar. Lalu kalau sudah mencoba merokok dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
·         Perkembangan teknologi, Menjamurnya penggunaan hp merubah karakter anak dari yang suka ngumpul-ngumpul menjadi lebih individu dan sibuk dengan mainan gadget terbarunya daripada berkomunikasi dengan orang-orang secara langsung.Kalaupun ada anak-anak muda yang berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya, terjadi komunikasi yang kurang komunikatif, karena berbicara dengan lawan bicaranya dengan sibuk memainkan HP atau gadgetnya.
·         Longgarnya pegangan terhadap agama, Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri
·         Dasarnya arus budaya materialistis, hedonistis (menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup) dan sekularistis (menghendaki agar kesusilaan atau budi pekerti tidak didasarkan pd ajaran agama).
·          Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. pemerintah yang diketahui memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa.
·         Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stress dan butuh tempat pelarian.


3.4  DAMPAK HILANGNYA KESOPANAN TERHADAP PSIKOLOGI SOSIAL
Adapun banyak sekali dampak yang ditimbulkan karena lunturnya norma sopan santun dikalangan remaja seperti contoh :
1.        Tidak adanya kenyamanan dalam diri individu karena keenjangan yang ditimbulkan oleh lunturnya adat sopan santun.
2.        Tidak adanya rasa aman karena tidak adanya rasa kesopanan.
3.        Proses imitasi,identifikasi,sugesti dan simpati tidak dapat berjalan dengan baik karena kurangnya sopan santun kepada orang lain.
4.        Kurangnya sikap in-group karena dikucilkan oleh berbagai pihak disebabakan tidak adanya sopan santun antar sesama. Akibatnya lebih sering melakukan kegiatan sendiri tidak bersama sama.
5.        Kurangnya sikap toleransi terhadap sesama karena masyarakat enggan berinteraksi dengan kepribadian yang tidan sopan.
6.        Menimbulkan adanya prasangka sosial oleh masyarakat disekitarnya.

3.5  SOLUSI CARA MENGATASI LUNTURNYA SOPAN SANTUN.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemuda atau generasi muda ataupun orangtua  untuk dapat terhindar dari lunturnya adat sopan santun, seperti :
1.        Menghindari salah pergaulan, harus pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral dan kepribadian seseorang.
2.         Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat berguna untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan, misalnya kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
3.        Mengikuti pembinaan moral dan akhlak, diharapkan, dengan bekal pembinaan moral dan akhlak yang baik dan kuat, nantinya tidak mudah terjerumus dipengaruhi hal yang negatif lagi.
4.        Meningkatkan iman dan takwa dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal.
5.        Melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif, seperti ikut dalam suatu perkumpulan rohani, pagelaran seni, serta olahraga, karena hal tersebut juga dapat meminimalkan untuk seorang anak terjun kedalam kegiatan-kegiatan yang sia-sia, semua jenis kegiatan rutin, selama kegiatan tersebut bersifat positif serta dapat juga untuk mengukir prestasi.
6.        Peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada sikap anak








































BAB IV
PENUTUP



A.    KESIMPULAN
Dengan terbinanya budi pekerti sejak dini, maka anak-anak dan remaja akan mempunyai budi pekerti yang kokoh. Mereka yang mempunyai budi pekerti yang kokoh akan mampu membedakan perilaku yang terpuji dengan perilaku yang menyimpang, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik. Pada akhirnya anak akan menjunjung tinggi moral dan berusaha untuk berbuat baik yang bermanfaat bagi orang lain.
Norma sopan santun sangat penting untuk diterapkan, terutama dalam bermasyarakat, karena norma ini sangat erat kaitannya terhadap masyarakat. Sekali saja ada pelanggaran terhadap norma kesopanan, pelanggar akan mendapat sanksi dari masyarakat, semisal cemoohan. kesopanan merupakan tuntutan dalam hidup bersama. Ada norma yang harus dipenuhi supaya diterima secara sosial.
diperlukan dengan sikap harga menghargai terhadap orang lain, sikap tenggang rasa dan sifat sabar. Oleh karena itu penanaman sikap sopan santun marilah di mulai dari keluarga kita, bagaimana kita menghargai orang tua, baik terhadap saudara-saudara, sehingga tercipta suatu masyarakat yang memiliki adat sopan santun yang tinggi. Jadi Sifat Sopan Santun sebagai Ciri Khas budaya Indonesia.

B.     SARAN
Peran orang tua sangat penting dalam pembentukan budi pekerti sorang anak. Maka dari itu sebagai orang tua harusnya mempunyai kebijakan terendiri terhadap perilaku anaknya seperti apabila anak melanggar norma-norma yang berlaku, orang tua perlu memberikan hukuman. Hukuman yang diberikan dimaksudkan agar anak sadar akan kesalahannya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari serta berhati-berhati dalam bertindak. Pemberian hukuman hendaknya mendidik. Artinya hukuman bukan sebagai balas dendam, tetapi hukuman menerapkan cara untuk memperbaiki diri.





















DAFTAR PUSTAKA



·      Gerungan, 2010. psikolog sosial.  bandung: Refika aditama.
·      Aryanto, fibri, 2012. “turunnya nilai kesopanan remaja karena pengaruh teknologi”.(http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/13/menurunnya-rasa-kesopanan-anak-muda-karena-pengaruh-teknologi-508789.html) diposkan pada 13 november 2012
·      Suwito, vivien anjadi. 2012. “Perkembangan Moral, Nilai, dan Agama Pada Masa Remaja”. (http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-moral-nilai-dan-agama-pada.html) diposkan pada 7 februari 2012
·      Purwanti, asri. 2014. “penumbuhan karakter sopan santun pada siswa”. (http://astipurwanti.blogspot.com/2014/09/penumbuhan-karakter-sopan-santun-pada.html) diposkan pada 16 september 2014.
·      Mahardhika, agnes. “Krisis Etika Sopan Santun Di Kalangan Anak-Anak dan Remaja” (http://agnessekar17.blogspot.com/2014/09/krisis-etika-sopan-santun-di-kalangan.html) diposkan pada 29 september 2014.


 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys