febria tri hidayati
Impian tidak akan menggerakan seseorang untuk maju, alasan kuat dibalik impian itulah yg menggerakannya..
febria tri hidayati
sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya..
febria tri hidayati
Saya hanyalah seorang manusia, tetapi saya adalah seseorang. Saya tidak dapat melakukan segalanya, tetapi saya dapat melakukan sesuatu. Saya tidak akan menolak melakukan sesuatu yang dapat saya lakukan. (Helen Keller).
Minggu, 24 Mei 2015
PENGHAYATAN NORMA SOPAN SANTUN PADA REMAJA
silahkan dbaca-baca dan semoga dapat bermanfaat yaa ...
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Sopan santun atau budi pekerti sebagai
salah satu bukti manusia yang beradab. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya
harus menjunjung tinggi etika sopan santun.
Melihat perkembangan anak-anak dewasa ini
terutama yang berusia 9-16 tahun. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan dalam
bersopan santun, jarang keluar dari mulutnya untuk mengucapkan permisi jika mau
lewat., atau membungkukan badan kepada orang dewasa. Ini bukan hanya terjadi di
perkotaan saja tetapi di pedesaan pun sudah mulai terjadi. Padahal tidak
sedikit sekolah ataupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang berdiri
mengajarkan etika sopan santun, namun kenyataan etika sopan santun makin
menurun.
Seiring dengan perkembangan zaman, tingkah
laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang
yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan. Datangnya
kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa
Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin
pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar
negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya
kesopanan.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
Dari
latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
pengertian dari sopan santun (kesopanan) atau rasa hormat ?
2. Apa
aja macam-macam sopan santun ?
3. Apa
saja faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai kesopanan dikalangan remaja ?
4. Apa
saja dampak yang ditimbulkan terhadap psikologi sosial?
5. Bagaimana
cara atau solusi mengatasi lunturnya kesopanan dikalangan remaja ?
1.3 TUJUAN
Dari
rumusan masalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Diharapkan
mahasiswa dapat mengetahui definisi dari sopan santun atau rasa hormat.
2. Mahasiswa
mengatahui apa aja macam-macam sopan satun.
3. Mahasiswa
diharapkamn mengetahui faktor apa saja yang memepengaruhi perkembangan nilai
kesopanan dikalangan remaja.
4. Mahasiswa
diharapkan mengetahui dampak yang ditimbulkan terhadap psikologi sosialnya.
5. Diharapkan
mahasiswa menegtahui solusi cara mengatasi lunturnya kesopanan dikalangan
remaja dan menerapannya pada diri sendiri.
BAB
II
PERMASALAHAN
Dalam
kehidupan sehari-hari sopan santun sangatlah penting untuk dijunjung karena
manusia sebagai makhluk yang berbudaya harus menjunjung tinggi etika sopan
santun. Pada masa yang modern, di era globalisasi ini banyaklah
perubahan-perubahan yang berpengaruh juga pada akhlak sopan santun anak maupun
remaja yang semakin berkurang diakibatkan oleh adanya alat-alat komunikasi yang
sangat mudah didapat, contohnya internet yang dapat di akses seluruh dunia.
Sehingga adanya perubahan ataupun turunnya sopan santun dikarenakan pengaruh
budaya luar dan pergaulan pada kehidupan sehari-hari.
Sikap
sopan santun atau hormat yang merupakan budaya leluhur kita dewasa ini telah
dilupakan oleh sebagian orang. Sikap sopan santun yang sangat menjunjung tinggi
nilai-nilai hormat menghormati sesama, yang muda menghormati yang tua, dan yang
tua menghargai yang muda tidak lagi kelihatan dalam kehidupan yang serba modern
ini. Tidak
terpeliharanya sikap sopan dan santun ini dapat berdampak negatif terhadap
budaya bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi
nilai-nilai moral dan kehidupan yang beradab.
Secara
tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati
diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar
yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kita perhatikan sejak kita
masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih
banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama,
tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan
sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan
bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk
menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat
menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan
bangsa yang berbudaya, namun bangsa ini kini telah kehilangan jati dirinya.
Bangsa yang dulu hebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya.
Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.
Secara
kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan
membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan
kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di
luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa
ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain.
Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia
terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
BAB
III
PEMBAHASAN
MASALAH
3.1
PENGERTIAN NORMA SOPAN SANTUN (RASA HORMAT)
Sopan santun adalah suatu sikap atau tingkah laku yang
ramah terhadap orang lain, terhadap apa yang ia lihat, ia rasakan, dan dalam
situasi, kondisi apapun. Dalam budaya jawa sikap sopan salah satu nya ditandai
dengan perilaku menghormati kepada orang yang lebih tua, menggunakan bahasa
yang sopan, tidak memiliki sifat yang sombong. Memang tidak mudah untuk
menerapkan sopan santun pada diri kita sendiri, tetapi jika orangtua kita
berhasil mengajarkan sopan santun sejak kecil maka kita akan tumbuh menjadi seseorang
yang bisa menghormati dan menghargai orang lain. Kita dapat menunjukan sikap
sopan santun dimana saja, misalnya kita sebagai mahasiswa harus sopan terhadap
dosen.
Sedangkan rasa hormat berarti menunjukkan penghargaan
kita terhadap harga diri orang lain ataupun hal lain selain diri kita. Lickona
(2013:70) “penghormatan terhadap orang lain mengharuskan kita untuk
memperlakukan semua orang bahkan orang yang kita benci sebagai manusia
yang memiliki nilai tinggi dan memiliki
hal yang sama dengan kita sebagai individu”. Kesopanan juga merupakan bentuk
lain dari penghormatan terhadap orang lain.
Menurut kelompok kami sopan santun itu adalah sikap
seseorang terhadap apa yang ia lihat, ia rasakan, dan dalam situasi, kondisi
apapun.
Jadi norma sopan santun adalah peraturan hidup yang
timbul dari hasil pergaulan sekelompok itu. Norma kesopanan bersifat relatif,
artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai
tempat, lingkungan, atau waktu.
2.2 MACAM-MACAM SOPAN SANTUN
a. Kesopanan
Berbahasa
Bahasa menunjukan bangsa, di dalam ilmu
komunikasi bahasa merupakan alat komunikasi penting yang menjembatani seseorang
dengan orang lainnya. Santun bahasa menunjukan bagaimana seseorang melakukan
interaksi sosial dalam kehidupannya secara lisan. Setiap orang harus menjaga
santun bahasa agar komunikasi dan interaksi dapat berjalan baik. Bahasa yang
dipergunakan dalam sebuah komunikasi sangat menetukan keberhasilan pembicaraan
(Kuraesin, 1975:6).
Kesantunan berbahasa tercermin dalam
tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika
berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar
menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan
unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya
suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tida
sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif,
misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak
beradat, bahkan tidak berbudaya.
Tatacara berbahasa seseorang diengaruhi
norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara
berbahasa orang Inggris berbeda dengan tatacara berbahasa orang Amerika
meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. Begitu juga, tatacara berbahasa
orang Jawa bebeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka
sama-sama berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah
mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah
sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau
di samping mempelajari bahasa. Sebab, tatacara berbahasa yang mengikuti
norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa.
Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah
memperlancar komunikasi. Oleh karena itu,pemakaian bahasa yang sengaja
dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang
sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan
ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat
Indonesia karena terbawa oleh budaya "tidak terus terang" dan
menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika
penutur tidak bermaksud mengaburka komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara
tidak tahu apa yang dimaksudkannya.
b. Sopan
Santun Berperilaku
Santun adalah satu kata sederhana yang
memiliki arti banyak dan dalam, berisi nilai-nilai positif yang dicerminkan
dalam perilaku dan perbuatan positif. “Perilaku positif lebih dikenal dengan
santun yang dapat diimplementasikan pada cara berbicara, cara berpakaian, cara
memperlakukan orang lain, cara mengekspresikan diri dimanapun dan kapan pun”
(Chazawi, 2007:12). Santun yang tercermin dalaman perilaku bangsa Indonesia ini
tidak tumbuh dengan sendirinya namung juga merupakan suatu proses yang tidak
bisa dilepaskan dari sejarah bangsa yang luhur.
2.3 FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOPAN SANTUN DIKALANGAN REMAJA
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
anak berperilaku demikian, diantaranya : lingkungan keluarga, lingkungan
sebaya, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat.
1.
Lingkungan keluarga
Menurut
Ki Hajar Dewantara, keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Lingkungan
keluarga memang peranan penting dalam pembentukan budi pekerti anak. Karena
keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan yang utama bagi anak.
Anak pertama kali mendapat pendidikan budi pekerti dari kedua orang tuanya.
Begitu juga keluarga dikatakan utama, mengingat keluarga merupakan dasar atau
pondamen bagi pendidikan budi pekerti selanjutnya. Jika orang tua menginginkan
anaknya menjadi orang yang baik dan berguna di kemudian hari, maka jadikanlah
keluarga sebagai lingkungan yang paling baik bagi anak.
2.
Lingkungan sebaya (teman sebaya)
Teman
sebaya turut ambil dalam pembentukan budi pekerti anak, karena sering bergaul
dengan temannya, sedikit demi sedikit anak akan terpengaruh oleh perilaku teman
sebayanya. Teman atau orang terdekat biasanya memiliki suatu
paham dan sifat yang hamper sama satu sama lainnya. Dalam pertemanan biasanya
mudah untuk saling memahami dan memberikan penanaman suatu paham ke teman
lainnya dan orang tersebut akan menganggap suatu paham yang ditanam padanya
adalah benar. Ini dikarenakan dalam pertemanan mereka akan saling mempercayai
satu sama lainnya.
Misalnya
: si A berjalan didepan orang yang lebih tua yang sedang duduk tanpa member
hormat (membungkuk sedikit), lalu teman terdekatnya yang melihat itu mengatakan
bahwa hal tersebut tidak baik untuk dilakukan dan merupakan hal yang tidak
sopan. Seharusnya kita melewati orang yang lebih tua, sebaiknya membungkuk
sedikit (member hormat kepada yang lebih tua). Sehingga setelah diberikan
pemahaman, si A mengerti dam melakukan apa yang dikatakan temannya tersebut.
Pada
masa remaja, seseorang akan lebih percaya atau memiliki hubungan yang lebih
dekat dengan temannya dibandingkan hubungan dengan keluarganya. Mereka lebih
sering bersosialisai dengan temannya sehingga penanaman nilai akan mudah
terserap dan ditanam pada diri remaja tersebut.
3.
Lingkungan pendidikan
Pendidikan
menurut Ki Hajar Dewantara adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuh
kembangnya budi pekerti (intelektual) dan untuk memajukan kehidupan peserta
didik.
Dengan
dimasukannya anak dalam lingkungan pendidikan, para orang tua berharap agar
anaknya menjadi cerdas, pandai dan berbudi pekerti yang baik. Hal ini sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional secara mikro yaitu membentuk manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, beretika (beradab dan
berwawasan budaya) memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan
bertanggung jawab),
berkemampuan
komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, serta
demokratis), dan berbadan sehat hingga menjadi manusia mandiri.
4.
Lingkungan masyarakat
Kenyamanan
dalam bertempat tinggal memiliki peran yang besar dalam pembentukan individu. Remaja
yang memiliki potensi tersosialisasi baik akan pandai berteman dan memiliki
tenggang rasa yang kuat. Hal ini didukung oleh lingkungan yang mendukung pula.
Maka akan terwujud nilai kesejaheraan yang baik. Bagi remaja hal ini akan
berguna untuk mewujudkan rasa percaya diri dan bersosialisasi yang baik kepada
masyarakat.
Dalam
lingkungan ini terdapat berbagai macam unsur lapisan dan komponen serta peran
yang berbeda-beda. Termasuk di dalamnya peran para tokoh, baik pemuka agama,
pemuka adat, maupun tokoh masyarakat yang berkompeten lainya yang dapat
dikatakan sebagai orang tua.
Identifikasi
dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Maksudnya mengikuti sikap
dan prilaku yang dianggapnya sebagai idola. Hubungan anak dengan orangtuanya. Jika
tokoh masyarakat ini peduli kepada generasi muda, maka tokoh ini akan ikut
andil dalam memberikan pendidikan pada kaum muda. Pendidikan itu dapat berupa
keteladanan dari sikap dan perilaku yang baik, memberikan masukan, teguran,
kritik mapun saran-saran yang membangun.
Dengan
seringnya berkomunikasi, maka anak akan ketularan baik dari orang yang berbudi
pekerti luhur.
5.
Teknologi
Pengaruh
dari kecanggihan teknologi juga memiliki pengaruh kuat terhadap terwujudnya
suatu nilai sopan santun. Di era sekarang, remaja banyak menggunakan teknologi
untuk belajar maupun hiburan. Contoh : internet memiliki fasilitas yang
menwarkan berbagai informasi yang dapat diakses secara langsung.
bisa kita lihat menurunnya sikap
kesopanan anak muda sekarang dengan lawan bicaranya sepertinya kurang
menghargai lawan bicara sibuk dengan aktifitasnya lewat facebookan atau
twitteran atau sms-an. Dan di Facebook ataupun di twitter, anak-anak muda
bahkan tidak jarang orang-orang yang lebih tua tidak pandai menjaga dirinya di
dalam membuat status.Status yang dibuat terkadang dengan bahasa kasar dan tidak
pantas dibaca. Sungguh memalukan, jikalau status dengan kata-kata kasar dibuat
oleh orang-orang yang mengenal bangku pendidikan. Di dunia nyata, ternyata rasa
kesopanan di kalangan anak remaja mengalami penurunan seperti tidak mau menyapa
gurunya ketika bertemu di luar sekolah.
Nilai positifnya, ketika remaja atau siswa mencari
bahan pelajaran yang mereka butuhkan mereka dapat mengaksesnya dari internet.
Namun internet juga memiliki nilai negative seperti tersedianya situs porno
yang dapat merusak moral remaja. Apalagi pada masa remaja memiliki rasa
keingintahuan yang besar dan sangat rentan terhadap informasi seperti itu.
Mereka belum bisa mengolah pikiran secara matang yang akhirnya akan menimbulkan
berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan dan hamil di luar nikah/hamil
usia dini.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan lunturnya opan
santun dikalangan generasi muda yaitu sebagai berikut:
·
Kurang efektifnya pembinaan dari keluarga, sekolah
maupun masyarakat tentang norma sopan santun yang terjadi dilingungan tersebut.
·
Kurangnya materi aplikasi tentang budi pekerti,
seperti pada jaman sekarang banyak orang makan sambil berdiri pada saat pesta.
itu menanadakan kurangnya partisispasi masyarakat terhadap kebudayaan sopan
santun.
·
Pergaulan yang tidak baik dari teman sebayanya,karena
masa remaja sangat lebih sering bergaul dengan teman sebayanya dan lebih mudah
terpengaruh dengan hal yang dibawa oleh temannya.
·
Lemahnya mental generasi bangsa, sehinggan budaya
barat yang dianggap kurang menghargai sopan santun dengan mudahnya seperti
contoh gaya berbusana diluar negeri orang yang berpakaian
bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat
tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan.
·
Ingin mengikuti tren. Bisa saja awalnya para remaja
merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar.
Lalu kalau sudah mencoba merokok dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya
seperti narkoba dan seks bebas.
·
Perkembangan teknologi, Menjamurnya penggunaan hp
merubah karakter anak dari yang suka ngumpul-ngumpul menjadi lebih individu dan
sibuk dengan mainan gadget terbarunya daripada berkomunikasi dengan orang-orang
secara langsung.Kalaupun ada anak-anak muda yang berkomunikasi secara langsung
dengan orang-orang di sekitarnya, terjadi komunikasi yang kurang komunikatif,
karena berbicara dengan lawan bicaranya dengan sibuk memainkan HP atau
gadgetnya.
·
Longgarnya pegangan terhadap agama, Dengan
longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan
pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas
dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan
peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan
dari dalam diri sendiri
·
Dasarnya arus budaya materialistis, hedonistis
(menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup) dan
sekularistis (menghendaki agar kesusilaan atau budi pekerti tidak didasarkan pd
ajaran agama).
·
Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari
pemerintah. pemerintah yang diketahui memiliki kekuasaan (power), uang,
teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan
kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa.
·
Himpitan ekonomi yang membuat para
remaja stress dan butuh tempat pelarian.
3.4 DAMPAK HILANGNYA KESOPANAN TERHADAP PSIKOLOGI
SOSIAL
Adapun
banyak sekali dampak yang ditimbulkan karena lunturnya norma sopan santun
dikalangan remaja seperti contoh :
1.
Tidak adanya kenyamanan dalam diri
individu karena keenjangan yang ditimbulkan oleh lunturnya adat sopan santun.
2.
Tidak adanya rasa aman karena tidak
adanya rasa kesopanan.
3.
Proses imitasi,identifikasi,sugesti dan
simpati tidak dapat berjalan dengan baik karena kurangnya sopan santun kepada
orang lain.
4.
Kurangnya sikap in-group karena
dikucilkan oleh berbagai pihak disebabakan tidak adanya sopan santun antar
sesama. Akibatnya lebih sering melakukan kegiatan sendiri tidak bersama sama.
5.
Kurangnya sikap toleransi terhadap
sesama karena masyarakat enggan berinteraksi dengan kepribadian yang tidan
sopan.
6.
Menimbulkan adanya prasangka sosial oleh
masyarakat disekitarnya.
3.5 SOLUSI CARA MENGATASI LUNTURNYA SOPAN SANTUN.
Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemuda atau generasi muda ataupun
orangtua untuk dapat terhindar dari
lunturnya adat sopan santun, seperti :
1.
Menghindari salah pergaulan, harus
pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat
berpengaruh terhadap etika, moral dan kepribadian seseorang.
2.
Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat
berguna untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan, misalnya kebiasaan
merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok meningkatkan
kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi kesehatan,
merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif maupun
pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya sendiri,
melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
3.
Mengikuti pembinaan moral dan akhlak,
diharapkan, dengan bekal pembinaan moral dan akhlak yang baik dan kuat,
nantinya tidak mudah terjerumus dipengaruhi hal yang negatif lagi.
4.
Meningkatkan iman dan takwa dengan cara
bersyukur, bersabar, dan beramal.
5.
Melakukan kegiatan-kegiatan yang
sifatnya positif, seperti ikut dalam suatu perkumpulan rohani, pagelaran seni,
serta olahraga, karena hal tersebut juga dapat meminimalkan untuk seorang anak
terjun kedalam kegiatan-kegiatan yang sia-sia, semua jenis kegiatan rutin,
selama kegiatan tersebut bersifat positif serta dapat juga untuk mengukir
prestasi.
6.
Peran orang tua sangat penting dalam
pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan agama
sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada banyak
kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada sikap
anak
BAB
IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dengan
terbinanya budi pekerti sejak dini, maka anak-anak dan remaja akan mempunyai
budi pekerti yang kokoh. Mereka yang mempunyai budi pekerti yang kokoh akan
mampu membedakan perilaku yang terpuji dengan perilaku yang menyimpang,
sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik. Pada
akhirnya anak akan menjunjung tinggi moral dan berusaha untuk berbuat baik yang
bermanfaat bagi orang lain.
Norma sopan santun
sangat penting untuk diterapkan, terutama dalam bermasyarakat, karena norma ini
sangat erat kaitannya terhadap masyarakat. Sekali saja ada pelanggaran terhadap
norma kesopanan, pelanggar akan mendapat sanksi dari masyarakat, semisal
cemoohan. kesopanan merupakan tuntutan dalam hidup bersama. Ada norma yang
harus dipenuhi supaya diterima secara sosial.
diperlukan dengan sikap
harga menghargai terhadap orang lain, sikap tenggang rasa dan sifat sabar. Oleh
karena itu penanaman sikap sopan santun marilah di mulai dari keluarga kita,
bagaimana kita menghargai orang tua, baik terhadap saudara-saudara, sehingga
tercipta suatu masyarakat yang memiliki adat sopan santun yang tinggi. Jadi
Sifat Sopan Santun sebagai Ciri Khas budaya Indonesia.
B. SARAN
Peran
orang tua sangat penting dalam pembentukan budi pekerti sorang anak. Maka dari
itu sebagai orang tua harusnya mempunyai kebijakan terendiri terhadap perilaku
anaknya seperti apabila anak melanggar norma-norma yang berlaku, orang tua
perlu memberikan hukuman. Hukuman yang diberikan dimaksudkan agar anak sadar
akan kesalahannya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari
serta berhati-berhati dalam bertindak. Pemberian hukuman hendaknya mendidik.
Artinya hukuman bukan sebagai balas dendam, tetapi hukuman menerapkan cara
untuk memperbaiki diri.
DAFTAR
PUSTAKA
· Gerungan,
2010. psikolog sosial. bandung: Refika aditama.
· Aryanto,
fibri, 2012. “turunnya nilai kesopanan
remaja karena pengaruh teknologi”.(http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/13/menurunnya-rasa-kesopanan-anak-muda-karena-pengaruh-teknologi-508789.html) diposkan pada 13
november 2012
·
Suwito,
vivien anjadi. 2012. “Perkembangan Moral, Nilai, dan Agama Pada Masa
Remaja”. (http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-moral-nilai-dan-agama-pada.html)
diposkan pada 7 februari 2012
· Purwanti,
asri. 2014. “penumbuhan karakter sopan santun pada siswa”. (http://astipurwanti.blogspot.com/2014/09/penumbuhan-karakter-sopan-santun-pada.html) diposkan pada 16 september 2014.
· Mahardhika,
agnes. “Krisis
Etika Sopan Santun Di Kalangan Anak-Anak dan Remaja” (http://agnessekar17.blogspot.com/2014/09/krisis-etika-sopan-santun-di-kalangan.html) diposkan pada 29 september 2014.





00.54
Unknown